Selasa, 15 Mei 2012

Menolong Orang adalah Menolong Diri Sendiri


Ji Yun (1724 – 1805, baca: ci yin), alias Xiao Lan, adalah seseorang yang terpelajar pada zaman Dinasti Qing, juga merupakan seorang sastrawan. Dalam karyanya “Catatan Harian Yue Wei Cao Tang” menulis kisah tentang seseorang yang tertolong karena telah menolong orang lain, yang hingga saat ini masih sangat bermakna untuk diresapi. Kisah tersebut adalah sebagai berikut:

Di kabupaten Xian (baca: sien) ada seseorang yang bermarga Shi (baca: she), orang-orang memanggilnya Pak Shi, dan tidak seorang pun yang mengingat nama lengkapnya. Pak Shi ini berjiwa besar dan lapang dada, juga bersifat jujur serta lurus, dan sangat membenci orang-orang hina yang berkelakuan tidak terpuji.

Suatu hari, dia baru saja hendak pulang ke rumah setelah habis berjudi, sesampainya di pusat kota, dia melihat ada satu keluarga yang penampilannya seperti orang dari desa: suami, istri, serta seorang anak yang masih kecil, tiga orang saling berpelukan, sambil menangis sedih.

Para tetangga di sekitar sana menjelaskan, dikarenakan mereka berhutang banyak kepada tengkulak, sang suami hendak menjual istrinya agar dapat melunasi hutang. Kedua suami istri ini sangat mengasihi satu sama lain, dan tidak rela untuk berpisah; selain itu anak mereka masih sangat kecil dan membutuhkan ASI, di ambang perpisahan ini, kesedihan yang amat sangat pun meliputi mereka sekeluarga.

Pak Shi bertanya, “Berapa hutang mereka?”. Tetangga menjawab, “30 keping emas.” Pak Shi bertanya lagi, “Istrinya akan dijual dengan harga berapa?” Tetangga menjawab, “Dihargai 50 keping emas, dijadikan istri muda oleh si pembeli.” Pak Shi pun bertanya lebih lanjut, “Masih bisa dibatalkan, dan ditebus kembali?”

Tetangga itu menjawab, “Surat perjanjian sudah ditulis, tapi emas belum diberikan, juga belum distempel cap jari, seharusnya masih dapat ditebus kembali.” Pak Shi langsung mengeluarkan 70 keping emas yang dia peroleh dari hasil berjudi, dan diserahkan pada sang suami, sambil berkata, “Saya berikan 30 keping emas ini kepada anda untuk melunasi hutang anda, dan 40 keping emas ini untuk modal kalian membuka usaha. Jangan menjual istri anda.”

Sang suami setelah memperoleh uang 70 keping emas ini, ia dan istrinya sangat berterima kasih pada Pak Shi. Kemudian Pak Shi diundang untuk makan malam bersama di rumahnya, disuguhi dengan masakan dan arak terbaik dan pelayanan yang hangat.

Di sela makan malam sang suami menggendong anak mereka dan mencari alasan meninggalkan Pak Shi berdua dengan istrinya, sambil memberikan kode pada istrinya dengan lirikan mata, yang maksudnya meminta istrinya “membalas kebaikan dengan tubuhnya”. Sang istri pun mengangguk tanda setuju.

Tak lama berselang sang istri mulai memberikan tanda-tanda pada Pak Shi, yang segera disadari oleh Pak Shi. Raut wajah Pak Shi mendadak berubah menjadi serius dan menghardik dengan penuh wibawa, “Saya dulu pernah menjadi perampok, kemudian saya berubah haluan dan menjadi petugas keamanan. Saya pernah membunuh orang tanpa pandang bulu.

Jika sekarang saya memanfaatkan kesempatan ini untuk menodai istri orang, berarti saya sungguh tidak berperikemanusiaan. Hal ini, tidak bisa saya lakukan!!!” Selesai berkata, Pak Shi langsung keluar meninggalkan rumah mereka.

Setengah bulan kemudian, tempat kediaman Pak Shi terbakar api di tengah malam. Saat itu bertepatan dengan berakhirnya masa panen musim gugur, setiap rumah di sekitar situ dipenuhi dengan padi dan hasil panen lain yang melimpah. Angin yang bertiup semakin cepat mengobarkan api sehingga meluas kemana-mana.

Pak Shi sekeluarga 3 orang, karena merasa tidak mungkin lagi menyelamatkan diri, ia hanya bisa pasrah dengan anak dan istrinya menunggu kematian. Mendadak mereka mendengar suara berbicara yang bergemuruh, “Cepat singkirkan nama keluarga Pak Shi dari daftar rumah-rumah yang harus dibakar itu, tidak boleh membakar rumah Pak Shi.” Menyusul kemudian suara yang menggelegar dari angkasa, tembok belakang rumah Pak Shi tiba-tiba roboh. Lengan kiri

Pak Shi menggendong istrinya, dan lengan kanan menggendong anaknya, menerobos keluar lewat lubang yang menganga di tembok, ibarat di punggungnya tumbuh sayap, dengan sekali lompatan Pak Shi berhasil meninggalkan rumah itu cukup jauh.

Setelah kebakaran tersebut reda, orang-orang mulai mendata kembali kerugian yang timbul, jumlah korban jiwa yang meninggal yang totalnya ternyata mencapai 90% dari seluruh penduduk desa itu. Pak Shi sekeluarga termasuk salah satu yang beruntung masih selamat dari tragedi itu.

Yang lebih aneh lagi, harta bendanya termasuk persediaan makanan mereka hasil panen yang melimpah tidak ada yang rusak sama sekali. Setelah tembok belakang rumahnya yang roboh itu diperbaiki lagi, rumahnya telah kembali seperti sedia kala.

Para tetangga Pak Shi, semuanya menangkupkan kedua telapak tangan mereka di depan dada (he shi), bersyukur atas keselamatan keluarga Lao Shi, dan berkata, “Dulu kami masih menertawakan anda adalah seorang yang bodoh, memberikan begitu saja 70 keping emas anda itu kepada orang yang sama sekali tidak anda kenal! Sungguh tak disangka, anda telah menyelamatkan nyawa anda sekeluarga, hanya dengan 70 keping emas! Anda harus berterima kasih kepada dewa atas perlindungan terhadap anda ini!”

Ji Yun juga menambahkan dalam bukunya, “Saya berpendapat, Pak Shi sekeluarga, sudah barang tentu akan mendapatkan perlindungan dari para dewa. Pahala dari memberikan emas ini, porsinya hanyalah 40% saja; akan tetapi, menolak menodai istri orang lain, pahalanya adalah 60%.”

Dari sini dapat kita simpulkan: menolong orang lain sesungguhnya adalah menolong diri sendiri, tidak menodai kaum wanita, menjaga dan mengekang diri, merupakan hal yang paling penting dalam hidup sebagai seorang manusia. Satu ucapan dari manusia didengarkan oleh Langit, satu kelakuan dari manusia diperhatikan oleh Langit.

Kebaikan dan kejahatan pasti akan ada balasannya, waktu pembalasan itu pasti akan tiba. (Liu Zhen/The Epoch Times)
Sumber : EraBaru


www.lintas-copas.blogspot.com