Selasa, 13 November 2012

Hentikan Fanatisme dan Radikalisme Agama, Selamatkan Ilmu Pengetahuan!

13291238471496618973

Reruntuhan sebuah perpustakaan kuno


Sepanjang sejarah manusia, kebencian akibat perang seringkali menjadi penyebab suatu bangsa pemenang perang (rezim yang berkuasa) menghancurkan peradaban bangsa yang kalah perang, termasuk dalam hal ini adalah membakar habis gedung perpustakaan. Fenomena pembakaran gedung perpustakaan ini sudah terjadi berulang kali dalam sejarah manusia, mulai dari perpustakaan alexandria di Mesir kuno (saat itu diperintah oleh Cleopatra) yang dibakar habis oleh bangsa Romawi saat menang perang, perpustakaan kuno bangsa Arkadia dan Assyria yang dibakar oleh bangsa Babilonia, perpustakaan Baghdad di Irak yang merupakan perpustakaan terbesar di dunia di kala itu juga akhirnya dihancurkan oleh tentara Tartar yang dipimpin oleh Khubilai Khan yang mana tentara Tartar yang biadab tersebut diperintahkan melemparkan semua buku yang mereka dapatkan di perpustakaan-perpustakaan umum ke sungai Dajlah sehingga sungai itu penuh dengan buku-buku. Sampai-sampai air sungai tetap berwarna hitam pekat selama berbulan-bulan lantaran bercampur dengan tinta buku-buku yang ditenggelamkan ke situ. Tragedi pembakaran buku-buku pengetahuan juga terjadi di perpustakaan Al-Hakam al-Mustansir di Cordoba, Spanyol, yang berisi 400.000 kitab-kitab ilmu pengetahuan berbahasa Arab yang dibakar pada tahun 1556 M atas perintah Raja Philip II saat kekhalifahan Islam jatuh saat kalah perang salib, demikian pula pemusnahan perpustakaan-perpustakaan Islam di di Tripoli (Libia), Maarrah, Al-Quds (di Palestina), Ghazzah (di Palestina), Asqalan, saat perang salib dimana setiap harinya dimusnahkan kurang lebih 1 juta buku dan kitab ilmu pengetahuan. Sungguh sangat disayangkan bahwa kebencian akibat perang telah menghambat perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan manusia akibat begitu banyak ilmu pengetahuan kuno yang tercatat dalam buku-buku dan literatur yang turut musnah akibat tindak kekejian pembakaran perpustakaan.



Belajar dari sejarah pahit tersebut, marilah ciptakan kerukunan hidup antar umat beragama, bersatu padu membangun peradaban yang lebih baik dengan mengutamakan perkembangan ilmu pengetahuan dan meninggalkan fanatisme yang tidak perlu. Ilmu pengetahuan, siapa pun penemunya, dari bangsa apa pun atau agama apa pun adalah sangat berharga dan hanya orang bodohlah yang akan demikian tega membakar buku apalagi sampai membakar gedung perpustakaan yang sangat disayangkan sudah berulang kali terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia yang dipenuhi kebencian, fanatisme, dan primordialisme. Andai saja perpustakaan-perpustakaan kuno tersebut masih ada hingga sekarang, tentu peradaban manusia saat ini jauh lebih modern daripada yang telah dicapai sekarang.
Haryo Bagus Handoko



www.lintas-copas.blogspot.com