Minggu, 11 November 2012

Kabba dalam Tinjauan Sejarah Kekaraengan

13262594221442973849

Buku

Menarik untuk mengulas kembali posisi dan kedudukan Kabba dalam konteks Sejarah Kekaraengan antara Pangkajene dan Marusu’. Kabba saat ini adalah suatu wilayah Desa dalam lingkup wilayah Kecamatan Minasate’ne, Kabupaten Pangkep. Dalam buku “Sejarah Kekaraengan di Pangkep” (Pustaka Refleksi, 2008), disebutkan bahwa Kampung Kabba pada permulaan Abad XVII masuk pada wilayah Kekaraengan Barasa, sebagai penerus dari Dinasti Kekuasaan Kerajaan Siang dan Barasa.

Sewaktu Gowa menaklukkan Barasa, kampong Ka’ba tidak berpenduduk. Tidak lama kemudian kampong tersebut bangkit kembali atas usaha dari seorang yang bernama La Mandjorang atau La Mannyarang. Dalam “Sejarah Kekaraengan di Pangkep” (Makkulau, 2008), disebutkan bahwa La Mannyarang adalah seorang keturunan Raja dari Binamu (Jeneponto), beliau bermukim di Bontoa, dengan persetujuan dari Raja Gowa. Mula – mulanya Bontoa hanya merupakan kegallarangan, kemudian baru ditingkatkan menjadi kekaraengan.



1326259545112635831

Kalompoang Kekaraengan Bontoa di Maros. (foto : ist).



Ada beberapa hal yang perlu dikaji serius terkait informasi diatas (Makkulau, 2008) yang mengutip Majalah Sulawesi (Benny Syamsuddin, 1989) dengan informasi yang disebutkan dalam ”Sejarah Kekaraengan Bontoa di Maros” (Aspar, 2011). Informasi tentang Kampung Kabba hanya sedikit sekali disinggung dalam Buku ”Sejarah Kekaraengan Pangkep” dalam Bab yang membahas tentang ”Sejarah Kekaraengan Pangkajene” sedangkan dalam Buku ”Sejarah Kekaraengan Bontoa di Maros” memang Bontoa menjadi fokus utama, terkait masa kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan Bontoa serta hubungannya dengan kekuasaan lokal lainnya di Maros (Toddo Limayya ri Marusu’).


Pertama, soal masa sejarah. Saya lebih condong untuk sepakat dengan Informasi yang disebutkan dalam ”Sejarah Kekaraengan Bontoa di Maros” (Aspar, 2011). Jika dibandingkan antara Abad XVII dan Abad XV, saat awal dijadikannya Bontoa (termasuk didalamnya Kabba) sebagai wilayah kekuasaan lokal yang didirikan La Mannyarang. Abad XVII merupakan masa dimana sudah terjadi dinamisasi politik luar biasa Bone Vs Gowa yang berujung pada terjadinya Perang Makassar, sedangkan akhir Abad XV merujuk kepada masa pemerintahan Raja Gowa X, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546 – 1565).

1326259621835390804

Stempel Regent / Karaeng Kabba. (foto : hm.luthfi hanafi).




Kedua, Asal Muasal I Mannyarang atau La Mandjorang. Dalam Makkulau (2008) disebutkan bahwa La Mannyarang adalah keturunan Raja Binamu, sedangkan Aspar (2011) menyebutkan La Mannyarang adalah keturunan Raja Bangkala. Selanjutnya Aspar (2011) menyebutkan bahwa Bangkala merupakan salah satu Wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa pada Masa pemerintahan Sombayya Ri Gowa Tunipallangga Raja Gowa Ke X bernama I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546 – 1565) sebagaimana tercatat dalam Lontaraq Silsilah Karaeng Ujung Moncong dimana tertulis nama Karaeng Labbua Talibannanna Anak dari Atinna Bangkala yang menikah dengan Karaeng Ujung Moncong.


