Jumat, 19 Oktober 2012

JEJAK MEGALITIK DI GUNUNG SALAK, BOGOR

Dalam acara napak tilas ke 6 yang diadakan oleh group napak tilas dan didukung oleh majalah basa sunda ‘balebat’, kita disuguhkan oleh satu peradaban megalitik (masa batu besar) yang berusia sekitar 5000 tahun, menurut penelitian yang telah ada.




lokasi berada di gunung salak, berada di kecamatan tenjolaya, kabupaten Bogor, tempatnya berdekatan dengan tempat pariswisata “curug luhur”




Jika kita lihat plang diluar kita akan melihat petunjuk “situs arca domas” bahasa yang diartikan terdapat 800 arca (bahasa buhun/sunda kolot), padahal tidak pernah ditemukan arca disitu, yang ada adalah barisan bebatuan yang tertata, serta kompleks situs berbagai bentuk menhir.


menurut catatan dari pihak kolonial belanda, situs cibalay ini dilaporkan pertama kali oleh De Wilde(1830), kemudian Junghuhn (1844) lalu Muller (1856) dan yang terakhir oleh N.J. Krom dalam “rapporten Oudheidkundigde Dienst” tahun 1914.


Untuk sampai ke lokasi ke komplek situs cibalay, kita melewati jalan aspal dengan kualitas sederhana sepanjang sekitar 2 km, kemudian berjalan kaki mendaki sekitar 30-50 menit (2-3km). situs punden pasirmanggis I berada di areal sempit dan diapit oleh 3 jurang, punden berundak 3 berukuran 5 X 3 meter ini menghadap utara, sekitar 14 batu nangtung (menhir)berbagai ukuran terdapat disana. lalu kesebelah bawahnya kita temukan punden pasir manggis II, teras yang sudah tidak utuh lagi, dan batu-batu penyusunnya telah hilang, yang tersisa hanya sebagian dan beserta batu tangtung sebanyak 2 buah. Hal itu mungkin terjadi karena gunung salak pernah meletus sekitar tahun 1600-an, yang khabarnya memporakporanda-kan kota batavia.



Perjalanan selanjutnya kita ke situs di bawahnya, disinipun terdapat barisan batu yang tertata rapih dan banyak batu tangtung.



situs yang paling besar terdapat dibawahnya, yaitu situs cibalay, menurut pak Inochi (budayawan bogor dan salah seorang dosen di beberapa universitas), situs ini beliau teliti sekitar tahun 1974 dengan perjalanan sekitar 2 hari, karena rapatnya pepohonan saat itu yang menjadi cirinya adalah sebuah pohon menyan (saat ini masih ada).


Beliau sampaikan bahwa keberadaan situs ini lebih tua dari masa kerajaan sunda lama, maupun pengaruh hindu budha atau yang lain, karena setelah diteliti dari batuannya berumur sekitar 5000 tahun, sebelum ada suku-suku seperti sekarang, sunda, madura, dan lainnya.



kita berharap kedepan, melalui kegiatan ini menjadi inisiasi dan perencanaan pengelolaan sejarah dan peninggalan budaya secara terpadu, komunitas “napak Tilas” mengusulkan untuk dibentuk kelompok kerja untuk menyusun draft kegiatan dalam 20 tahun yang terbagi dalam rencana pengelolaan terpadu lintas departemen , sehingga bisa disinergikan kepada bidang yang ada dalam pemerintahan semisal dinas budpar, taman nasional gn salak, departemen pendidikan, LSM, DPRD, para ahli sejarah, ilmuwan, sehingga kita memiliki sebuah grand design pengelolaan. mungkin bisa salah satunya membuat “guiding book” yang bisa menjadi literatur pemerhati sejarah dan budaya di dunia.



kita menyaksikan peradaban yang berkembang saat itu, mungkin bisa menjadi satu motivasi buat kita untuk membentuk “nation character building” serta pengembangan yang memberikan manfaat lebih kepada masyarakat sekkitarnya dengan pemberdayaan program yang direncanakan. kita berharap banyak



www.lintas-copas.blogspot.com