Minggu, 04 November 2012

Misteri di Balik Sinar Hijau Kalajengking


Kulit yang membungkus tubuh kalajengking mampu berfungsi sebagai sensor cahaya. Ia akan menyampaikan informasi itu ke sistem syaraf dan memungkinkan mereka bergerak di kegelapan. (dailymail.co.uk)

Kulit yang membungkus tubuh kalajengking mampu berfungsi sebagai sensor cahaya.

Para peneliti telah berhasil mengungkapkan mengapa kalajengking bersinar hijau saat terkena sinar matahari. Kemampuan memancarkan sinar hijau terang ini sudah diketahu sejak lama, namun sampai sebelum ini, peneliti penasaran bagaimana hewan itu bisa punya kemampuan tersebut.

Douglas Gaffin, biolog dari University of Oklahoma yang melakukan investigasi terhadap cahaya pendaran kalajengking menemukan bahwa makhluk itu bisa ‘merasakan’ kehadiran cahaya menggunakan ekor mereka. Ia kemungkinan mengembangkan kemampuan ini untuk membantu mereka bergerak di bawah bebatuan dan kegelapan.

“Kalajengking merupakan hewan malam yang bergerak secara mandiri dan mampu memancarkan sinar cyan-hijau di bawah sinar ultraviolet,” sebut Gaffin dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Animal Behaviour. “Namun fungsi pendaran cahaya itu masih misterius,” ucapnya.

Dikutip dari DailyMail, 3 Januari 2012, Gaffin dan timnya kemudian ‘menutup mata’ kalajengking dan menguji mereka dengan berbagai variasi warna cahaya. Ternyata, diketahui bahwa ekor mereka tampaknya memiliki fungsi seperti ‘mata’ kedua bagi kalajengking.

Cangkang seluruh tubuh hewan ini sendiri bekerja bagai ‘sensor’ yang mampu menghantarkan informasi terkait cahaya ke sistem syaraf. Artinya, setiap bagian tubuh kalajengking sebenarnya bisa ‘melihat’.

“Kalajengking dapat menggunakan informasi tersebut untuk mendeteksi tempat perlindungan, dan menutup bagian manapun dari cuticle itu bisa mengurangi sinyal yang didapat,” sebut Gaffin.

www.lintas-copas.blogspot.com