Selasa, 06 November 2012

Mohammad Husni Thamrin; Sahabat Bung Karno Dimasa Sulit

Mohammad Husni Thamrin;



Sahabat Bung Karno Dimasa Sulit.





Persahabatan sejati mampu mengatasi perbedaan, ia tidak hanya hadir dikala suka, tapi akan lebih mengental dimasa duka. Ikatan persahabatan seperti inilah yang terjadi antara Soekarno (Bung Karno) dengan Mohammad Husni Thamrin (M H Thamrin).


Dalam perjuangan menuju Indonesia merdeka, Soekarno dan Thamrin menempuh taktik berbeda, Soekarno di garis non-cooperative, lebih mengandalkan aksi massa di lapangan. Sedangkan Thamrin memilih berada di jalur cooperative, dan gugatannya terhadap kolonial Belanda ia suarakan melalui forum Volksraad (Dewan Rakyat). Akan keduanya memiliki persamaan prinsip yakni mengutamakan persatuan nasional, sehingga perjuangan menuju kemerdekaan merupakan gerakan bersama dari seluruh elemen bangsa.



Mungkin saja, perbedaan pilihan taktis ini karena keduanya memiliki latar belakang pembawaan dan karakter pribadi yang berbeda. Soekarno, adalah pribadi yang penuh pesona. Penampilannya memiliki daya magnetik yang kuat, dan serta gelora kata-katanya mampu menggetarkan hati pendengarnya. Imajinasinya melayang jauh ke depan, membuat ia lebih tertarik pada masalah-masalah besar yang tentu tidak selalu dapat dipahami dengan mudah oleh rakyat kecil.


Sedangkan M H Thamrin, pembawaannya yang santun dan tenang lebih mencerminkan sosok seorang pekerja keras yang dengan teliti memperhatikan berbagai persoalan yang dihadapi rakyat kecil seperti pemukiman dan perumahan, sandang pangan, lapangan kerja, dan sebagainya.


Banyaknya perbedaan, baik dalam gaya, karakter serta pilihan taktis perjuangan, namun tidak berpengaruh terhadap keakraban hubungan antara keduanya. Dalam sejarah, Soekarno terkenal orator ulung yang mampu membakar hati rakyat, sementara Thamrin melalui forum Volksraad terkenal piawai melontarkan kata-kata tajam menusuk lambung penguasa kolonial.


Keakraban Soekarno – Thamrin tampak merupakan al-kimia sejarah, karena dengan perbedaan yang begitu besar diantara mereka berdua, ternyata bisa menjadi satu formulasi yang kompak dan amat bermakna bagi kehidupan pegerakan nasional. Bahkan bagi keluarga Soekarno, Thamrin adalah jadi penawar dikala duka sebagaimana pengakuan Inggit Ganarsih, isteri Soekarno saat itu.


Agaknya, banyak kalangan yang belum tahu, bahwa dengan bantuan Thamrin dan Sartono pula Soekarno dapat menyusun pledoi legendaris berjudul “Indonesia Menggugat. Tentang hal ini, Inggit menuturkan:



“Selain naskah yang diperlukan Kusno, ada sehelai amplop buatku. Waktu aku buka amplop itu ternyata di dalamnya ada uang lima puluh gulden, jumlah yang lumayan. Betapa girangnya aku, tidak bisa aku lukiskan. Bantuan dari Sartono dan Thamrin itu –begitu ditulis oleh Sartono dalam suratnya kepadaku—datangnya tepat pada waktu aku memerlukannya sekali.” (Ramadhan K H “Kuantar ke Gerbang, Kisah Cinta Inggit dan Sukarno” hal 119)


Kendati sehari-hari Thamrin tinggal di Jakarta, namun ia merasa perlu meluangkan waktu untuk khusus datang ke Bandung, menjemput kawannya, saat Soekarno bebas dari penjara. Bagi Thamrin, berita pembebasan Soekarno dari penjara tampak suatu yang amat menggembirakan sehingga pagi-pagi sekali ia sudah berada di rumah Soekarno. Tentang hal ini, Inggit mengisahkan:


“Pagi-pagi sekali kami sudah kumpul di rumah. Thamrin sudah menjemput dengan mobilnya. … Aku dan Omi ditempatkan di dalam mobil Thamrin bersama Sartono meluncur paling depan. Paling menonjol diantara mobil-mobil itu adalah taksi Mang Ada karena ia memasang bendera partai “merah putih dengan banteng utuh” di atas radiator mobilnya. (hal 185)



Akrabnya pertemanan Soekarno dan Thamrin, bukan suatu yang tidak diketahui khalayak. Bahkan hubungan antara keduanya juga diketahui dengan pasti oleh penguasa kolonial. Menurut Inggit, setiba di di rumah tahanan itu, hanya ia dan Thamrin yang diizinkan masuk. Omi (Ratna Djuami, anak angkat Soekarno-Inggit) juga di bawa. Yang lain diminta menunggu di luar di halaman. Ditambahkannya, pertemuan di ruang penjara sangat mengharukan. Thamrin setelah bersalaman, langsung berpelukan dengan Soekarno (hal 186)



Rendah Hati dan Pemberani


Kendati Thamrin seorang yang low profile, namun ia dikenal pemberani, tak segan bertindak tegas terhadap kaum kolonial jika dianggap melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Keberanian itu, ia tunjukkan saat polisi kolonial Belanda hendak mengganggu mereka di perjalanan setelah menjemput Soekarno dari penjara dan hendak kembali ke rumah.


