Rabu, 04 Januari 2012

Memperkirakan Hubungan Candi Ceto, Piramid Gunung Padang dan Candi Suku Maya





CANDI CETO/IST


Terletak di ketinggian 1.400 mdpl di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Candi Ceto dapat dicapai dengan kendaraan melewati jalanan beraspal yang sangat terjal dan curam hingga kemiringan 45 derajat.

“Disebut Ceto atau kelihatan karena dari atas candi ini kita bisa memandang luas ke segala arah memperhatikan panorama yang indah dan dapat menyaksikan matahari tenggelam disore hari,” ujar GRA Koes Triniyah, salah seorang putri Sri Susuhan Pakubuwana XII kepada Rakyat Merdeka Online beberapa waktu yang lalu.


Bentuk Candi Ceto ini memiliki kemiripan dengan bangunan peninggalan suku Maya di Amerika Tengah. Keduanya berbentuk punden berundak dan piramidal atau mengkerucut ke atas. Keduanya juga dibangun di pebukitan atau kawasan yang lebih tinggi dari sekitarnya.


Bentuk Candi Ceto juga tampak mirip dengan rekaan bentuk bangunan yang diperkirakan tertimbun di bawah situs megalitikum di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Tim peneliti yang terdiri dari sejumlah ahli lintas disiplin kini sedang mengeskavasi Gunung Padang untuk menjawab pertanyaan apakah benar di bawahnya terdapat sebuah bangunan berusia hingga 10 ribu tahun.



Dalam beberapa catatan disebutkan bahwa Candi Ceto adalah peninggalan dari jaman Majapahit yakni abad ke 15. Bila melihat dari bentuk gapura yang banyak ditemui di Jawa Timur tampaknya catatan itu benar belaka. Namun bila kita memperhatikan kembali kemiripan Candi Ceto dengan bangunan-bangunan peninggalan Suku Maya, bisa saja kita lantas curiga Candi Ceto berusia jauh lebih tua.

Relief yang ada di diding Candi Ceto berbeda dengan relief di candi-candi peninggalan Majapahit lainnya. Gambar manusia pada relief di Candi Ceto itu, misalnya, tidak tampak sama dengan gambar orang pada relief yang ada di candi-candi lain. Patung di Candi Ceto juga tampak berbeda dengan patung di candi-candi lain dari jaman Majapahit.


Kini kompleks Candi Ceto digunakan umat Hindu sebagai tempat pemujaan dan populer sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut agama asli Jawa atau Kejawen.

Situs megalitikum Gunung Padang pun demikian. Masyarakat setempat pun percaya bahwa Gunung Padang adalah tempat pertapaan di jaman Prabu Siliwangi.

Bila melihat reruntuhan Situs Gunung Padang dengan batu-batu persegi panjang dengan cap senjata tradisional Kujang di salah satu sisinya, bisa jadi Kerajaan Siliwangi membangun ulang tempat ini tepat di atas bangunan yang telah tertutup dengan tanah dan rerumputan.


Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Andi Arief telah melakukan serangakaian penelitian yang menggunaan teknologi tinggi untuk mendapatkan citra di bawah permukaan tanah. Hasilnya, ditemukan citra benda atau bangunan yang begitu besar di bawah Gunung Padang. Tim ini pun telah menlakukan pengeboran untuk menguji lapisan tanah di bawahnya.



Penelitian awal tim inilah yang kemudian menginisiasi pekerjaan lebih besar yang melibatkan loebih banyak instansi negara untuk mengungkap rahasia Gunung Padang.


Bila permukaan tanah di Gunung Padang diketuk-ketuk dapat dirasakan ada rongga atau ruang di bawah situs megalitikum itu.


“Prabu Siliwangi dipercaya mempunyai kesaktian, maka dia bisa melihat energi di Gunung Padang sangat baik untuk dibangun sebagai tempat pemujaan dan tempat olah spiritual,” ujar pengamat spiritual Kanjeng Hartantoro.


Gambar rekaan “piramida” Gunung Padang yang dibuat Tim Bencana Katastropik Purba memperlihatkan bahwa bangunan itu memiliki bentuk yang kurang lebih sama dengan Candi Ceto atau bangunan peninggalan suku Maya. Bila ketiganya memiliki bentuk yang sama, apakah mungkin ketiganya memiliki hubungan?
Teka-teki ini tentu baru dapat terjawab bila eskavasi Gunung Padang selesai dilakukan.
[guh]


Dar Edi Yoga


www.lintas-copas.blogspot.com