Minggu, 13 Mei 2012

Soegija Bukan Film Agama Katolik Namun Pluralisme Menjadi Kekuatan Bangsa {Must 1000}


Spoiler for Jangan Dibuka:

:sup::sup::sup::sup::sup::sup::sup::sup::sup::sup:


Spoiler for Jangan Dibuka II:

:iloveindonesias:iloveindonesias:iloveindonesias:i loveindonesias:iloveindonesias


SOEGIJA, merupakan film layar lebar teranyar garapan Sutradara Garin Nugroho, bersama Produser Djaduk Ferianto. Soegija mengangkat kisah kehidupan Monsinyur (Mgr.) Albertus Soegijapranata, orang pribumi pertama yang menjadi Uskup (pimpinan umat Katolik) di Indonesia.

Sisi kemanusiaan, multiculturalism dan kebhinekaan, yang belakangan seolah tergerus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, justru menjadi hal menonjol ditampilkan dalam film ini. Semasa hidupnya, Soegija selalu mengatakan, "Kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar."

Mengingat film Soegija bercerita tentang seorang tokoh umat Katolik, memang banyak orang sempat berpikir sarat aroma dakwah atau seputar dogma agama Katolik. Padahal, Soegija dikenal bukan saja karena tokoh Katolik, melainkan sebagai pahlawan nasional yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Termasuk memperjuangkan pengakuan luar negeri, sehingga Vatikan menjadi negara pertama mengakui kemerdekaan RI.

"Tentu, ini bukan film yang mengajari atau mendikte. Justru temanya sangat pas dalam konteks Indonesia saat ini yang kehilangan sosok pemimpin," ujar G. Djaduk Ferianto, yang menjadi Produser Film Soegija, dalam diskusi di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (26/04/2012).

Sebagai seorang pejuang kemerdekaan, tentu saja seting Film Soegija menampilkan banyak kisah-kisah pada periode pra kemerdekaan tahun 1940, hingga masa agresi ke dua 1949, yang ditafsirkan secara independen oleh Garin Nugroho sebagai sutradara. "Garin menggambarkan pemikiran Soegijapranata yang humanis," cetus Djaduk.

Mengambil lokasi syuting di Semarang dan Yogjakarta, Film Soegija pun sangat kental dengan nuansa musik lawas tradisonal Jawa, sebagai faktor penerawangan masa lalu, seperti lagu Kopi Susu, Zandvoort Aan De Zee, Langkahku, Pengabdian Yang Kau Pinta, Donga, Soedara Tua dan Lentera.

Pemilihan Nirwan Dewanto sebagai pemeran Soegija, dinilai bukan saja pas dan mampu menampilkan sosok dan kharakter sang uskup. Bahkan dengan nada hiperbolis, Djaduk mengistilahkan, "Justru melihat Soegijapranata itu mirip dengan Nirwan, bukan sebaliknya."

Film Soegija yang dimotori Puskat Pictures, Yogjakarta, termasuk kategori kolosal yang membutuhkan waktu produksi hingga tiga tahun dan melibatkan 2.275 orang, diantaranya pemain asal Belanda, Jepang, serta artis Olga Lydia dan Butet Kertarajasa.

Film yang direncanakan tayang di bioskop-bioskop tanah air mulai 7 Juni 2012, menghabiskan biaya sebesar 12 miliar rupiah. "Berkisah tentang tokoh Katolik, tetapi film Soegija bisa dinikmati seluruh masyarakat, karena lebih menonjolkan sisi kemanusiaan," tandas Garin Nugroho.(*d/che/ghu)
Sumber: matanews.com

Spoiler for PemberitahuanPenting:

:iloveindonesiasKalau 3 hari setelah tanggal 7 juni penonton tidak mencapai 1000 orang maka XXI akan drop dan tidak menayangkan lagi di bioskop jaringan XXI dan Para kita para generasi bangsa tidak bisa lagi menikmati film yang penuh pelajaran ini, oleh karena Para Romo tidak begitu mahir dalam bidang Promosi maka kita diharapkan dapat Menjadi Pewarta Kabar Gembira kehadiran film ini di tengah - tengah masyarakat:iloveindonesias


Spoiler for PemberitahuanPenting II:

:angelSemoga Kita Selalu Diberkati - Nya Pro Ecclesia Et Patria:angel