Kamis, 15 November 2012

Mengenal Shamsuddin As Sumatrany

Saya tertarik mengulas sosok Syeikh Shamsuddin bin Abdullah As Sumatrany yang menjadi pendamping setia Sultan Iskandar Muda (1607-1636) sampai dia mangkat dan dikebumikan di Melaka Malaysia demi membela marwah negerinya dari penjajahan Portugis. Syeikh Shamsuddin bin abdullah As Sumatrani merupakan tokoh besar dunia Islam, namun kini dilupakan oleh anak negerinya. Walau mereka selalu mendengungkan “demi marwah indatu”, namun nama jalan pun tidak kita temukan atas namanya, baik di tempat kelahirannya Aceh maupun di Bumi Melaka, Malaysia, tempat mengakhiri hidupnya.

Dalam Hikayat Aceh, disebutkan bahwa Syeikh Shamsuddin bin abdullah As Sumatrany menjadi guru Sultan Iskandar Muda sejak kecil, bahkan ketika Iskandar Muda berusia 13 tahun. Dia mengajarkan ilmu bela diri kepada sultan hingga khatam.

Dalam catatan orang Eropa yang berjumpa Syeikh Syamsuddin bi Abdullah As Sumatrany seperti Frederick de Houtman dalam bukunya Cort Verhael van’t Wedervaren is Frederick de Houtman, Tot Atchein (1603) menyatakan, Syeikh Shamsuddin bi Abdullah As Sumatrany sebagai penasihat agung Sultan Saidil Mukammil. Syeikh ini sempat mengajak dia masuk Islam.

Pengaruh Syeikh Shamsuddin dalam kerajaan Aceh Darussalam dicatat juga oleh Sir James Lacaster ketika berkunjung ke Aceh pada tahun 1602. Dalam bukunya The Voyages of Sir James Lascaster, Lacaster menyebut Syeikh Shamsuddin sebagai “a man of great estimation with the king and the peoples.” James Lacaster ditanyakan oleh Syeikh Shamsuddin, “Sir, what reasons shall we show to the king, from you whereby he may grants these things which you have demanded to be granted by him.”

Pengaruh Syeikh Shamsuddin dalam kerajaan Aceh Darussalam dicatat juga oleh Sir James Lacaster ketika berkunjung ke Aceh pada tahun 1602. Dalam bukunya The Voyages of Sir James Lascaster, Lacaster menyebut Syeikh Shamsuddin sebagai “a man of great estimation with the king and the peoples (seorang pria yang memiliki pengaruh besar terhadap raja dan rakyat). ” James Lacaster bahkan ditanyakan oleh Syeikh Shamsuddin, “Sir, what reasons shall we show to the king, from you whereby he may grants these things which you have demanded to be granted by him (Alasan apa yang akan kami tunjukkan kepada raja, agar dia mengabulkan permintaan Anda).”

Di sini bisa kita lihat bagaimana kuatnya pengaruh ulama ini dalam kesultanan Aceh, bahkan sebelum Iskandar Muda naik tahta pada tahun 1607. Sebagai perbandingan pengaruhnya dalam kekuasaan, T Iskandar (Hikayat Aceh:1993) menyamakan Syeikh Shamsuddin ini dengan Abdul Fadhl, penasihat Raja Moghol Akbar Syah (India), dimana istana Aceh, menurutnya, sedikit banyaknya dapat disamakan dengan istana raja-raja Moghol.

Dalam catatan sejarah, perang Aceh dengan Portugis yang dimulai sejak tahun 1511, sewaktu Melaka Jatuh ke tangan Portugis, pemimpin Aceh berikrar bahwa Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu harus bebas dari pengaruh kolonialisme Portugis. Maka beberapa kali tentara Aceh dikirim ke Semenanjung untuk mengusir Portugis di Melaka sejak masa Sultan Alauddin Riayatsyah Al Qahhar (1537-1568) sampai pada masa pemerintahan Iskandar Muda (1607-1636).

Hikayat Malem Dagang juga mencatatkan persiapan Sultan Iskandar Muda untuk mengusir penjajah di Tanah Melayu sebagai berikut “Toeankoe, neukrah alem ngon paki, sigala wadi ngon oelama. Toeankoe, neukrah ban doea blaih karong, beu habeh djitron ban sineuna, Tapeuget kapaj meung toedjoh reutoih djeumeurang aroih taprang Meulaka.”

