Rabu, 14 November 2012

Inilah Sufi Anak Zaman Itu.

“Ya Allah, segala puji syukur kami haturkan kehadirat-Mu. Segala keyakinan kami akan Engkau, tidak dapat dibeli oleh kilauan intan permata. Suara hati yang kami persembahkan pada-Mu, bukan sekedar ingin menjadi pemelihara sifat-sifat-Mu, Belenggu yang telah membendung sukma ini, perlahan terkuak oleh hentakan jiwa yang tak kuasa untuk tidak memuji syukur atas segala karunia dan nikmat yang telah Engkau limpahkan. Wahai Allah Tuhan Yang Pemberi Rahmat, Yang Maha Pengasih, Maha Terjaga Kelembutan-Mu terhadap diri ini, meski Engkau tahu segala kemaksiatan yang kami perbuat. Kami dapatkan kemurahan Berkah-Mu, meski semua kesalahan kami nampak jelas di mata-Mu. Kami dapatkan rezeki yang berlimpah dari-Mu, meski kami telah mendurhakai-Mu. Engkaulah dzat yang Maha Luhur, Maha Dekat, Maha Tampak, Awal dan Akhir. Engkau tetap mengasihi kami, meski kami telah menebar angkara di bumi-Mu ini. Engkau begitu dekat dengan kami, bahkan lebih dekat daripada urat leher kami sendiri”.

Banyak diantara kita masih memandang bahwa kehidupan seorang sufi itu hanya terfokus dari mesjid ke mesjid, atau dari tempat suluk yang satu ke tempat suluk lainnya. Bahkan lebih ekstrim lagi, ada yang memandang seorang sufi itu hidupnya terlunta-lunta dari satu tempat pertapaan menuju tempat pertapaan berikutnya. Sehingga orang hanya mengenal sufi sebagai seorang yang hidupnya terasing karena mengasingkan diri dari pergaulan dunia, bahkan terkadang orang memandangnya tak lebih dari seorang pengemis.

Dalam kehidupan di zaman modern ini, segala fenomena kebobrokan peradaban yang kita saksikan, semakin lama semakin parah, silih bergantinya zaman dan kejadian, juga banyaknya keberpalingan dan kelemahan angan serta cita-cita yang berlebihan telah menggiring manusia pada segala persoalan yang menghadapkannya pada kesengsaraan ini. Hari demi hari wabah penyakit terus bertambah sebagai makanan empuk kejelekan layaknya dosa. Jiwa memang selalu tertarik dengan segala keanehan yang belum biasa dilihat serta pada hal-hal mistis (unseen) yang belum pernah dialami, maka orang yang lemah dan bodoh pun selalu akan dengan mudah terjebak di dalamnya dan orang yang lamban akalnya pun akan terpedaya melihat prinsip-prinsip kehidupan yang ditawarkan dengan segala pernak-pernik yang menakutkan bagi orang-orang yang beriman dan berakal.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasul bersabda : “Sesungguhnya sebagian daripada ilmu itu ada yang diumpamakan seperti perhiasan yang indah dan selalu tersimpan yang tidak ada seorangpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang biasa lupa (tidak berzikir kepada Allah) (HR Abu Abdir Rahman As Salmy)
Banyak orang beranggapan bahwa seorang sufi itu atau orang yang berkecimpung dengan ilmu Tasawuf itu sesat. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena sikap para sufi yang banyak memperlihatkan keanehan dan nyeleneh, jauh dari peradaban modern. Namun bagi aku jika ilmu tasawuf itu dikaji lebih modern dan tetap berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits, maka tidak ada yang salah dalam ilmu tasawuf, karena ilmu ini juga mempunyai dalil yang kuat dari Al Qur’an dan Hadits yang sahih.
Inilah filosofinya aku, “Menebar Senyum Merajut Ukhuwah” merupakan misi dari aku, sedangkan “Sufi Anak Zaman” adalah visinya aku. “Sufi Anak Zaman” selalu mengikuti kemajuan zaman, dengan tidak melupakan tujuan utama hidup, yaitu untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT. Dengan “Sufi Anak Zaman”, bangkitkan semangat yang berbeda pada diri kita, asah kecerdesan spritual kita, jangan terpaku pada masa lalu, kalaupun harus melihat ke belakang, jadikanlah ia sebagai sarana evaluasi diri. Fikirkan yang terjadi saat ini, buatlah planning strategic yang matang, jadikan ia sebagai pedoman menuju harapan. Pandang jauh ke depan, lihat apa yang bisa diraih dan digapai di sana.

Bagi seorang “Sufi Anak Zaman” tidak ada ketabuan dalam memilih profesi atau bidang kegiatan yang diinginkan. “Sufi Anak Zaman” tidak mempunyai halangan yang menyebabkan dirinya membatalkan cita-citanya, selagi ia tetap berpegang pada kaedah dan syariat yang telah digariskan Islam. Ia bisa mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang pemimpin, pekerja ataupun seorang entertainer, jika ia ingin bermain musik, hatinya akan berkata : “Bermainlah musik, tapi harus tetap berpegang pada kaedah-kaedah Islam. Jadilah penyanyi, tapi harus menjadi penyanyi yang berjiwa Islam. Silahkan menjadi pemain sinetron, tapi harus menjadi pemain sinetron yang bernuansa Islami. Jadilah atlit, tapi atlit yang meniupkan ruh Islam.”

Sekarang, mungkin anda dapat mengenal lebih dekat, bagaimana kehidupan seorang “Sufi Anak Zaman” yang ternyata, hidupnya berada di lingkungan pekerjaan, di meja-meja seminar, di tengah-tengah khalayak ramai, bahkan tidak sedikit diantara mereka adalah seorang pemimpin, seorang pekerja yang tangguh dan ulet, seorang yang profesional dalam menjalankan bidang kegiatan yang dipilihnya, seorang yang tanpa pernah mengucilkan diri atau mengasingkan dirinya dari pergaulan dan masyarakat sekitarnya. Jangan pula berharap menjadi “Sufi Anak Zaman” akan menciptakan keajaiban-keajaiban yang terjadi pada diri anda, atau berharap kita memiliki kelebihan-kelebihan yang luar biasa, seperti yang biasa didapat oleh para wali, bagi “Sufi Anak Zaman” cukuplah merasakan nikmat manisnya beriman dan beribadah kepada Allah SWT.

Aku mencoba menyajikan kehidupan seorang sufi yang tetap mengukuhkan eksistensinya dalam kehidupan modern namun sarat dengan nilai religius, sehingga diharapkan dapat membawa perubahan dari kegundahan hati pada kemantapan akan kehadiran Allah SWT dalam setiap denyut nadi dan detakan jantung. Semogalah….Amin…..
(sufi Anak Zaman) Dues K Arbain

www.lintas-copas.blogspot.com