Senin, 05 November 2012

Badai Matahari Lenyapkan Elektron Dalam Sabuk Radiasi Bumi (Video)

alt



Ketika matahari mendekati solar maximun pada 2013, cahaya baru telah muntahkan efek dari peristiwa tersebut pada magnetosfer planet kita, menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Nature Physics (29/1).






Para astronom di Universitas California-Los Angeles (UCLA) telah menemukan bahwa sebagian dari elektron pada sabuk radiasi luar Bumi lenyap pada awal terjadinya badai geomagnetik, dan hanya muncul kembali dalam beberapa jam kemudian. Wilayah berbentuk donat ini penuh dengan energik elektron yang bergerak mendekati kecepatan cahaya.



“Ini efek membingungkan,” ujar penulis Vassilis Angelopoulos dalam siaran persnya. “Sejumlah samudera di Bumi tidak dengan tiba-tiba kehilangan sebagian besar air, namun sabuk radiasi diisi dengan elektron-elektron yang dapat dengan cepat mendepopulasi.”



Awalnya yang tercatat oleh para ilmuwan pada 1960, tim ini menjelaskan misteri ini dengan menggunakan data yang dikumpulkan dari armada pengorbit, termasuk pesawat ruang angkasa NASA THEMIS (Times History of Events and Macroscale Interactions during Substorms).




“Apa yang kami teliti adalah penemuan pertama di era antariksa,” ujar Yuri Shprits. “Orang-orang menyadari bahwa peluncuran pesawat antariksa bukan hanya membuat berita, namun mereka juga dapat membuat penemuan ilmiah yang benar-benar tak terduga.”



Sebuah studi 2006 menunjukkan bahwa elektron dapat lenyap ke media antarplanet. Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa sejumlah elektron jatuh ke dalam atmosfir kita, akan tetapi sebagian besar menjauh dari Bumi sebagai partikel angin matahari dari badai geomagnetik yang memborbardir sabuk radiasi.



“Ini merupakan tonggak penting dalam pemahaman lingkungan ruang Bumi,” ujar penulis utama, Drew Turner. “Kami mulai salah satu langkah menuju pemahaman dan memprediksi fenomena cuaca ruang angkasa.”




Ketika matahari mengalami peristiwa seperti ejections coronal mass, partikel dengan beban tinggi akan menghantam medan magnet Bumi, mengakibatkan badai geomagnetik yang dapat merusak satelit pemantau cuaca, komunikasi dan ancangan global. Pemahaman tentang efek aktivitas matahari pada sabuk radiasi Bumi dapat membantu melindungi satelit-satelit dan perjalanan para astronot yang melewati sabuk dengan resiko radiasi sangat tinggi.



“Kini sebagian besar satelit dirancang dengan beberapa tingkat proteksi radiasi, para enginer pesawat antariksa harus bersandar pada perkiraan dan statistik karena mereka tidak memiliki data yang dibutuhkan untuk memprediksi perilaku elektron energi tinggi di luar sabuk radiasi,” ujar Turner.



“Sebagai masyarakat, kita telah sangat tergantung pada tekhnologi yang berbasis ruang angkasa,” pungkasnya. Pemahaman populasi elektron energik dan variasi ekstrem akan dapat membantu menciptakan model-model yang lebih akurat untuk memprediksi efek dari badai geomagnetik pada sabuk radiasi.”




Para peneliti UCLA ini, kini bekerja sama dengan para ilmuwan Moscow State University Rusia, untuk mengukur elektron energi tinggi dengan akurasi yang lebih besar dengan menggunakan wahana antariksa Lomonosov, yang rencananya diluncurkan musim semi mendatang.










(EpocthTimes/sua)/Cassie Rya/erabar



www.lintas-copas.blogspot.com