Kamis, 08 November 2012

Ki Hajar Dewantara Dalam Pola Pikir Pendidikan

Berbicara tentang Ki Hajar Dewantara, tentunya tidak lepas relevansinya dari sejarah pemikirannya yang mendasari berdirinya Taman Siswa di 1922. Terkait dengan hal itu sejarah pemikiran atau intellectual history dapat didefinisikan sebagai usaha manusia untuk memahami pengalaman manusia dimasa lampau di dalam menganalisa pemikiran-pemikiran yang hadir pada masa itu.
Semua perbuatan manusia pasti dipengaruhi pemikiran, karenanya sebagai sosok yang berpikir manusia tidak bisa lepas dari dunia kontemplatif. Manusia selalu bercita-cita ingin maraih kehidupan yang sejahtera dan bahagia dalam arti yang luas, baik lahiriah maupun batiniah, duniawi dan ukhrawi. Namun, cita-cita demikian tidak mungkin dicapai jika manusia itu sendiri tidak berusaha keras meningkatkan kemampuannya seoptimal mungkin melalui proses kependidikan karena di dalam proses kependidikan terdapat suatu kegiatan secara bertahap berdasarkan perencanaan yang matang untuk mencapai cita-citanya. Semakin tinggi ekspektasi manusia, semakin besar pula tuntutan kepada progresivitas mutu pendidikan sebagai sarana untuk mencapai cita-cita tersebut.



itu, pendidikan menjadi refleksi dari cita-cita kelompok manusia, sekaligus menjadi lembaga yang mampu mengubah dan meningkatkan cita-cita tersebut untuk tidak terbelakang dan statis. Sadar akan hal itu, RM Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara telah mendekati proses pendidikan itu dalam sebuah pemikiran cerdas untuk mendirikan sekolah taman siswanya, jauh sebelum Indonesia mengenal arti kemerdekaan. Kembali pada faktual historis pada pendidikan kolonial sebelum masa pergerakan Nasional, yang menjadi cikal bakal lahirnya taman siswa, tampak sekali bahwa Belanda belum bersungguh-sungguh terhadap pengajaran rakyat. Pengajaran bagi bumi putera selalu mengalami penundaan. Perluasan sekolah selalu mengalami hambatan dan tantangan. Langkah demikian sengaja dilaksanakan oleh Belanda agar bangsa Indonesia tetap tidak berpendidikan. Mereka menyadari bahwa perluasan sekolah-sekolah bagi rakyat merupakan bahaya besar bagi kedudukannya sebagai penjajah.


Sekolah yang mereka dirikan bukan untuk mendidik bangsa Indonesia menjadi manusia cerdas dan terampil, akan tetapi tujuan utamanya adalah memberi kemudahan bagi pemerintah Belanda untuk memenuhi kebutuhan akan pegawai rendah . Konsepsi Taman Siswa pun coba dituangkan Ki Hajar Dewantara dalam solusi menyikapi kegelisahan-kegelisahan rakyat terhadap kondisi pendidikan yang terjadi saat itu. Kelahiran Taman Siswa 3 Juli 1922 dinilai sebagai titik balik dalam pergerakan Indonesia. Kaum revolusioner yang mencoba menggerakkan rakyat dengan semboyan asing dan ajaran marxis, terpaksa memberikan ruang untuk gerakan ini, benar-benar berasaskan kebangsaan dan bersikap non kooperatif dengan pemerintah kolonial. Sebuah wujud ekspresivitas tinggi dalam memberikan kesadaran kepada Bangsa Indonesia umumnya bahwa kita sebagai bangsa haruslah memikirkan pendidikan agar dapat membentuk manusia susila yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah airnya yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah airnya.



Berangkat dari pemahaman itulah, perlunya kita untuk mengetahui kembali pemikiran cerdas yang pernah digulirkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam upayanya tersebut, bagaimana asas dan dasar yang diterapkan Taman Siswa dalam usaha untuk merintis pendidikan di Indonesia. Apakah pendidikan Indonesia sekarang sudah menggambarkan pola pikir pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara dahulu. Hal menarik untuk dikaji secara mendalam lagi, karena bisa saja eksplanasi yang didapatkan dari kajian ini menjadi carian solusi yang berguna untuk dunia pendidikan di Indonesia.


