Senin, 05 November 2012

Jejak Mataram di Tanah Abang

Kawasan Tanah Abang banyak menyimpan bukti sejarah bernilai, tidak saja peninggalan perniagaan tempo dulu, melainkan pula cerita peperangan.

Kawasan Tanah Abang menurut catatan sejarah telah hidup sejak Abad 17 Masehi. Banyak versi cerita tentang asal muasal Tanah Abang, salah satunya menyebutkan bahwa Tanah Abang dahulu kala hanyalah jazirah tanah merah bergunduk.

Karena itu, dengan medan bergelombang menyerupai perbukitan, balatentara Kesultanan Mataram menjadikannya basis untuk melancarkan serangan terhadap kedudukan Portugis di Sunda Kelapa. Di sini, mereka menghimpun dan merancang strategi guna menggempur kekuatan asing.

Para serdadu muslim inipun membangun tempat bermukim sementara di Tanah Abang. Mereka juga mendirikan berbagai bangunan yang menunjang kehidupan selama peperangan, salah satunya tempat beribadah.

Meski kelak dalam sejarah Mataram dikatakan takluk dari Portugis, namun semangat perlawanan mengusir penjajah yang dilatarbelakangi dengan nilai keimanan tetap menorehkan sebuah kemuliaan.

Berabad setelahnya, peninggalan tempat beribadah prajurit Mataram berbentuk surau itupun dipugar. Bangunan berdinding kayu dan bambu serta beratap rumbia kemudian disulap, menjadi megah dan mewah.

Lewat teknik maju dan peralatan canggih dari perusahaan konstruksi ternama Stodl, di era kolonial Belanda, tepatnya Tahun 1902, berdirilah bangunan mesjid yang kini dikenal dengan nama Al Ma’mur.

Tokoh di balik layar penjelmaan surau menjadi mesjid megah itu ialah seorang saudagar Arab, Syekh Abdurahman Al Sayid Abubakar bin Muhammad bin Al Habsyi. Ia merupakan kalangan Arab Batavia yang berlimpah harta, seorang pengusaha Pasar Tanah Abang.

Pembangunan itu diyakini memakan banyak biaya. Sang Saudagar mesti merogoh kocek dalam-dalam untuk mengontrak Stodl. Perusahaan konstruksi ini merupakan penyumbang terbesar bangunan indah dan megah yang hingga kini masih bisa dinikmati di Jakarta.

Tak banyak perubahan yang menyertai usia tua bangunan mesjid ini. Bangunan luar berupa dua menara mengapit gerbang utama masih bertahan. Begitupun bagian dalam mesjid, enam pintu samping berukuran raksasa yang terbuat dari jati masih kekar berdiri.

Satu-satunya pemugaran terhadap bangunan mesjid terjadi pada Tahun 1980. Meski begitu, pemugaran ini tak sampai mengubah bangunan, hanya penambahan ruang di sayap kiri untuk kegiatan Majelis Ta’lim serta pembuatan ruang perpustakaan di sisi kanan mesjid.

Sebaliknya, perubahan pesat terjadi pada lingkungan sekitar mesjid. Saat awal berdiri, mesjid ini masih terlihat rimbun dan asri, hingga menginjak Tahun 2000, wajah mesjid masih bisa kelihatan jelas.

Namun kini, walau sudah berpagar besi dan dikeliling tembok pembatas, bagian muka mesjid samasekali tak tampak. Pemukiman yang semakin ramai dan kian padatnya Pasar Tanah Abang seolah menenggelamkan mesjid.

Walau begitu, mesjid masih tetap penuh jamaah. Mereka merasa betah berada di dalam lingkungan mesjid bersejarah ini. Berada di dalamnya seakan jamaah berada di tanah lapang, semilir angin senantiasa berhembus.

Udara segar dan suasana yang teduh membuat jamaah tak sekadar beribadah melainkan pula sejenak beristirahat. Apalagi, areal dalam mesjid terbilang luas. Para jamaah bisa leluasa merebahkan badan selepas menunaikan sholat atau sekadar duduk bersila melantunkan ayat suci.

Sejarah yang Hilang

Meski letaknya di pusat keramaian, mesjid Al Ma’mur mampu memberikan ‘dunia lain’, penuh ketentraman yang sarat nilai religi. Tak heran sewaktu kebanyakan orang menghubungkan suasana mesjid dengan unsur magis yang menyertainya.

Cerita ghaib di balik keberadaan mesjid terutama dihubungkan dengan keberadaan komplek pemakaman. Dahulunya, menurut cerita masyarakat sekitar, sebagian lahan bangunan mesjid merupakan makam orang-orang berakhlak mulia.

Namun makam-makam itu kini sirna, hanya tersisa tiga di bagian depan mesjid. Tiga makam ini sendiri sampai sekarang masih menyimpan sejuta misteri, tak ada nama dan tanda-tanda lainnya terkait pemilik makam.

Karena letaknya berada paling depan dari bagian mesjid, salah satu makam malah berada persis di bawah mimbar, banyak jamaah meyakini kalau sosok-sosok dari makam bukanlah orang sembarang. Bahkan, tiga makam ini dipercaya telah ada sejak semula bangunan mesjid didirikan.

Apalagi, menurut keterangan Sekretaris Yayasan Al Ma’mur Rudi, tiap malam Jumat dan Selasa banyak jamaah berziarah ke makam. Para peziarah ini mayoritas datang dari luar kota, bahkan kerap ditemui para peziarah asal negeri jiran Malaysia.

Oleh sebab itu para pengurus mesjid tak meragukan bahwa makam tersebut milik orang suci, malah bukan mustahil jasad yang tertanam itu ialah pembesar Mataram. Dari tiga makam itu, terang Rudi, makam berpagar hijau yang berada di bawah mimbar adalah seorang pembesar, sedang dua lainnya merupakan para pengawalnya.

Guna menyambungkan sejarah yang terpenggal ini, para pengurus telah membentuk tim. Sampai kini, kata Rudi, mereka masih sukar mendapatkan data otentik terkait Al Ma’mur. Sedangkan, dari dokumen Arsip Nasional, mereka hanya mendapatkan keterangan tentang pembangunan mesjid.

Nama Al Ma’mur sendiri, kata Rudi, baru dikukuhkan pada Tahun 1912. Saat itu Abubakar Al Habsyi selaku pewakaf mendirikan sekaligus menyerahkan pengelolaan mesjid kepada yayasan yang diberi nama Al Ma’mur.

Selain terdapat sejarah yang belum lagi tersingkap, Al Ma’mur juga dikelilingi berbagai cerita tentang petuah. Bahkan, ada cerita yang mengatakan Bung Karno juga mencari petuah di mesjid ini. Sesaat sebelum dirinya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, ia menyempatkan beribadah di Al Ma’mur.

Muhammad Irfan/kompas

www.lintas-copas.blogspot.com