Jumat, 09 November 2012

Jolenan

Jolenan merupakan sejenis ritual merti desa tetapi dilaksanakan dua tahun sekali. Jolenan masih mampu menjadi magnet bagi masyarakat Purworejo dan sekitarnya. Kegiatan tersebut sebagai upaya untuk mengangkat Desa Somongari sebagai desa wisata dan diakui dari berbagai kegiatan ritual desa, Jolenan masih yang terbesar dan paling meriah di Kabupaten Purworejo.


Sebenarnya makna apa yang terkandung dalam ritual yang telah berjalan puluhan bahkan ratusan tahun itu. Warno Wasito (73), warga Dusun Sijanur Rt/Rw 2/4 Desa Somongari mengungkapkan bahwa, ritual Jolenan pada dasarnya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rezeki berlimpah, dengan memberikan panen pada tanaman yang hidup di desanya. Seraya memohon keselamatan dari mara bahaya, serta rezeki yang lebih di tahun mendatang.

Jolenan, menurutnya, berasal dari kata dasar jolen, kependekan dari kata aja lalen (bahasa jawa), atau jangan lupa. Kata ini mengandung makna mengingatkan kepada masyarakat Desa Somogari agar tidak lupa terhadap Tuhan pencipta alam, dan para leluhurnya yang telah berusaha mendirikan desanya.

Jolenan diwujudkan dalam bentuk gubungan yang terbuat dari anyaman bambu (ancak) yang ditutup dengan anyaman daun aren muda. Bentuk ini mengandung makna, segi empat di bawah menggambarkan hubungan sesama manusia di dunia. Kemudian ke atas semakin mengerucut, hal ini dimaksudkan semua kegiatan di dunia ini, pada akhirnya menyatu untuk menyembah kepada Tuhan sang pencipta.

Gunungan tersebut berisi nasi tumpeng, tiga ekor ayam panggang, berbagai macam sayur, pisang, beserta lauk. Kemudian bagian luar dihias dengan buah-buahan dan makanan kecil. Berbagai buah penghias merupakan hasil dari panenan masyarakat desa tersebut. Makanan kecil berbahan baku dari beras dan tepung (pati). Hal ini memberikan makna sebagai wujud hasil bumi Desa Somongari. Tiap RT mengirim dua buah jolen (gunungan), sehingga jumlahnya mencapai 48 buah.

Gunungan selanjutnya diarak dari ujung timur hingga ujung barat desa. Hal itu dimaksudkan, agar merata sehingga berkah dari Tuhan yang berupa penenan yang berlipat dapat dinikmati merata di seluruh desa. Gunungan dipikul oleh dua orang dengan menggunakan pakaian keprajuritan. Setelah selesai, dilaksanakan kenduri agung, makan tumpeng beserta ugarampenya bersama-sama masyarakat yang hadir, di halaman balai desa. Iring-irngan jolenan, disertai bebagai kesenian yang ada di desa tersebut, sepeti incling, warokan, kuda kepang, dolalak, rebana dan lain-lain.

Perayaan jolenan juga sebagai ungkapan terima kasih kepada para leluhur yang telah bersusah payah mendirikan desa. Dalam cerita rakyat yang diyakini masyarakat Desa Somongari, pendiri desanya bernama Lukajaya. Ia berasal dari Loano, menantu dari simbah Beluk atau Singonegoro. Waktu itu, entah tahun berapa, terjadi pagebluk, banyak musibah. Untuk mengatasi pagebluk itu, Singanegara, memerintahkan menantunya, Lukajaya, untuk memerintah desa tersebut, yang kini dikenal dengan Desa Somongari.

Disamping itu masih ada satu tokoh Desa Somongari yang saat ini masih menjadi panutan, yaitu Simbah Kedana-Kedini. Orang tersebut, konon berasal dari Yogyakarta Hadiningrat yang menetap dan meninggal di Desa Somongari. Beliau dikenal sebagai budayawan, senang dengan berbagai kesenian daerah. Makanya dalam perayaan tersebut diwujudkan dengan menampilkan seluruh kesenian yang ada. Bahkan kepercayaan yang ada di masyarakat, setiap grup kesenian yang akan pentas, telebih dahulu mengunjungi makamnya.

Hal itu dimaksudkan untuk mohon izin agar saat melaksanakan pentas selamat dari marabahaya. Hal senada disampikan H Paryono (70), warga Dusun Krajan RT/RW 02/01, Desa Somangari, bahwa tradisi “Jolenan” telah berjalan turun temurun entah sejak kapan, ia sendiri tidak tahu. Tradisi ini berdasarkan kepercayaan masyarakat, sebagai ritual ngebani tanaman yang tumbuh di desanya. Diharapkan setelah di kebani, tanaman akan tumbuh subur dan berbuah lebat.

Pada mulanya kegiatan tersebut sebagai sarana ngebani pohon maggis dan durian, dimana kedua jenis tananan buah tesebut merupakan penghasil utama Desa Somongari. Menurut ceritera yang ada, tanaman manggis dan durian, sudah ditanam sejak tahun 1700 an. Dengan demikian ritual “Jolenan” diperkirakan diselenggarakan tidak jauh dari tahun tersebut.


Untuk mendukung kegiatan, khususnya dari segi pembiayaan, masyarakat Desa Somongari di perantauan yang tergabung dalam paguyuban masyarakat Simongari (Pakis), selalu memberikan bantuan. Berdasarkan laporan ketua peguyuban, setidaknya ada 2000 orang Somangari yang berada di berbagai kota besar


13260907361554450929

Mas Gayot

www.lintas-copas.blogspot.com