Kamis, 22 November 2012

Pasai, Mencari Negeri yang Hilan


Img : kompasiana.com/hack87


MENURUT Tgk Muhammad Taqiyuddin Lc, Kota Islam Samudra Pasai pun lenyap dalam perut zaman, mencapai titik kulminasi kepunahannya secara maknawi selama lebih seratus tahun terakhir. Karakteristik sejarahnya berhasil dicopot dan digantikan dengan berbagai mitos pada tempatnya. Lantas ia cuma dikenang dalam bagian kecilnya, tidak dalam bobot seutuhnya. Imperialisme boleh tertawa atas kemenangannya itu dalam kubur-kubur mereka, dan Barat boleh berbangga atas apa yang telah dipersembahkan oleh para leluhur mereka! Namun itu tentu tidak untuk selamanya.


Kata dia, para pendahulu tanah ini menderita kekalahan dalam konfrontasi fisik dan budaya dengan kaum Kristiani Barat pada putaran terakhir. Tapi suatu hal yang tidak disangka-sangka, dan di luar jangkau pikir imperialisme, para pendahulu ternyata telah berjaga-jaga. Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk hari kekalahan tersebut. Mereka seperti menghendaki agar di putaran-putaran lain di masa depan, kemenangan berpihak pada generasi yang mereka tinggalkan.



Adalah kebrilianan amat mengagumkan ketika mereka meninggalkan jejak yang amat jelas sejelas bekas tapak-tapak kaki yang tercetak di tanah liat sehabis hujan. Itu agar generasi berikut mereka dan hari ini menemukan mereka. Malah barangkali sebaliknya, merekalah sesungguhnya yang datang dari masa lampau untuk menemui kita, namun lama sudah kita tidak mengacuhkan mereka!


Epigrafi pada nisan-nisan yang bertebaran di bekas kawasan kota Samudra Pasai, yang dilaporkan oleh Ibnu Bathuthah sebagai kota yang indah dan besar, memberikan petunjuk-petunjuk amat kuat bagaimana peristiwa penyebaran Islam sebenarnya terjadi; bagaimana sesungguhnya sebuah kesatuan politik dalam bentuk kerajaan Islam, di utara Sumatera terbentuk, ujar putra Aceh jebolan Timur Tengah.


Epigrafi pada beberapa nisan menunjukkan secara jelas dari mana pembangun Samudra Pasai berikut keturunannya berasal. Bersama mereka warisan budaya Islam dari kawasan Islam lain pun datang untuk memancang tiang peradaban yang pada gilirannya kelak berhasil mengangkat budaya bangsa-bangsa setempat yang masih terbelakang ke dalam suatu perpaduan budaya yang lebih maju dan cemerlang. Untuk sekadar membuktikan hal ini, sebuah misal akan diajukan. Selama ini, bahkan jauh sebelum ini, Anda dan saya belum pernah menjumpai nama Rajakhan tersebut dalam apapun literatur historiografi Samudra Pasai, pengambilan misal ini lantaran “nama dan penamaan” juga merupakan salah satu fenomena budaya paling menonjol.


Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar nama seperti itu, makam salah seorang pemilik nama tersebut terdapat di Kuta Karang, Samudera, Aceh Utara; pada nisannya tertulis Rajakhan Al-Ma’ruf (terkenal), wafat pada 834 H/1431 M.


Dengan berbagai hikayat dan mitos yang menceritakan tentang Samudra Pasai, saya, dan mungkin siapa pun, tidak akan pernah membayangkan nama semacam ini bisa muncul di bekas kerajaan yang konon menurut ahli sejarah, tidak pernah terdengar perkembangan seni budaya dari masyarakatnya (lihat, Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk Kelas XI SMA, hal. 98)


Bukankah dari nama itu kita dapat melihat suatu kombinasi geneologis, politis dan budaya antara kawasan di selatan anak benua India serta kepulauan dan semenanjung Melayu: raja, dengan kawasan di utara India dan Asia Tengah: khan. Epigrafi Samudra Pasai menunjukkan bahwa banyak teori dalam penyejarahan Samudra Pasai yang mesti dirombak, jika bukan dibuang sama sekali. Begitu pula dengan watak perkotaan Samudra Pasai.


Jelas, warisan budaya Islam yang telah mapan di utara India dan Asia Tengah telah mengambil tempatnya di utara Sumatera pada masa-masa awal perkembangan Islam di nusantara sebelum kemudian melahirkan satu watak budaya Islam yang khusus dan unik. Apabila epigrafi Samudra Pasai telah memunculkan kenyataan tersebut dengan sangat terang, tiba waktunya untuk menemukan kenyataan-kenyataan lain yang selaras dengan kenyataan tersebut.



Puing-puing dalam berbagai ragam bentuk yang ditemukan di kawasan kota kuno Samudra Pasai yang kurang terurus itu, relatif memberikan dukungan terhadap kenyataan epigrafis. Namun penemuan yang dianggap sangat berarti terjadi pada Oktober 2008, saat dalam satu penggalian ditemukan bekas fondasi sebuah bangunan yang terbenam lebih satu meter dari permukaan tanah. Penemuan tersebut kemudian disusul dengan penemuan serupa pada Februari tahun ini. Temuan kali ini berupa bangunan yang telah ambruk, menyisakan puing-puing setinggi dua meter lebih; sekitar 1,2 meter sisa bangunan menyuruk ke dalam tanah, dan sekitar 1 meter lebih berada di atas tanah membentuk gundukan tanah tinggi seluas 32X30 m2.


Letak puing bangunan yang terbuat dari batu bata merah tersusun sedemikian rupa dan diperkirakan menghadap ke arah barat, ini juga dapat memberikan beberapa informasi penting tentang tata ruang kota Samudra Pasai yang indah sebagaimana ditulis Ibnu Bathuthah dalam laporan lawatannya ke Samudra Pasai pada 747 H/1347 M.


Secara umum, dari dua temuan bekas bangunan ini dapat disimpulkan bahwa Samudra Pasai telah menerima pengaruh budaya Islam dari kawasan di utara India seperti kota Delhi, atau Asia Tengah, seperti kota Bukhara, kala itu. Ini terlihat dari keseragaman seni arsitektur yang berkembang di dua kota tersebut dengan seni arsitektur yang berkembang di Samudra Pasai.


Usaha untuk menemukan kembali kota kuno Samudra Pasai lewat penyelidikan dan ekskavasi perlu dilanjutkan sebab akan memberikan kontribusi ilmu pengetahuan yang lebih luas tentang corak dan watak kerajaan Islam di Asia Tenggara. Dan diharapkan, suatu hari, sejarah Samudra Pasai dapat lepas dari kungkungan berbagai mitos yang telah menciptakan persepsi keliru tentang watak perkembangan Islam di nusantara. Adakah niat itu menyelinap di hati sanubari pemerintah daerah untuk mencari marwah negeri yang hilang? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya, kata Tgk Taqiyuddin.

Ibrahim Achmad)




www.lintas-copas.blogspot.com