Jumat, 19 Oktober 2012

Kingdom of Fathimiyah

Kingdom of fathimiyah

Setelah kekuasaan dinasti Abbasiyah makin memudar dan berada ditangan turki periode kedua, maka banyak kerajaan-kerajaan yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. Salah satunya adalah dinasti Fathimiyah yang memproklamasikan dirinya sebagai pemegang jabatan Khalifah di Mesir.

Dinasti Fathimiyah sudah ada semenjak dinasti abbasiyah berkuasa di Bagdad.Dinasti Fathimiyah berkuasa di Mesir dan mendapat pengakuan Dinasti Abbasiyah pada saat itu, kemudian Dinasti fathimiyah membangun kota Kairo sebagai ibukota, pada tanggal 17 Sya’ban 358 H atau 969 M atas perintah kholifah al-Mu’izz lidinillah (952-975M) oleh panglima perang Dinasti Fathimiyah yang beraliran syi’ah, Jawal al-Siqili. Wilayah kekuasaan fathimiyah meliputi afrika utara,sicilia, dan syiria.

Periode fathimiyah dimulai dengan Ubaidillah dan puncaknya terjadi pada masa pemerintahaan al-Mu’izz dan anaknya al-Aziz. Dinasti Fatimiyah berkuasa selama 262 tahun, dari tahun 297 H/ 909 M sampai tahun 567 H/ 1171 M. Selama itu berkuasa 14 orang khalifah dinasti fathimiyah antara lain: Ubaidillah (al-Mahdi) (909-934), al-Qa’im (934-946), al-Mansur (946-952), al-Mu’izz (952-975), al-Aziz (975-996), al-Hâkim (996-1021), az-Zâhir (1021-1035), al-Mustansir (1035-1094), al-Musta’li (1094-1101), al-Amir (1101-1130), al-Hafiz (1130-1149), az-Zafir (1149-1154), al-Fa’iz (1154-1160), al-Adid (1160-1171).

Pada periode keemasan dinasti fathimiyah, seni, ekonomi,pertahanan keamanan dan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan besar. Diantaranya dibidang ekonomi. Pada masa al-Mu’izz, beliau melakukan pembaharuan dalam bidang administrasi dengan mengangkat seorang wazir (mentri) untuk melaksanakan tugas – tugas kenegaraan.Sedangkan dalam bidang pertahanan khalifah al-mu’izz memberi gaji khusus kepada tentara.

Ilmu pengetahuan pun tidak kalah berkembang dengan ekonomi dan pertahanan keamanan. Pada masa keemasan dinasti fathimiyah yakni pada khalifah al-aziz terdapat seorang maha guru bernama Ibn Yunus yang menemukan pendulum dan ukuran waktu dengan ayunannya. Karyanya Zij al-Akbar al-Hakimi diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. setelah beliau wafat penemuan – penemuannya diteruskan oleh Ibn al-nabdi dan hasan Ibn haitham, seorang astronom dan ahli optika yang menemukan sinar cahaya bayang dari objek mata dan bukan keluar dari mata lalu mengenai benda. Pada masa pemerintahan al-Hakim pun didirikan bait al-Hikmah. Terispirasi dari lembaga yang didirikan al-makmun di baghdad. Lembaga ini banyak menoleksi buku-buku dan lembaga ini juga merupakan pusat pengkajian astronomi, kedokteran dan ajaran-ajaran islam terutama syi’ah.

Dan yang paling spektakuler, pada masa kholifah al-Mu’izz beliau mendirikan mesjid al-Azhar,17 ramadhon 359 H (970 M). Mesjid ini berkembang menjadi universitas besar yang sampai sekarang masih berdiri megah. Nama al-Azhar diambil dari al-Zahra, julukan Fathimah putri Nabi Muhammad SAW dan istri Ali bin Abi Thalib, imam pertama Syi’ah.

Di bidang seni, dapat terlihat dari mesjid – mesjid yang berdiri pada saat itu. Mesjid-mesjid tersebut memiliki arsitektur yang unik dan ukiran – ukiran yang menjadi ciri khas dinasti fathimiyah.

Pada masa selanjutnya, dinasti fathimiyah mulai mendapat gangguan gangguan politik. Gangguan politik itu bermula ketika pemerintahan Khilafah al-Hâkim. Ketika diangkat menjadi khalifah beliau baru berumur 11 tahun. Al-Hâkim memerintah dengan tangan besi, masa pemerintahannya dipenuhi dengan tindak kekerasan dan kekejaman. Ia membunuh beberapa orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja kristen, termasuk sebuah gereja yang di dalamnya terdapat Kuburan Suci umat Kristen. Maklumat penghancuran Kuburan Suci ini ditandatangani oleh sekretarisnya yang beragama Kristen, Ibn Abdûn. Peristiwa ini merupakan salah satu penyebab terjadinya Perang Salib.

Dalam kondisi khalifah yang sedang lemah, konplik kepentingan yang berkepanjangan diantara pejabat dan militer. Merasa tidak sanggup, akhirnya pada kholifah al-Zafir (anak kholifah al-Hakim) meminta bantuan kepada Naruddin Zangki dan seorang panglima Nur al-Ayyubi. Mula mula ia berhasil membendug invasi tentara salib ke masir . akan tetapi disamping itu panglima al-Ayyubi pun memendam hasrat untuk menguasai mesir.

Puncaknya terjadi pada masa al-Adid, pada masa pemerintahannya Salahuddin telah menduduki jabatan wazir. Dan ketika kholifah al-Adhid jatuh sakit pada tahun 555 H / 1160 M, Salahudin al-Ayubi mengadakan pertemuan dengan para pembesar untuk menyelengarakan khutbah dengan menyebut nama khalifah Abasiyyah, al-Mustadi. Ini adalah simbol dari runtuh dan berakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah untuk kemudian digantikan oleh Dinasti Ayubiyyah. Dan sejak saat itu menjatuhkan dinasti Fathimiyah yang berdiri selama 262 tahun dan digantikan oleh dinasti Ayyubiah.

Sejarah Kebudayaan Islam.SIGAP. Bandung. 2004.

Risyatul Hapsah



www.lintas-copas.blogspot.com