Rabu, 24 Oktober 2012

“Teuntra Atom”, Kisah di Balik Perang

Judul : Teuntra Atom,
Penulis : Thayeb Loh Angen,
Penerbit : CAJP, Banda Aceh,
Tebal: 368 halaman.


Sejarah utama Teuntra Atom adalah 1999, ketika Aceh mulai dilanda konflik berkepanjangan pasca pencabutan DOM. Sang pengarang mendemistifikasi heroisme yang kerap tergambar penuh kemewahan dan berlebihan oleh penulis Aceh lainnya. Penulis Aceh lain tentu akan berfikir panjang untuk memilih cara narasi Thayeb, misalnya mengungkap kasus korupsi di kalangan kombatan.


Cerita dalam novel ‘Teuntra Atom’ ini diawali dan diakhiri di Kawasan Budaya Paloh Dayah, Muara Satu Lhokseumawe. Paloh Dayah adalah sebuah kampung yang pada era konflik 1999-2002 jadi basis gerakan di seputar Lhokseumawe.


Novel ‘Teuntra Atom’, karya Thayeb Loh Angen dapat dikatakan sebagai kisah nyata yang diangkat dari dunia konflik Aceh. Jika dicermati, banyak hal yang menarik dalam tulisan sastra ini. Salah satunya, sisi human interest seorang kombatan yang dimunculkan sebagai tokoh utama oleh si penulis.


Selain munculnya segi kemanusiaan seorang pejuang, Novel Teuntra Atom juga mengkritik kebijakan-kebijakan yang dianggap si pelaku utama tidak benar, meski itu dari kesatuannya. Ini terlihat pada permulaan kisah ketika, Irfan si tokoh utama, masuk ke dalam barisan pejuang.


Dalam hal ini, Irfan begitu geram melihat tingkah kesatuannya di sagoe, tempat ia direkrut menjadi tentara. Karenanya, Irfan dengan segala upaya melobi kawan-kawan yang ia kenal untuk meraih pangkat yang lebih tinggi. Selain menceritakan kisah perjuangan, Teuntra Atom juga memunculkan kegelisahan Irfan Maulana, selaku Polisi Militer Acheh Sumatera Nacional Liberted Front (ASNLF) ketika harus menghadapi pertarungan politik dengan kisah cintanya.


Irfan yang bergabung dengan tentara pejuang, seringkali merana ketika harus berhadapan dengan kerinduan pada kekasihnya, Aina. Sementara ia sendiri tidak bisa menjumpai langsung gadis tersebut, kecuali melalui perantara Puri, sahabat Aina. Kisah asmara antara Irfan yang menasbihkan cintanya pada Aina, terbendung oleh rasa kesalah pahaman Puri, yang selalu menerima sepucuk surat dari Irfan. Padahal, surat itu ditujukan pada Aina, kekasih hatinya.



Kegundahan yang dirasakan oleh sosok utama dari novel ini, jelas terlihat dalam kalimat : “…Surat itu kutulis di markas ini dengan amarah bergaya mengurai di sela latihanku seminggu lalu. Satu kesalahanku yang memicu Puri meninggalkanku. Aku tidak sadar, politik dan cinta punya dunianya masing-masing. Tololnya aku, saat itu aku belum membaca buku-buku psykhologi dan komunikasi. Selesai kubaca surat Puri, aku lemah, pening, bagaimana kuperbaiki perasaan Puri yang cenderung berprasangka buruk terhadapku…”


Meskipun menjabat sebagai PM Daerah I di Aceh Utara, sosok Irfan begitu kentara saat harus memilih antara kesatuan dan cinta. Rasa kasmaran yang membuat dirinya harus menempuh resiko, menyebrangi jalan menuju rumah Aina, setelah upacara peringatan proklamasi kaum combatan, Desember Islam.


Saat itu, demi mengobati kerinduaanya, Irfan rela memacu sepeda motornya melewati pos Polres setempat yang kalau dikaji amat berbahaya bagi dirinya. Namun, seperti yang diceritakan oleh penulis, Irfan adalah sosok yang sangat penakut setelah insidennya masuk ke dalam sumur, namun tergolong nekat menghadapi sesuatu yang sebenarnya sangat ditakuti oleh teman-temannya.