Pada tahun 1627, Iskandar Muda mengirim 20 ribu tentara ke Melaka untuk mengusir Portugis. Dalam rombongan ini ikut ulama kharismatik kerajaan Aceh Darussalam Syeikh Shamsuddin bi Abdullah As Sumatrany. Banyak pembesar pembesar Melayu dari Pahang, Johor, dan Pattani berkhianat terhadap Aceh dan membantu Portugis. Akibatnya, sebagian

besar tentara Aceh syahid di Melaka termasuk Syeikh Shamsuddin As Sumatrany, Panglima Pidie, dan Malem Dagang. Nurdin Ar Raniry dalam kitabnya Bustanus Salatin, menyatakan, syahidnya Syeikh Shamsuddin As Sumatrany, karena berkhianatnya pembesar pembesar Melayu, juga perselisihan paham dalam kepemimpinan tentara Aceh antara Perdana Menteri Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja dan Orang Kaya Laksamana.

Di sini Nurdin Ar-Raniry menyebutkan, “Kemudian dari itu dititahkan Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja dan Orang Kaya Laksamana menyerang Melaka, pada tatkala Hijrah 1038 tahun, tetapi tiada kalah karena berbantah antara dua orang panglima itu. Pada ketika itulah segala

orang Islam banyak yang syahid, syahadan pada masa itulah wafat Syeikh Shamsuddin ibn Abdullah As Sumaterani, pada malam Isnin, dua belas hari bulan Rejab, pada Hijrah 1039 tahun. Adalah syeikh itu alim pada segala ilmu, dan ialah yang termasyhur alamnya pada ilmu tasawuf, dan beberapa kitab ditaklifkannya. Syeikh Shamsuddin telah menghadap Khaliknya di Melaka dan dikebumikan di Kampung Ketek, untuk sampai ke sana memang agak susah karena dikelilingi oleh pemukiman orang China, tidak jauh dari makamnya terdapat makam Panglima Pidie serta ribuan tentara Aceh yang syahid pada saat itu dalam melawan Portugis dan pengkianatan bangsanya.”

Karya-karyanya
Dari telusuran penulis ditemukan bahwa Syeikh Syamsuddin bin Abdullah As Sumatrany disamping menjadi mufti Kerajaan Islam Aceh Darussalam dari masa Sultan Saidil Mukammil (1596–1604), Sultan Ali Riayatsyah (1604 – 1607), dan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636), Syeikh ini juga penulis yang produktif. Karya karyanya sebagai berikut: Jawahirul Haqaiq, Tanbiihuth-Thullab fil Ma’rifati Malikil-Wahab, Risalatul-Baiyin Mulahazat Al-Muwahhidina ‘Alat-Muhtadi fi Zikrillah, Kitabul Harakah, dan Nurul Daqaiq. Adapun dalam bahasa Melayu, kitab beliau Mir ‘aatul Iman, Mir ‘aatul Mu’minin, Syarah Mir’aatul Qulub Mir ‘aatul Haqiqah.

Mengenai ajaran tasawuf di Aceh yang dikembangkan oleh Syeikh Syamsuddin As Sumatrany dan Hamzah Fansuri, diklaim sesat oleh Nurdin Arraniry dalam kitabnya At Tibyanul fi Ma’rifati A’yaan. Akan tetapi, pandangan tersebut dibantah oleh Syeikh Ahmad Qusyasyi, yang

menyatakan bahwa ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh ulama besar Aceh ini tidak sesat, tidak bid’ah, dan ajarannya adalah menurut hak yang sebenarnya (Wan Mohd. Shaghir Abdullah, Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As-Sumatrany, 1976, hal 62).

Akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa ulama ini merupakan salah seorang ulama, penasihat, pengarang, mujahid, dan sufi yang sangat terkenal sampai saat ini. Lima kekuatan dalam diri Syeikh inilah yang menjadi payung kerajaan Islam Aceh. Sampat hari ini, mencari ulama sekaliber ini tentu saja menjadi harapan semua orang.
M Adli Abdullah

www.lintas-copas.blogspot.com