Ketiga, Posisi / Potensi Kabba dan Bontoa. Dalam Makkulau (2008), Disebutkan bahwa Kampung Kabba didirikan oleh La Mandjorang atau La Mannyarang bersama dengan Orang – orang dari Binamu mencetak sawah dan membuat perkampungan baru di bekas kampung yang kosong tersebut. Pada saat didirikan Kampung Ka’ba berada dibawah kekuasaan La Mandjorang, yang ketika itu masuk dalam daerah kekuasaan kegallarangan Bontowa sampai Tahun 1824. Kemudian Kampung Ka’ba bersama beberapa kampong lainnya, seperti BanggaE, Japing – japing, Soreang, Pareang, Kalibone, Taraweang – Kabba, Galungboko, Udjung, Panaikang, Biringere, Tuarang, Massi, Djannae’ dan Pangkeng Sakiang dipisahkan dari Bontoa dan digabungkan menjadi sebuah kesullewatangan (Sullewatangchap) yang dinamai Ka’ba atau Wera.



13262597281568179962

Baju Perang / Prajurit Kabba. (foto : hm.luthfi hanafi).




Sementara Aspar (2011) menyebutkan dua versi kedudukan Bontoa pada saat kedatangan La Manyyarang di Bontoa di akhir Abad XV. Pertama, Bontoa berada dalam wilayah kerajaan Marusu sebelum dibuka oleh I Mannyarang Putra Raja Bangkala Jene’ponto yang menjadi utusan Raja Gowa, namun dalam Lontara Riwayat Karaeng Loe Ri Marusu tidak menempatkan Bontoa sebagai salah satu wilayah kekuasaan Karaeng Marusu sebagaimana tercatat dalam Lontaraq yang ditulis I Sahban Daeng Masikki 1889 milik A. Fachry Makkassau demikian halnya oleh W Cummings dalam Reppeading The Histories Of Maros Chronicle.



Dalam Lontara tersebut dijelaskan bahwa atas inisiatif Karaeng Marusu Ke X La Mamma Daeng Marewa (1723 – 1779) sehingga terbentuklah ikatan diantara para raja yang berada disekitar wilayah Kerajaan Marusu dalam suatu Falsafah Ma’bulo Sibatang selanjutnya dikenal dengan nama Toddo Limayya Ri Marusu yaitu Marusu, Simbang, Bontoa, Tanralili dan Raya. Sementara pada masa awal pendirian Bontoa, Aspar (2011) menduga ekspedisi La Mannyarang terkait dengan perintah Raja Gowa untuk memperluas wilayah kekuasaannya atau secara pribadi yang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Raja Gowa.



1326259867320160509

Makam La Mannyarang di Bontoa, yang oleh masyarakat setempat menyebutnya




Dari Narasi tutur yang berkembang, didapatkan informasi bahwa Ekspedisi La Mannyarang mengembang tugas membantu Gowa meluaskan wilayah dominasi, sampailah ia pada suatu daerah pesisir utara Kerajaan Marusu—yang kemudian diberinya nama Panaikang, Pa’rasangan Beru dan Panjallingan—dan melihat dataran yang agak tinggi yang disebutnya Bonto atau Bontoa. Kedatangan La Mannyarang diceritakan mengunakan Perahu Layar lengkap dengan atribut kebesaran kerajaan Gowa, sebagaimana dicatat adanya kesamaaan nama daerah dengan tempat asal La Mannyarang di Bangkala (Jene’ponto), terdapat pula kampung Panaikang, Pa’rasangan Beru dan Bontoa. Raja Gowa kemudian mengangkat La Mannyarang sebagai Gallarang Bontoa dan diberikan Cinde (bendera) sebagai simbol Kebesaran dan Kekuasaan Karaeng Bontoa dari Raja Gowa.


