Rabu, 18 Januari 2012

Mereview Sejarah NU dan Muhammadiyah


Mengapa organisasi NU (Nahdhatul Ulama’) itu lebih cenderung mengurusi orang yang mati atau tidak jauh-jauh dengan kuburan? Hemat saya, bila melihat sejarah dari lahirnya organisasi ini adalah ketika adanya komite Hijaz, yakni ada utusan dari Indonesia (diantaranya KH. Raden Asnawi Kudus) untuk terbang ke Makkah, yang mana tujuannya adalah untuk menolak aksi rencana kelompok Wahabi yang hendak menghancurkan situs sejarah Islam maupun pra islam, termasuk juga membongkar makam Rasulullah SAW. mengingat banyaknya –anggapan dia– bahwa makam tersebut dijadikan tempat memuja, syirik, dan bid’ah.
maka sangat wajar apabila NU ini identik dengan “ritual” semacam, haul, istighosah, manaqiban, mitong dino, nyewu, de el..el.. karena sejarahnya seperti itu. komite hijaz; ngurusi kuburan.

Beda lagi dengan Muhammadiyah. yang mana pada waktu itu, KH. A. Dahlan (sang pendiri) pada kondisi sosiologis masyarakat sekitar, banyak yang menghardik anak yatim dan membiarkan orang miskin. disinilah kemukjizatan yang beliau ajarkan, dalam ayat terakhir dari surat al-ma’un (QS.107 1-3). itu sering beliau ulang-ulang dalam setiap pengajian. ada muridnya yang bertanya. “mbah, padahal ayat ini kan sudah khatam kemarin? mengapa di ulang-ulang terus? kemudian beliau menjawab; “apakah kamu sudah menyantuni anak-anak yatim dengan baik? apakah kamu sudah memberikan makan dan ikut ngopeni orang miskin?” belum, kan?” (kurang lebih seperti itu). Maka sangat wajar saja, apabila organisasi Muhammadiyah ini lebih “mentereng” dan tidak jaun-jauh dengan Rumah sakit–yang ada dimana-mana–itu dan lembaga-lembaga panti asuhan, anak yatim piatu. Kedua organisasi besar itu merupakan warisan agung oleh bangsa Indonesia, keduanya sesama pengampu ilmu dari makkah, keduanya, sama-sama ‘alim. dialah: KH. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Dahlan.

Lebih-lebih, sangat bangga, kalau saya pribadi menjadi orang NU, karena sistem keanggotanya adalah “abadi”. mulai dari lahir saja, ada istilah mitoni (7 bulan dalam kandungan), ketika meninggal pun demikian, masih di do’akan. di tahlili, dikirimi surat Yasin, di Khol i. dan lain-lain. dengan demikian. mari kita lestarikan tradisi “an” itu. Dan pastinya, tidak hanya sekedar dibaca, tetapi, juga direnungkan dan di tadabburi maknanya. itu lebih berkah. menurut saya. Wallaahhu A’lam.

Muhammad Autad

www.lintas-copas.blogspot.com