Menilik pada proses pembuatan novel ini, saya salut kepada penulis yang bisa memunculkan misteri dibalik perjuangan combatan Aceh. Buku ini, layak dibaca sebagai bahan renungan terhadap tentara-tentara yang ada. Di balik kegagahannya menyandang senjata dan dibalut seragam, ada hal yang juga perlu diperhatikan. Tentara adalah manusia yang sebenarnya memiliki rasa cinta dan kasih sayang seperti halnya manusia lain.


Selain itu, Novel Tentara Atom juga bisa dijadikan rujukan awal untuk peneliti ilmiah atas kritikan sosial yang dilontarkan mantan kombatan sehingga menimbulkan perjuangan bersenjata. Bagi pecinta sastra genre petualangan, saya rasa novel ini bisa mengajak pembaca untuk berkelana ke daerah konflik saat terjadinya peperangan antara RI-GAM tempo dulu.


Walaupun kisah ini berlatarbelakang perjuangan bersenjata para kombatan, penulis tak lupa membungkusnya dengan sisi perdamaian yang menjadi kerinduan setiap pejuang. Akhirnya, hanya satu kata yang bisa saya tuliskan dalam resensi sederhana ini, semoga buku karya Thayeb Loh Angen mampu mendongkrak pasar Novel dan budaya di Aceh, dengan mengenyampingkan segala perbedaan ideology yang ada.


Memahami Novel Teuntra Atom




Bila ada yang ingin membaca cerita perang seheboh film pembantaian di Vietnam maka tidak ada dalam buku ini, karena buku ini ditulis untuk mengatakan bahwa perang tidak baik untuk manusia, yang baik adalah perdamaian. Cerita perang hanya menimbulkan dendam dan merusak moral generasi, maka dalam novel ini cerita itu dihindari. Jangan pernah mengenang, kalau memang terpaksa, maka kenanglah keberhasilan dan kebaikan saja.


Pada Bab 12 berjudul Sumur-Sumur Tengkorak, ditulis kata-kata seorang perempuan gunung, “Sehebat apapun kemenangan perang, tidak aku bangga kehancuran karenanya.”


Perang Aceh yang dimulai oleh Belanda pada 26 Maret 1873 telah menghancurkan fisik Aceh, dan kehancuran terparah adalah serangan mental yang diluncurkan penjahat intelektual Snouck Hurgronje. Sampai kini mental Aceh belum pulih, namun sedang dipulihkan sebab era Snouck telah berakhir. Peradaban Aceh sedang diperbaiki.


Sebagian besar novel ini otobiografi, kecuali bab 19 yang berjudul Retina dengan tokoh Elli. Bab 19 adalah rangkuman novel ini, bahwa konflik Aceh di era pergantian abad 20 dan masuk abad 21 adalah konflik yang tidak diselesaikan dengan baik, bahkan ideologi pemicunya pun kerap diselewengkan.


Inti utama novel Teuntra Atom adalah filosofi perang dan damai serta pendidikan, semuanya dinyawai oleh kemanusiaan, bahwa yang paling utama adalah menjadi manusiawi. Mawardi Hasan, seorang penjabat di Majelis Pendidikan Aceh sekaligus dosen IT untuk S 2 di Unsyiah mengatakan bahwa sebaiknya intisari filosofi dan pendidikan dalam novel Teuntra Atom disusun dalam dua buah buku saku terpisah agar mudah dipahami.


Sementara Musmarwan Abdullah, seorang cerpenis di Aceh mengatakan, butuh seorang pengulas handal untuk membuat khalayak bisa memahami novel Teuntra Atom dengan baik dan lengkap, karena dalam novel ini banyak kalimat yang perlu dijelaskan dengan bahasa sederhana.


Intinya, ini pembuktian bahwa kita di Aceh bisa menulis cerita sendiri. Aceh jangan hanya dikenal dengan perang dan bencana serta korupsi pejabatnya, tapi Aceh juga bisa dikenal dengan karya anak bangsanya. Mari membangun peradaban baru di Aceh. Cintailah Aceh, banyak membaca, menulis. Kata penyair Portugal, berjuanglah dengan senimu, dan musuh kita hanyalah senjata.


Maka, berjuanglah membangun peradaban Aceh. Pertahankan dan majukan budaya Aceh yang baik, ciptakan budaya baru kita dan ambil budaya orang yang sesuai dengan amanah indatu. Cucu indatu yang baik adalah cucu yang memajukan peradaban.


www.lintas-copas.blogspot.com