Orientasi Asas Dan Dasar Taman Siswa Dari Ki Hajar Dewantara Pernyataan asas Taman Siswa di tahun 1922 diupayakan sebagai asas perjuangan yang diperlukan pada waktu itu menjelaskan sifat taman siswa pada umumnya. Asas yang memuat 7 pasal tersebut secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut. Pasal ke-1 dan 2 mengandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Bila diterapkan kepada pelaksanaan pengajaran maka hal itu merupakan upaya di dalam mendidik murid-murid supaya dapat berperasaan, berpikiran dan bekerja merdeka demi pencapaian tujuannya. Pasal 1 juga menerangkan perlunya kemajuan sejati untuk diperoleh dalam perkembangan kodrati. Dasar ini mewujudkan “sistem-among” yang salah satu seginya ialah mewajibkan guru-guru sebagai pemimpin yang berdiri di belakang tetapi mempengaruhi dengan memberi kesempatan anak didik untuk berjalan sendiri. Inilah yang disebut dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”. Pasal ke-3 menyinggung masalah kepentingan sosial, ekonomi dan politik kecenderungan dari bangsa kita untuk menyesuaikan diri dengan hidup dan penghidupan ke barat-baratan telah menimbulkan kekacauan.


Sistem pengajaran yang terlampau memikirkan kecerdasan pikiran yang melanggar dasar-dasar kodrati yag terdapat dalam kebudayaan sendiri. Pasal ke-4 menyangkut tentang dasar kerakyatan untuk memepertinggi pengajaran yang dianggap perlu dengan memperluas pengajarannya. Pasal ke-5 memiliki pokok asas untuk percaya kepada kekuatan sendiri. Pasal ke-6 berisi persyarat dalam keharusan untuk membelanjai sendiri segala usaha Taman Siswa. Dan pasal ke-7 mengharuskan adanya keikhlasan lahir-batin bagi guru-guru untuk mendekati anak didiknya. Pernyataan asas yang berisi 7 pasal tersebut, sesungguhnya merupakan pengalaman dan pengetahuan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan barat yang mengusahakan kebahagian diri, bangsa dan kemanusiaan.



Adapun Dasar Taman Siswa di tahun 1947 merupakan susunan dasar yang memuat perincian dasar-dasar yang terpakai di dalam Taman Siswa sejak berdirinya di 1922 hingga seterusnya, baik yang terkandung di dalam keterangan asas-asasnya maupun yang terdapat di dalam segala peraturannya. Dasar Taman Siswa tahun 1947 terkenal dengan nama Panca Dharma yang memuat : 1. Dasar Kemerdekaan 2. Dasar Kebangsaan 3. Dasar Kemanusiaan 4. Dasar Kebudayaan 5. Dasar Kodrat Alam Kesemua dasar ini sama sekali tidak bertentangan dengan asas 1922 yang menjadi pijakan awal Ki Hajar Dewantara dalam merintis pendidikan di Indonesia, karena poin-poin penting yang termaktub dalam dasar Taman Siswa ini hanyalah mempertegas dari hal-hal yang telah dikemukan dalam Asas Taman Siswa.



Berkaca dari hal ini, mungkin kita bisa mengakui kapabilitas seorang Ki Hajar Dewantara dalam merumuskan pemikiran-pemikiran yang sejatinya belum dimiliki oleh sebagian kalangan pada saat itu. Pemikiran cerdas di dalam memberikan tuntunan dasar akan pentingnya keteladanan, keuletan dan kesabaran di dalam belajar telah menjadi esensi penting di dalam modal utama untuk memperbaiki kualitas pendidikan saat ini. Apalagi kenyataan sekarang di dalam dunia pendidikan, sangatlah berbeda jauh dengan apa yang diperlihatkan Ki Hajar Dewantara dahulu. Bahkan boleh dikatakan bahwa pendidikan sekarang tidak bisa memaknai pola pikir pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara dahulu. Misalnya saja di dalam poin ke-7 di dalam asas Taman Siswa, yang sedikit sekali diterapkan oleh kalangan pendidik. Keikhlasan lahir batin bagi pendidik untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kurang begitu ditanamkan dewasa ini, mengingat semua pengabdian mesti tereprisalkan dalam bentuk materi (uang).


Oleh karena itu, dalam era sekarang eksistensi roh pendidikan seperti yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara hendaknya tetap menjadi pola-pola pikir yang terus didayakan oleh generasi muda, karena bagaimanapun juga mengubah Indonesia menjadi lepas dari belenggu penjajahan tidak lain adalah karena pendidikan.
HARIS ZAKY MUBARAK


www.lintas-copas.blogspot.com