Kamis, 02 Februari 2012

Sepanjang Jalan


Kasih ibu sepanjang jalan, begitu peribahasa menyebutkan. Banyak sudah kisah tentang ibu dituliskan. Namun, ijinkan aku menulis satu kisah mengharukan, yang kutemui dalam perjalanan dari Tangerang menuju Kebumen saat mudik lebaran kemarin.

Awalnya aku tidak begitu memperhatikan ibu dan dua orang anak perempuannya ini. Bertiga, mereka duduk di bangku untuk dua penumpang, sebelah kiri, satu deret di depanku. Seperti sebagian besar penumpang lainnya, mereka lebih banyak diam, ‘menikmati’ panasnya perjalanan siang hari dengan bus ekonomi yang penuh sesak dengan sepuluh orang penumpang tambahan.

Memasuki kawasan Nagrek, kekhawatiran setiap pemudik akan kemacetan mulai jadi kenyataan. Laju bus yang semula kencang, mulai melambat hingga akhirnya tersendat-sendat. Di sinilah kisah mengharukan ini dimulai.

Si bungsu yang tak pernah turun dari pangkuan sang ibu, tiba-tiba menangis. Tak banyak yang tahu, mengapa bocah berusia tiga tahun itu menangis bahkan sesekali menjerit, berontak. Sebagian besar mengira sang bocah mulai tak betah dengan hawa di dalam bus yang panas dan pengap, ditambah lagi macet yang tak jelas ujung pangkalnya. Hanya beberapa penumpang terdekat, termasuk aku, yang tahu bahwa sebenarnya tangis sang bocah lebih dari sekedar tidak betah, panas dan pengap. Dari ayah sang bocah yang duduk terpisah, tepat di depanku, aku tahu bahwa bocah bertubuh kecil kerempeng itu ingin BAB. Meski memakai diapers, rupanya sang bocah tidak cukup cuek untuk menyelesaikan hajatnya di sana. Satu yang ia inginkan adalah bus segera berhenti dan ia bisa menyelesaikan urusannya di kamar mandi, sebagaimana biasanya.

Lima menit, sepuluh menit hingga satu jam lebih, tangis sang bocah tak juga berhenti. Sesekali mereda namun tak lama kemudian menangis lagi. Berbagai upaya untuk mengalihkan perhatian telah dilakukan kedua orang tua sang bocah, tapi rasa mulas di perutnya tak bisa diajak berkompromi. Dengan logikanya, sang ayah menolak saran istrinya untuk meminta sopir bus menepi sebentar agar putri bungsu mereka segera terbebas dari deritanya. Tidak mungkin sopir menghentikan busnya di jalan yang sempit berkelok juga menanjak, terlebih situasinya sedang macet. Sengaja menghentikan kendaraan jelas akan memancing emosi polisi yang telah berhari-hari menahan diri, mengurai kemacetan. Juga mengundang kemarahan pengendara lain yang antri di belakang, dan tentu saja memperparah kemacetan.

Tapi naluri ibu sang bocah berkata sebaliknya. Demi anak, tak ada yang tak mungkin. Apapun akan ia lakukan untuk buah hatinya. Ia akan tetap mencoba sekecil apapun kemungkinan, dengan atau tanpa suaminya. Maka dengan menggendong sang bocah, perempuan setengah baya itu membelah penumpang tambahan yang berdesakan di lorong bus untuk meminta tolong pada supir agar berkenan menepikan busnya. Tak apalah di sela-sela pepohonan, yang penting buah hatinya bisa menyelesaikan 'urusannya'. Seperti alasan yang disampaikan sang suami, sopir bus menolak permintaan ibu sang bocah. Meski laju kendaraan tersendat-sendat, tapi sengaja berhenti di tengah kemacetan bukanlah pilihan yang tepat.

Gagal ‘merayu’ sopir, ibu dan bocah malang itu kembali ke tempat duduknya. Berbagai upaya mengalihkan perhatian sang bocah kembali dilakukan namun tak banyak membawa perubahan. Saat ayahnya mendekat, sang bocah berontak. Begitupun ketika kakaknya berusaha menghibur, sang bocah malah menjerit. Tinggalah sang ibu yang semakin repot karena sang bocah tak mau turun dari gendongan.

Entah karena rasa mulasnya mulai berkurang atau karena kecapekan, sang bocah akhirnya tertidur dalam gendongan ibunya. Sampai di sini, berhentikah ujian bagi sang ibu? Tidak. Demi buah hatinya, ia memberikan tempat duduknya untuk menidurkan sang bocah, sementara ia duduk di lantai bus, di sela-sela bangku yang sempit dan tentu saja pengap. Tangan kirinya tiada henti mengusap punggung sang bocah, sementara tangan kanannya terus menggerakan kipas bambu agar sang bocah dapat beristirahat dengan nyaman.

Sepenggal kisah yang kusaksikan dalam perjalanan ini sungguh menggetarkan, mengharukan. Demi buah hatinya, seorang ibu rela berkorban, melakukan apapun, termasuk mengabaikan logika untuk mengikuti nalurinya. Maka tiada salah peribahasa mengatakan, kasih ibu sepanjang jalan. Subhanallah! (eramuslim.com)

http://www.abisabila.com

www.lintas-copas.blogspot.com