Selanjutnya, menarik pula untuk disimak, slsilah JAB van de Broor dalam tulisannya tentang Randji silsilah Regent Van Bontoa (1928) yang kini dirumahkan oleh Keluarga Muhammad Aspar bahwa Bontoa sudah menjadi salah satu wilayah Kerajaan Marusu sampai akhirnya La Mannyarang datang sebagai utusan Raja Gowa untuk memperluas wilayah kekuasaannya sehingga Karaeng Marusu mempersilahkan La Mannyarang membuka daerah baru yang kemudian dinamainya Bontoa. Randji Silsilah yang dipegang Muhammad Aspar sebagai keturunan Karaeng Bontoa terakhir juga mencatat keteguhan keluarga bangsawan Generasi I Mannyarang yang sulit atau selalu menyulitkan (tidak mau bekerja sama) dengan Pemerintah Hindia Belanda sehingga Karaeng Bontoa dari Generasi La Mannyarang diberhentikan dan selanjutnya Belanda mengangkat penguasa baru sebagai Hoofd Distrik Bontoa.




1326260014493993617

Wilayah Bontoa saat ini, salah satu kecamatan dalam lingkup Kabupaten Maros. (ist).



Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah Apakah Kabba sudah menjadi bagian dari Bontoa, suatu wilayah kegallarangan yang didirikan La Mannyarang atas restu Raja Gowa ataukah sejak awal Kabba adalah satu wilayah tersendiri dalam lingkup wilayah Kekuasaan Barasa dan Siang, yang kemudian dijadikan pula wilayah Gowa, menyatu dengan kegallarangan Bontoa, mengingat pada saat La Mannyarang datang ke Bontoa, Kampong Kabba dalam keadaan tidak berpenduduk serta baik Siang maupun Barasa ketika itu sudah menjadi pula wilayah dominasi Gowa, lewat kawin – mawin.


Pertanyaan berikutnya yang perlu ditelusuri adalah posisi Kabba terhadap Barasa (Pangkajene) sebagai penerus Dinasti Siang dan posisinya terhadap Bontoa (Marusu’). Dua peninggalan sejarah Kabba saat ini berupa Stempel dan Baju Perang (saat ini dirumahkan oleh keluarga H. Hanafi Rahim) masih sangat sulit diduga masa keberadaannya dan maksud keberadaannya sebagai “satu unit teritori politik mandiri”, baik dalam wilayah Barasa ataupun dalam wilayah Bontoa. Hal ini sangat penting untuk mendapatkan kajian lebih lanjut agar diketahui juga strategi dan politik ekspansi dari Gowa serta kedudukannya kekuasaan lokal lainnya terhadap Gowa sebelum dan sesudah Perang Makassar (1667).



1326260213994489210

Karaeng Bontoa terakhir dan isteri. (foto dok. keluarga Aspar).




Sedikit catatan yang saya dapatkan dari artikel Benny Syamsuddin (Majalah Sulawesi, 1989 dalam Makkulau, 2008) menyebutkan bahwa Setelah Tahun 1874, Kabba merupakan satu wilayah kekaraengan Pangkajene yang dipimpin seorang Sullewatang bernama La Sailile Daeng Mananring berhenti dengan hormat dari jabatannya, maka jabatan Sullewatang di Kabba ditiadakan dan ke 15 Kampung di wilayahnya digabungkan pada Kekaraengan Pangkajene.


Pada mulanya rakyat Kabba tidak menyetujui penggabungan itu, tetapi sewaktu Andi Djayalangkara Daeng Sitaba menjadi Karaeng (Regent) di Pangkajene keberatan rakyat dapat diredakan dalam Tahun 1893. Hal tersebut terwujud karena adanya perkawinan Andi Djayalangkara dengan Indo Ma’daung, kemudian sewaktu suaminya meninggal dunia, dia digelar Petta WaluE Karaeng Lekoboddong, seorang bangsawan Ka’ba. Dari perkawinannya, lahir beberapa anak, yaitu Andi Dongkang Daeng Massikki karaeng Mandalle, Andi Mauraga Daeng Malliungang (Karaeng Pangkajene), Andi Mattorangpage Daeng Mamangung (Bestuur Assisten Kl. I dan Karaeng Pangkajene), Andi Hasan Daeng Pawawoi dan Andi Kanna Daeng Situdju. (Makkulau, 2008). (*)

M Farid W Makkulau



www.lintas-copas.blogspot.com