Jumat, 09 November 2012

Berlian Dibalik Kabut Percandian Muarajambi


Percandian Muara Jambi, Jambi, Arkelog, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Junus Satrio Atmodjo, Prof.Dr.Mundardjito, Ilmu ArkeologiJakarta – Keberadaan percandian Muarajambi saat ini mulai disesaki dengan berdirinya Industri Crude Palm Oil (CPO), terminal batubara, penambangan emas dan koral. Kawasan percandian ini sebenarnya telah terdaftar sebagai world heritage UNESCO.




Percandian berada di Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Kawasan ini juga telah ditetapkan oleh Presiden SBY sekitar 2011 lalu sebagai kawasan wisata sejarah terpadu.



Penelitian Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Junus Satrio Atmodjo menemukan, Muarajambi lokasinya memanjang sejajar dengan Sungai Batanghari menempati tanggul alam purba yang terbentuk sebagai hasil pengendapan materi sungai selama ribuan tahun sebelum dihabitasi oleh manusia.



Ketika sejarah dan ilmu arkeologi berbicara keistimewaanya, ditemukan bahwa Percandian Muarajambi berhubungan erat dengan kebangkitan ajaran Tantrayana di Tibet. Kawasan ini awalnya juga disebut sebagai tempat pendidikan Budhisme di Asia setelah Nalanda di India.



Pada abad 7 sampai 14, orang-orang India dan di Asia menamakannya sebagai Swarnabhumi atau Swarnadwipa atau pulau Sumatera. Bangsa Tibet menyebutnya dengan nama Sherling-pa. Adapun I-Tsing menyebutnya kerajaan Sriwijaya yang kemudian diterjemahkan percandian Muarajambi.




“Mulai abad 7 sampai 14 dia menjadi pusat agama Budha yang terkenal, buktinya ada, itu pentingnya,” ujar Bapak Arkeolog Indonesia, Prof. Dr. Mundardjito saat berbincang dengan Erabaru.net, Kamis (9/2).

Fakta demikian diperkuat dengan pernyataan beberapa ahli yang menyebut, percandian Muarajambi sebuah lokasi pendidikan sebagaimana disebut dalam salah satu sumber asing yaitu dalam Sejarah Thu-bkan-blo-bzan-Chos-kyi-ni-ma dan Brom-ston-pa’s stotra.


Sejarah tersebut menyebut Dipamkara Srijnana (Atisa) menerima Upadesa dari Bodhicitta dari seorang guru bernama Dharmakirti di Suvarnadvipa. Dipampakara belajar kepada Dharmakirti selama 12 tahun tentang Bodhicitta, pranidhana dan avatara.

Selama kisah perjalannya di Swarnadwipa (Sumatera) Atisha menulis : “Saya dipersilahkan tinggal di Istana Berpayung Perak” untuk mencurahkan seluruh waktunya untuk pelajaran, pemikiran, dan samadi,” tulisa Atisa.

Kemudian Atisa setelah menyelesaikan belajarnya di Swarnabhumi, dia lalu diminta Raja Tibet untuk mengembangkan hasil pendidikan dan pengajaran selama di Swarnabhumi untuk rakyat Tibet.

“Sejak itulah Tibet mengalami perkembangan kebudayaan dan ajaran Budhisme Tibet yang berkembang hingga saat ini,” jelas pak Oti panggilan akrab Mundardjito.


Seperti dikatakan Dalai Lama XIV Tibet Tenzin, hubungan pengajaran Tantra Tibet yang mulai berkembang sejak dahulu berkaitan dengan Indonesia. Pada zaman dahulu disebut dengan Swarnadwipa, Pulau Emas yang berarti adalah pulau sumatera pada saat ini.



Dalai Lama XIV Tibet Tenzin mengatakan, “Sekitar 1.000 tahun lalu, pada abad ke-10, seorang guru besar dari India mengunjungi Swarnadwipa, Pulau Emas dan menimba ilmu. Orang suci dari India itu kemudian diundang ke Tibet untuk mengajarkan ilmunya di sana,” kata Dalai Lama XIV.



Tulisan pendeta Buddha dari Dinasti Tang, I-Tsing mengatakan kawasan percandian Muarajambi masa lalu sebagai tempat pengajaran Budhisme untuk mempersiapkan diri sebelum belajar ke Nalanda, India. Nalanda adalah pusat pendidikan ajaran Buddha dari tahun 427 sampai 1197 sesudah masehi.



“Jika biarawan dari Cina ingin pergi ke India untuk mendengarkan ajaran-ajaran dan mempelajari kitab-kitab ajaran, sebaiknya ia tinggal di sini (Sriwijaya) selama satu atau dua tahun untuk mempersiapkan dan melatih diri tentang cara-cara/aturan-aturan yang benar sebelum menuju India,” tulis I-Tsing.




Benda purbakala di percandian Muarajambi yang ditemukan adalah bangunan-bangunan kuno dari bata seperti di Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Astano, Candi Kembarbatu, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Tinggi I, dan Candi Kedaton, Candi Teluk, Kota Mahligai, dan Bukit Perak, dan 82 reruntuhan bangunan yang oleh penduduk lokal disebut menapo.



“Bangunan kuno Percandian Muarajambi setelah diteliti, sangat mendekati dengan sumber-sumber asing seperti yang ditulis I-Tsing,” ungkap profesor pendiri Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.



Peninggalan kawasan percandian Muarajambi dari bangunan, sisa pemukiman, bangunan pendukung lainnya pada masa lalu mempunyai peranan penting sebagai interaksi ilmu pengetahuan dan kebudayaan tidak hanya antar suku bangsa di nusantara, namun juga bangsa-bangsa di Asia Tenggara, India, Tibet dan China.



“Yang berkembang di Jambi awalnya adalah sekte Tantrayana, yang dibawa diantaranya Atisha, jadi Jambi dan Sumatera cikal bakal dari Tantra yang berkembang di Tibet,” kata Ketua Ahli Ikatan Arkeologi Indonesia, Junus Satrio.


Sejarah yang demikian bagus dimiliki oleh percandian Muarajambi, apakah kemudian dirusak dengan kepentingan bisnis. Ini sama halnya dengan menghilangkan keberadaan Jambi dari peradaban dunia.


“Apakah kita mau menghapus dari wajah dunia, hanya pengusaha ini tidak sampai kesana, dapat duit ya selesai,kalau sudah rusak yang mengembalikan siapa?,” ujar Satrio.



Menurut Satrio, kemampuan negara memelihara kawasan Muarajambi tidak bisa disamkan dengan kecepatan kerusakan bangunan candi. Sisa-sisa tertinggal hanya dalam bentuk lingkungan mikro. Adapun yang sulit dipertahankan adalah bukti tempat tinggal dan ruang aktivitas penghuni kuno Muarajambi.


Oleh karena itu upaya pelindungan kawasan Muarajambi dan sekitarnya akan memberikan implikasi penting pagi penulisan sejarah Kabupaten Muarojambi maupun Jambi dalam konteks yang lebih luas.

Erabaru



www.lintas-copas.blogspot.com