Inggit Ganarsih mengisahkan kejadian tersebut sebagai berikut:



“Di dekat batas kota tiba-tiba iring-iringan kendaraan itu dihentikan oleh sepasukan polisi yang dipimpin oleh Komisaris Polisi Belanda Albrechts, yang sudah kesohor musuh kami. Segera pula ia cepat mendekati taksi Man Ada dan tanpa bicara ia merobek bendera yang dipasang pada mobil itu, melemparkannya dan menginjak-injak sampai rusak. Aku lihat kejadian itu. Thamrin yang duduk di depan keluar dari mobil dan ia kelihatan bertengkar sejenak dengan polisi Belanda itu.


“Apa yang terjadi ? Apa yang ia katakan?” tanya Kusno waktu Thamrin kembali masuk ke dalam mobil. “Gila dia, Saya katakan ia tidak berhak merusak bendera itu. Itu adalah milik orang lain,: kata Thamrin. Kami tertawa kecil, tapi pahit.


“Saya katakan, saya akan bawa soal ini ke Volksraad,” tambah Thamrin. “Biar dia ketakutan.” Lalu Thamrin tertawa sendiri agak keras. Rupanya maksudnya menakut-nakuti.” (hal 187)


Keberanian Thamrin juga terlihat pada sikapnya di persidangan Volksraad. Meski ia sadar, bahwa kemungkinan besat ia akan dikalahkan dalam pemungutan suara, namun tetap mengurungkan niatnya memprotes kebijakan-kebijakan pembangunan pemerintah kolonial yang tidak berpihak kepada rakyat.


Dalam catatan sejarah, yang sempat digugat oleh Thamrin di persidangan Volksraad antara lain, pembangunan perumahan elite Menteng yang mendapat prioritas anggaran ketimbang perbaikan perkampungan kumuh, ketidakadilan penetapan harga beli kedelai, gula, beras, karet rakyat, kapuk, kopra, dan semua komoditas yang dihasilkan rakyat yang jauh lebih rendah dengan komoditas hasil perkebunan swasta. Selain itu ia juga mempersoalkan pajak dan sewa tanah, serta rendahnya anggaran untuk pertanian yang jauh rendah dibanding dengan anggaran untuk angkatan perang.



Memang, Thamrin berjuang melalui jalur politik. Namun ia bukan kader dari satu partai politik. Organisasi “Kaum Betawi” yang ia dirikan, dalam sejarahnya tidak sempat tumbuh menjadi besar. Karenanya, kehadiran Thamrin yang cukup spektakuler di kancah perpolitikkan saat itu lebih disebabkan oleh sikap dan pembawaannya yang senantiasa menempatkan dirinya sebagai kader bangsa, yang berpijak pada semua golongan dan aliran.


Sebagai seorang nasionalis sejati, Thamrin jelas berada pada posisi yang berseberangan dengan penguasa kolonial. Namun kebenciannya terhadap kaum penjajah. Tetap tidak menghilangkan kesantunannya dalam berpolitik.



Sekilas M H Thamrin


Sebagai putera Betawi, Mohammad Husni Thamrin lahir 16 Februari 1894 di Sawah Besar. Sejak masa kecil sebenarnya hidup berkecukupan. Maklum, kakeknya, orang Inggris memiliki bisnis hotel. Sang kakek itu menikah dengan wanita Betawi, Noeraini yang kemudian melahirkan Thamrin Mohamad Thabrie, ayah dari M H Thamrin.


Thamrin Mohamad Thabrie pernah menjabat Wedana Batavia tahun 1908, suatu jabatan tinggi bagi kaum pribumi di bawah bupati.



Oleh ayahnya, M H Thamrin dimasukkan di sekolah Belanda sehingga ia cukup fasih berbahasa Belanda. Setelah tamat pelajaran di Koning Williem II, sejenis SMA ia kemudian bekerja di kantor kepatihan. Karena prestasinya baik, maka ia dipindahkan ke Kantor Karesidenan dan terakhir ke perusahan pelayaran Koninglijke Paketvaart (KPM) Pada tahun 1927 ia diangkat sebagai anggota Volksraad. Ia membentuk Fraksi Nasionalis untuk memperkuat golongan nasional dalam dewan tersebut. Setelah dr. Sutomo meninggal dunia pada tahun 1938, maka Thamrin menggantikannya sebagai wakil Ketua Partai Indonesia Raya (Parindra). Perjuangannya di Volksraad tetap dilanjutkan dengan sebuah mosi, agar istilah Nederlands Indie, Nederlands Indische dan Inlander diganti dengan istilah Indonesia, Indonesische dan Indonesiea.Sejak tanggal 6 januari 1941 Husni thamrin dikenakan tahanan rumah, karena dituduh bekerja sama dengan Jepang. Walaupun dalam keadaan sakit, Thamrin tidak boleh dikunjungi teman-temannya. Akhirnya ia meninggal dunia pada 11 Januari 1941 dan dimakamkan di pekuburan Karet, Jakarta
PAULUS LONDO



www.lintas-copas.blogspot.com