Selasa, 06 November 2012

Duka Derita Syi’ah Sepanjang Sejarah (2)

1325723650297545771
Al-Husein Martyr Karbala

14 abad yang lalu suasana kota Madinah tercekam oleh ketakutan dan kezaliman. Seruan Al-Husein (as) tak didengar lagi, bahkan dihinakan dan direndahkan. Yazid bin Muawiyah menekan Al-Husein agar menghentikan seruannya, dan segera berbait kepadanya.


Suasana kota Madinah semakin hari semakin mencekam. Di malam-malam yang dingin Al-Husein (as) mendatangi kuburan Rasulullah saw. Di pusara kakeknya ia menyampaikan salam: Assalamu’alayka ya RasulAllah.


Ia mengadukan semua perlakukan umatnya: “Ya Rasulullah, telah engkau saksikan prilaku umatmu, mereka tak menghiraukan seruanku. Mereka menghinaku, merendahkanku dan menzalimiku. Mereka menghinakan Ahlul bait yang engkau tinggalkan kepada mereka.”


Di kuburan kakeknya ia menangis dan merintih hingga larut malam dan tertidur. Lalu Al-Husein terbangun.

Di pusara kakeknya Al-Husein berjanji untuk menegakkan kebenaran Islam sebagaimana yang diajarkan oleh kakeknya Rasulullah saw.


Esok harinya Al-Husein (as) menghimpun keluarganya dan sebagian kecil sahabat Nabi saw, untuk meninggalkan kota Madinah.

Kini Al-Husein (as) dan rombongannya meninggalkan kota Madinah menuju kota Mekkah. Penduduk kota Kufah mengirim surat kepada Imam Husein (as). Mereka mengharap kedatangannya. Mereka berjanji akan berbait kepadanya sebagai pemimpin mereka. Mereka berjanji akan melindungi Al-Husein (as) dan keluarganya.Karena suasana kota Mekkah semakin hari semakin tidak aman bagi Al-Husein (as) dan keluarganya. Ia menghimpun rombongannya yang tak lebih dari 73 orang, yang sebagian terdiri anak-anak kecil dan perempuan.Al-Husein (as) berserta rombongannya meninggalkan kota Mekkah menuju kota Kufah walaupun ibadah hajinya belum sempurna.Kini Al-Husein dan rombongannya berangkat menuju kota Kufah. Karena lelahnya perjalanan yang cukup jauh, Al-Husein dan rombongan berhenti di padang Karbala. Mereka memancangkan kemah-kemah di padang Karbala untuk berteduh dari sengatan panas matahari dan istirahat karena lelahnya perjalanan yang cukup jauh.

Tak lama mereka istirahat terdengarlah deru suara kuda dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin jelaslah bahwa suara itu adalah suara deru kuda pasukan Ibnu Ziyad yang jumlahnya ribuan pasukan berkuda.

Ya Allah, Ya Rasulullah Kini Al-Husein (as) dan rombongannya yang tak lebih dari 73 orang yang sebagian terdiri anak-anak kecil dan wanita. Mereka harus berhadapan dengan ribuan pasukan berkuda Ibnu Ziyad Gubernur pilihan Yazid bin Muawiyah.Karena jauhnya perjalanan Al-Husein dan rombongannya kehabisan bekal. Mereka dalam keadaan haus dan lapar. Sebagian dari rombongan Al-Husein berusaha mengambil air dari sungai Efrat, tapi pasukan Ibnu Ziyad menghadangnya. Mereka tetap berusaha keras mengambil air untuk dipersembahkan kepada Al-Husein, keluarganya dan rombongan yang tercekik oleh kehausan. Mereka tak berhasil mempersembahkan air karena diserang oleh anak-anak panah pasukan Ibnu Ziyah.


Pada tanggal 10 Muharram 61 H, kecuali Al-Hurr pasukan Ibnu Ziyad mulai melancarkan serangan pada rombongan Al-Husein (as). Salah seorang pasukan Abu Ziyad mengarahkan anak panah pada leher seorang bayi. Bayi itu putera Al-Husein (as). Anak panah mengenai leher sang bayi, dan mengucurlah darah dari lehernya. Begitu hausnya sang bayi itu ia menjilat-jilat darah yang mengalir, dan meninggallah bayi suci keturunan Rasulullah saw.

Mereka kesemuanya berguguran menjadi syuhada’. Dengan melawan kebrutalan dan kebengisan tak terperikan.


“Allah mencintai orang yang mencintai Husein”

“Al-Hasan dan Al-Husein penghulu pemuda ahli surga.”
Soetarno Wreda


www.lintas-copas.blogspot.com