Kamis, 08 November 2012

Andi Arief: Pemberitaan Kompas tentang Gunung Sadahurip Terlalu Dipaksakan

RMOL. Pakar genetik dan DNA dari Oxford University, Inggris, Prof. Stephen Oppenheimer, tak bisa menjawab pertanyaan apakah benar ada benda buatan manusia yang tertimbun di bawah Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat.

Oppenheimer menemui SBY bersama International Conference and Summer School on Indonesian Studies (ICSSIS) dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia hari Kamis kemarin (2/2). ICSSIS keempat akan digelar pada 9-10 Februari mendatang. Oppenheimer yang percaya bahwa peradaban yang pernah berkembang di Nusantara adalah induk dari semua peradaban di dunia akan menjadikeynote speaker dalam seminar itu.


Penulis buku Eden of the East yang terbit tahun 1999 itu mengatakan dirinya belum pernah meneliti Gunung Sadahurip. Itu sebabnya dia belum punya jawaban.


“Saya kira itu sikap seorang periset sejati,” ujar Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), Andi Arief, kepadaRakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat malam, 3/2).




Beberapa waktu lalu Kantor SKP BSB membentuk Tim Bencana Katastropik Purba untuk memperlajari catatan mengenai bencana-bencana besar di masa lalu yang kemungkinan besar memiliki kaitan dengan berbagai bencana di masa kini dan di masa datang. Dalam melakukan penelitian di sejumlah patahan aktif di Pulau Jawa, tim yang diperkuat oleh sejumlah geolog ini menemukan indikasi benda-benda buatan manusia di zaman purba yang kemungkinan besar tertimbun, baik disengaja maupun akibat fenomena bencana alam.


Salah satunya adalah benda buatan manusia yang diperkirakan tertimbun di bawah Sadahurip. Benda inilah yang belakangan kerap disebut sebagai “piramida Sadahurip” karena dari salah satu sisi Gunung Sadahurip tampak seperti piramida di Giza, Mesir.


Andi Arief menyinggung pemberitaan media nasional Kompas yang dianggapnya tendesius, karena di saat bersamaan dengan pertemuan Oppenheimer menurunkan berita yang mematahkan dugaan tersebut.


“Di hari kedatangan Prof. Oppenheimer, Kompas menurunkan dua berita sama yang dipaksakan dengan 16 jam selang waktu yang berbeda, tanpa dasar, tanpa sumber berdasar riset dan sebagainya,” ujar Andi Arief yang dalam penjelasannya menyertakan dua tautan berita dimaksud.



Dia khawatir kedua berita itu bernuansa politik. Saat berita ini diturunkan, kedua tautan itu masih menurunkan dua berita yang sama dan hanya berbeda judul Pertama berjudul Nihil… Tak Ada Peninggalan Berbentuk Piramida yang terbit pada pukul 00.07 WIB dan kedua berjudul Piramida di Gunung Sadahurip Tak Terbukti yang terbit pada pukul 18.11 WIB.


Di sisi lain, Andi Arief mengatakan bahwa Tim Bencana Katastropik Purba melakukan penelitian dengan mengikuti kaidah ilmiah untuk mendapatkan kepastian mengenai dugaan benda buatan manusia yang tertimbun di bawah Gunung Sadahurip.


Aktivis mahasiswa di era 1998 itu juga mengatakan, ada tiga hal penting dari penjelasan yang disampaikan Oppenheimer dalam pertemuan dengan SBY.


Pertama, kejadian bencana alam seperti tiga kali banjir besar dalam kurun 11.600, 8.000 tahun lalu menyebabkan migrasi etnis ke berbagai tempat terekam di dalam DNA manusia yang hidup zaman sekarang.


Lalu, rekaman khas dari rantai DNA itu ternyata bisa melacak jauh sampai migrasi keluar dari Afrika sekitar 200.000 tahun lalu dan keluar dari dataran Sunda Besar sekitar 60.000 tahun yang lalu. Ketiga, hipotesis periode ulang bencana katastropik purba bisa ditemukan dari forensik DNA untuk masyarakat daerah Sabuk Api Padang, Aceh, Jawa Tengah, pesisir barat Pulau Sumatra dan selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Flores, serta Biak. [zul]

rakyatmerdekaonline



www.lintas-copas.blogspot.com