Kamis, 01 Maret 2012

Rekonsiliasi ‘PKI’ Dapatkah Dilakukan?


Pada pagi buta, 1 Oktober 1965. Disaat demokrasi terpimpin telah menjerat masyarakat Indonesia. Lapisan awan dan udara semakin gelap gulita. Suasana benar-benar sangat mengerikan dan mengenaskan.
Melihat tayangan Mata Najwa di Metro TV pukul 22 Malam (05/01/12), terlihat Putra nomer satu di PKI, Ilham Aidit dengan mengatakan bahwa PKI itu salah. Namun perlakuan kepada keluarga eks-PKI selalu mendapatkan perlakuan diskriminasi ujar Ilham sang Putra Dipa Nusanatara Aidit.
Baiklah penulis akan menanggapi persoalan rekonsiliasi korban yang dinyatakan PKI maupun dituduh PKI. Kita harus melihat sudut pandang sejarah sebelum kejadian, apakah kita menyaksikan, membaca literature-literatur sejarah atau mendapatkan cerita dari orang-orang tua-tua kita bagaimana kekejaman PKI pada saat itu.
Rekonsialiasi menurut kamus besar bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka berarti “perbuatan memulihkan pada keadaan semula” atau “memberi memaafkan jalan bagi sesama”. Penulis, menyaksikan bahwa pemulihan korban PKI ke Komnas Ham itu adalah suatu hak keluarga eks-PKI. Berdasarkan data-data yang ada, misalnya; 1 oktober 1965 jalan, “sebagai hari kudeta jahanam”. Menjadi hal kontroversi antara pihak, masing-masing terbelah menjadi dua kubu.
Pemberentokan 1 Oktober 1965 dilakukan oleh gerakan gerombolan PKI untuk melakukan coup d’etat, membunuh para jendral, ulama dan segala kartu kebuka semua. Pihak lain, menjelaskan didalangi oleh CIA dan ABRI untuk meraih mahligai kekuasaan. Namun harus diperhatikan poros Jakarta sampai Peking itu adalah tafsir gamlang hubungan kedekatan PKI dan Peking Cina. (K.H. Isa Anshary; Pembinaan Generasi Muda pada Masa Orba; 1967).
Maka kita kembali pada perpekstif history 1946 di Cirebon yang dipimpin oleh Muhammad Joesoep sasarannya Markas Divisi II Cirebon. Serangan tersebut menggunakan lasjkar Pemuda Sosialis Indonesia, Pesindo yang didatangkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Upaya kudeta PKI dan Lasjkar Merah Pesindo ini gagal hanya berusia 2 hari
Setelah datang Moeso dari Uni Soviet dan bergabung dengan Amir Sjarifoeddin melakukan kudeta yang dilakukan Moeso Cs, di Madiun fair 1948 dengan cara-cara kejam, membunuh, mendera membantai, mendapatkan acaman, intimidasi bagaikan manusia tak tahan pada siksaan neraka dunia. Apakah dengan perlakuan orang Komunis kepada orang yang beda pendapat harus melakukan kekejian, kemungkaran. Pasti, saja sebagaimana Komunis memerintah sebuah negara dalam waktu sekejap akan ada orang yang mati melayang.
Kadang kala kita sebagaimana bangsa Indonesia, mudah sekali menjadi bangsa pemaaf. Namun mudah lupa saja pada kejadian pemberontakan itu. Penulis , sebenarnya dapat menerima pintu maaf mereka, akan tetapi mereka harus minta maaf kepada anak-anak tokoh Masjumi dan Umat Islam. Sebagaimana, tokoh-tokoh Masjumi dianggap kontra-revolusioner dengan Bung Karno atas desakan PKI dan tokoh-tokoh Masjumi di masukan kepenjara. Dibuang ketempat pengasingan dalam waktu yang lama. Keluarganya tidak mendapatkan jaminan hidup, dibiarkan terlantar dalam kepapaan dan kesengsaraan.
Jika pemerintahan kolonial dahulu bersikap human terhadap orang politik yang diasingkan, mempersatukan mereka dengan keluarganya dan mendapat jaminan hidup dari pemerintah nasional yang dikuasai PKI hal demikian itu haram; tak ada.
Sudah saatnya bangsa Indonesia, menjadikan pemberontakan 1926-1948-1965 sebagai pembelajaran bagi kita untuk tidak terulang lagi, ibaratnya jangan sampai negeri ini masuk kelubang yang sama lubang yang penuh kubangan darah. Penulis ini tidak ada sentiment-perseorang dengan keluarga eks-PKI, walaupun itu adalah akibat ulah politik mereka. Penulis sengaja menggunakan bahasa dan kata sederhana agar mudah dicerna dan dipahami. Dengan tegas ketika Orde Baru memimpin semua keluarga eks-PKI diteror, diintimidasi, dilarang menjadi pegawai birokrasi, dikucilkan oleh masyarakat jelas itu adalah tindakan yang salah, bahwa didalam ajaran Islam tidak ada istilah dosa tururan, padahal anak-anak cucu-cucu PKI tidak mengerti kejadian itu, dan mereka waktu itu terlalu kecil untuk memahami kejadian itu.
Insafilah!
Semoga Allah Merahmati kita!
“Dan sesungguhnya telah Kami Muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna Atas kebanyakan makhluk yang telah Kami Ciptakan” (Al Qur’an surat Al Israa’ (17) ayat 70)
 Azmi Muhammad



www.lintas-copas.blogspot.com