Senin, 12 November 2012

Andai Semua Ulama Kita seperti Si Buya Hamka

“Ulama adalah ahli waris para nabi”, demikian bunyi sabda Nabi SAW. Sebuah hadis singkat akan tetapi teramat mendalam penafsirannya. Seperti apakah ulama yang layak mendapat predikat ahli waris para nabi? Tak mudah memang buat mendefinisikannya. Saat ini banyak yang bergelar tokoh agama, namun pada hakekatnya mereka tak lebih dari para penjilat penguasa. Tak sedikit pula yang bergelar cendekiawan muslim. Tapi apa yang mereka ucapkan sungguh jauh panggang dari api. Mereka justru gemar membuat kontroversi dengan menebar paham liberalisme, sekulerisme, dan pluralisme. Mungkin hal itu mereka lakukan agar mendapat predikat tokoh toleran, tokoh demokratis, tokoh humanis, atau bapak bangsa. Pada kutub yang bertolak belakang, kita banyak menjumpai mereka yang bergelar ustad, berpakaian layaknya seorang ulama besar namun yang terucap dari mulutnya adalah kalimat penuh provokasi, kebencian, dan permusuhan. Akibatnya tak sedikit generasi muda negeri ini terbius ucapan manisnya. Atas nama agama mereka kobarkan anarkisme. Dengan pekik takbir mereka jajakan aneka kebrutalan.




Tulisan ini, tiada maksud buat mengkultuskan seorang Buya Hamka. Namun, di era yang serba carut marut ini dimana kebenaran dan kebatilan seringkali tercampur aduk, ada baiknya kita belajar dari sikap, akhlak, dan pendirian beliau. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA adalah seorang ulama yang lembut dalam bertutur kata namun tegas dalam memegang prinsip. Bukanlah ia seorang ulama penjilat, namun bukan pula seorang penebar kebencian. Bukan seorang pluralis, namun bukan pula seorang radikalis. Ia selalu mampu menempatkan diri pada posisi tengah, tidak condong ke kanan ataupun ke kiri. Di masa kepemimpinan Bung Karno, Buya pernah ditahan atas tuduhan mengadakan rapat gelap untuk menggulingkan pemerintahan Orde Lama. Beliau juga ditangkap dengan tuduhan menerima dana dari PM Malaysia Tun Abdul Rahman kaitannya dengan konfrontasi Indonesia -Malaysia.



Dua tahun mendekam dalam tahanan, tak membuat Buya berduka. Sebaliknya ia justru bersyukur pada Yang Maha Kuasa atas suratan takdir yang menimpanya. Dengan ditahannya Buya, beliau malah berkesempatan menyeleseikan kitab tafsirnya yang mana hal itu tak dapat ia lakukan di luar sana lantaran segudang aktivitas berdakwah dan mengajar.



Dua tahun berlalu, Buya bebas dari tahanan seiring dengan runtuhnya tahta sang “penyambung lidah rakyat”. Buya keluar dari penjara dengan menggenggam sebuah karya besar yang tak lekang zaman. Itulah Tafsir Al Azhar, yang bahkan kitab tersebut selanjutnya beredar di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Sebaliknya, sang proklamator tersungkur dari tampuk kekuasaan tak kuasa menahan gempuran deras lawan politiknya. Bahkan sungguh tragis tatkala Bung Karno harus menghabiskan sisa hidupnya berkawan sunyi di Wisma Yaso. Dendamkah Buya? Sama sekali tidak. Ketika jasad sang proklamator terbaring kaku, dengan raut muka penuh haru Buya menghampirinya buat mendoakan dan bahkan mengimami salat jenazahnya.



Seiring putaran waktu, tibalah era Orde Baru. Buya masih tetap bersahaja meski saat itu memangku jabatan ketua MUI. Berbagai tawaran untuk terlibat dalam aktivitas politik pun ditolaknya. Hingga tibalah musim Natalan bersama yang oleh Mbah Harto disebut sebagai wujud toleransi antar umat beragama. Tanpa gentar sedikit pun Buya berfatwa haramnya perayaan Natal Bersama bagi seorang muslim. Sang penguasa melalui menteri agama mendesak agar Buya mencabut fatwanya. Namun, Buya tetap teguh dalam prinsipnya. Ia putuskan meletakkan jabatannya dan tak berselang lama Buya wafat meninggalkan alam fana dalam keteguhan prinsipnya.


Buya memang sudah lebih dari dua dasawarsa meninggalkan kita. Namun, untaian syair indah dalam setumpuk karyanya masih tetap terjaga hingga sekarang. Dan, hari ini sungguh kita mendambakan seorang ulama seperti BuyaHamka
Muhamad Karyono



www.lintas-copas.blogspot.com