Senin, 08 Oktober 2012

Buya Hamka


1320778955297628725
Kuliah Subuh. Dua kata itu tak pernah hilang dari benak saya sejak 31 tahun yang lalu.

Ketika itu tahun 1980, saya baru duduk di bangku SMA. Ketika itu pula saya untuk pertama kalinya mendengar suara lembut, berkharisma, dan berwibawa dari salah satu stasiun radio di Kota Bandar Lampung. Suara itu adalah suara Buya Hamka. Ya, Buya Hamka dalam acara “Kuliah Subuh”.

Acara itu pada mulanya disiarkan oleh RRI Pusat Jakarta,kemudian beredar dalam bentuk kaset rekaman. Dari rekaman itu hampir semua stasiun radio swasta di setiap kota menyiarkan “Kuliah Subuh”-nya Buya Hamka.

Suara Buya Hamka yang lembut dan bening membuat kita enggan beranjak dari tempat duduk.Ingin terus dan terus mendengarkan sampai Kuliah Subuhnya selesai. Kuliah Subuh adalah mata acara tempat Buya Hamka menyampaikan ceramahnya tentang Islam, baik masalah fiqih, syariat, dan tassawuf.

Sekarang, setelah 30 tahun beliau wafat, di Bulan November ini, menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November nanti, Pemerintah RI memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Buya Hamka. Sesuatu yang sudah sepantasnya diberikan kepada beliau selaku tokoh nasional yang menguasai banyak bidang.

Buya Hamka dikenal sebagai wartawan, sastrawan, politikus sekaligus ulama. Buya Hamka salah satu tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya mengundurkan diri pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Salah satu penulis di blog http://www.averroes.or.id, menulis bahwa Buya Hamka memberikan banyak teladan kepada Indonesia sebagai bangsa di tengah-tengah realitas perbedaan yang ada. Sosok yang tangguh dan mau bersahabat dengan siapa saja yang memiliki kemanusiaan perlu dicontoh bukan hanya oleh mereka yang Muslim, melainkan siapa saja yang mengaku sebagai manusia Indonesia.

Sumbangsih pemikiran yang otentik dan kontekstual untuk kehidupan kebangsaan yang sehat itulah yang perlu digali dari sosok Buya Hamka. Menelusuri jejak-jejak pemikiran seharusnya memupuk keteladanan berpikir, bertindak dan berperilaku. Para elit politik, sosial, dan agama yang masih mengedepankan cara berpikir ”segolongan” seharusnya lebih banyak menimba pemikiran Buya Hamka.

Bangsa ini merindukan lahirnya buya-buya baru yang berani belajar dari kegagalan masa lampau dan menatap masa depan dengan landasan utama: kemanusiaan dan keadilan.

Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal.

Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.

Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.

Buya Hamka juga terkenal sebagai penulis buku, puluhan judul buku karyanya sudah diterbitkan. Diantara puluhan judul bukunya, yang paling terkenal adalah “Dibawah Lindungan Ka’bah (1936) dan “Laila Majnun” 1932.

Hamka meninggal dunia pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

Selain Buya Hamka dari Sumatera Barat, yang menerima gelar pahlawan nasional tahun ini, yaitu Syafruddin Prawiranegara, pejuang asal Jawa Barat, Idham Chalid dari Kalimantan Selatan, Ki Sarmidi Mangunsarkoro dari DIY Yogyakarta, I Gusti Ketut Pudja dari Bali, Sri Susuhanan Pakubuwono X asal Jawa Tengah, dan Ignatius Josep Kasimo Hendrowahoyono dari Yogjakarta.

Syafruddin dikenal sebagai tokoh dari PDRI yang berpusat di Bukittinggi yang memimpin pemerintahan darurat Indonesia saat Soekarno-Hatta ditahan oleh Belanda di Yogyakarta.

Idham dan Hamka adalah tokoh Islam yang banyak memberikan kontribusi pengabdian melalui jalur politik dan ormas semasa hidupnya saat prakemerdekaan dan paskakemerdekaan.

Begitupun dengan Ki Sarmidi Mangunsarkoro, I Gusti Ketut Pudja, Sri Susuhanan Pakubuwono X, dan Ignatius Josep Kasimo yang telah memberikan kontribusi perjuangan yang luar biasa bagi negara.

Selain gelar Pahlawan Nasional itu, pemerintah juga memberikan Bintang Mahaputera Adipradana kepada almarhum Sultan Sulaiman Syariful Alamshah dan Bintang Budaya Parama Dharma kepada sembilan tokoh lintas bidang, seperti Benyamin Suaeb (tokoh budaya Betawi), Hasbullah Parindurie, Gondo Durasim, Huriah Adam, Idrus Tintin, Kwee Tek Hoay, Sigit Sukasman, Go Tik Swan, dan Gedong Bagus Oka.

Abdul Madjid



www.lintas-copas.blogspot.com