Jumat, 02 November 2012

Kisah Stephen dan Henry II dari Inggris

Raja Stephen dan Raja Henry II dari Inggris



Di Eropa, hingga akhir abad ke-18, bangsawan adalah merupakan arus utama dalam masyarakat dan memegang peranan penting. Bahkan hingga saat ini, Inggris masih tetap mempertahankan posisi dan gelar kebangsawanannya.

Ketika era kebangsawanan di masyarakat Barat menjadi era masyarakat sipil, keturunan bangsawan tidak mengeritik kebudayaan kebangsawanan mereka. Sebaliknya, mereka mengirim anak-anak mereka ke sekolah elite untuk belajar, dilengkapi dengan segala tata krama dari alat alat kebesaran atau perlengkapan kebesaran, lencana dan gelar bangsawan, sehingga mereka dapat mewarisi sifat mulia kebangsawanan sepenuhnya.

Mengenai kebangsawanan di Inggris, wartawan China Chu Anping pernah berkata bahwa alasan mengapa kebangsawanan di Inggris tetap bertahan hingga hari ini karena mendapat pengakuan dari publik. Rakyat Inggris percaya bahwa semangat kebangsawanan mewakili martabat dan karakter yang luar biasa.

Raja Henry I dari Inggris mangkat di tahun 1135. Keponakannya Stephen dan cucunya, Henry II mengganggap diri mereka sendiri sebagai pewaris tahta kerajaan. Pada saat itu Stephen berada di Inggris dan menduduki tahta. Henry II di benua Eropa sangat murka ketika mendengar hal itu dan mengatur tentara untuk menyerang Stephen. Henry II pada saat itu sangat muda, tidak berpengalaman dan tidak membuat rencana yang matang. Ketika tentaranya mendarat di pantai Kepulauan Inggris, tentara Henry kekurangan uang dan makanan.

Apa yang kemudian Henry II lakukan? Dia menulis surat kepada Stephen untuk meminta bantuan. Dia memberitahukan kepada Stephen bahwa dia tidak membuat rencana yang matang; tentaranya kekurangan makanan. Dia meminta bantuan dari Stephen agar dia dapat mengirim tentaranya kembali ke Eropa. Stephen yang murah hati memberikan bantuan yang diminta oleh Henry II.

Memang [tidak semua, tetapi beberapa] bangsawan Eropa sangat toleran dengan musuhnya. Beberapa tahun kemudian, Henry II tumbuh besar dan menjadi lebih dewasa, dia kemudian memimpin tentara yang besar untuk kembali merebut tahta resminya dari Stephen. Kali ini, dia memenangkan perang. Hasil perang yang menarik adalah dia menandatangani perjanjian dengan Stephen, yaitu Stephen akan terus menjadi raja dan Henry II akan menjadi pewaris tahta setelah Stephen mangkat.

Cerita berikut ini juga sangat dramatis.

Dua anak dari Edward III dari Lancaster dan keturunan dari Duke of York tertarik dengan tahta kerajaan Inggris. Ini menyebabkan terjadinya perang sipil diantara dua keluarga. Henry VII dari Lancester menikahi anak perempuan Duke of York. Setelah pernikahan tersebut, Duke of Lancaster dan Duke of York menjadi bersatu dan mendirikan Dinasti Tudor.

Beberapa politik Eropa memiliki tradisi khusus – seorang raja, meskipun telah dijatuhkan dari tampuk kekuasaan, akan tetap menerima rasa hormat yang besar, yang merupakan refleksi dari sifat kesatria. Inilah menjadi alasan mengapa pertempuran merebut kekuasaan di Eropa tidak akan menyebabkan penghapusan dari seluruh klan atau marga musuh anda.

www.lintas-copas.blogspot.com