Minggu, 18 November 2012

“Perahu Tua dan Lautan Biru Adalah Hidupku”

Di sebuah desa pesisir pantai di pinggiran kota makassar tepatnya di desa pauterek kecamatan ujung tanah tersimpan banyak fenomena kondisi sosial bahari yang sangat kental akan kehidupan tradisional dan belum terlalu banyak terkontaminasi dengan kehidupan modern. Desa ini merupakan tempat lelang ikan terbesar di makassar, Hasil laut adalah mata pencaharian mereka yang paling utama dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk satu kali melaut sekitar 10 hari mereka rela meninggalkan anak dan istri demi mencari sesuap nasi, saat perahu bersandar selesai berlayar bersiap para penadah untuk membeli ikan dari para nelayan dan tak ketinggalan para pembantu dadakan yang siap untuk membantu mengangkat ikan dari perahu ke penadah. Tak mau ketinggalan pula anak-anak yang belum cukup usia pun ikut membantu para nelayan menurunkan ikan dari perahunya untuk sekedar tambahan uang jajan, tersimpan perasaan bangga tentunya karena anak-anak yang slalu berusaha dan selalu tersenyum walau kehidupan serba kekurangan dan anak pesisir yang pintar berenang alangkah sayangnya bakat alamiah yang terpendam kalau tidak di kembangkan.

Terik matahari di siang hari dan dinginnya angin laut di malam hari tidak menjadi penghalang buat masyarakat pauterek untuk tetap beraktifitas, karena dari pagi sampai sore hari lelang ikan tidak pernah sepi di kunjungi masyarakat dari belahan desa, kecamatan dan kota tetangga untuk merasakan hasil tangkapan para nelayan. 10 hari adalah waktu yang tidak sebentar dan banyak bekal yang di bawa oleh para nelayan untuk memenuhi hidupnya selama di laut dan bagi keluarga para nelayan untuk menanti datangnya selesai melaut kadang perasaan cemas dan kawatir selalu menghantui mereka.

Masyarakat dari desa yang lain juga ada yang menjual bakso, nasi kuning dan makanan lainnya yang siap di jual kepada nelayan yang selesai melaut, kadang roda ini berputar kadang juga di atas dan kadang juga di bawah dan kalau seandainya ombak tidak bersahabat untuk melaut maka melelang tangkapan ikan yang sebelumnya atau melelang ikan dari hasil tangkapan desa tetangga adalah alternatif satu-satunya yang di lakukan masyarakat pauterek untuk mendapatkak tambahan penghasilan, “ya kalau seandainya ombak tidak bersahabat maka mata pencaharian yang lain adalah menjual hasil tangkapan ikan dari desa tetangga” tegas pak ahmad salah satu warga yang menggantungkan hidupnya dari melaut.

Keadaan masyarakat pauterek sangatlah kental kehidupan bahari / kehidupan pedesaan beda dengan kehidupan modern / perkotaan. Pemandangan yang sangat menakjukkan yaitu anak-anak yang bermain sepeda di pinggir jalan dekat rumah dan berlarian kesana kemari saling kejar-kejaran beda dengan kehidupan madern atau perkotaan yang anak-anak menghabiskan waktunya buat les tambahan, main game dan jalan-jalan ke mall. Tak kalah kegigihan kakek tua yang masih kuat dan bugar mengayuh sepedah bututnya dengan membawa ikan di belakang sepedahnya untuk di jual ke beberapa daerah yang lain, masyarakat yang mempunyai semangat hidup dan walau sudah usia lanjut masih semangat untuk mencari nafkah sendiri tanpa membebankan orang lain, itulah yang seharusnya di contoh oleh generasi muda sekarang agar selalu semangat untuk mencapai cita-citanya.

Olahraga dan menjaga pola makan yang sehat adalah salah satu resep bapak tua ini selalu semangat mencari sesuap nasi untuk hari ini, karena hasil laut sangatlah banyak gisi dan proteinnya di bandingkan dengan ayam, daging dan lain-lain. Inilah perbedaan orang yang kental akan kehidupan masyarakat bahari dengan kehidupan perkotaan mereka mempunya tanggung jawab besar untuk istri dan anaknya sebagai kepala keluarga rela melaut sampai 10 hari untuk menghidupi keluarga tanpa memikirkan dirinya sendiri walau nyawa taruhannya. Walau kadang banyak halangan bagi mereka untuk berangkat melaut contoh kecilnya adalah mahalnya harga bahan bakar (solar) yang terkadang melampau batas kemampuan bagi para nelayan, sehingga para nelayan harus memeras otak untuk memikirkan bagaimana mencari modal untuk tetap mereka melaut dan jalan satu-satunya mereka pinjam ke investor untuk modal awal mereka berangkat melaut walau terkadang investor yang tidak bertanggung jawab dan tidak mempunyai hati nurani seenaknya saja memberi bunga yang melebihi batas kewajaran, walau sebenarnya berat hati untuk membayar bunga yang begitu besar tapi hal tersebut bagi para nelayan tidaklah menjadi penghalang untuk tetap meminjam modal untuk tetap melaut dan bisa menghidupi anak istri di rumah.

Kita sebagai bangsa Indonesia sangat bangga kalau masih ada masyarakat yang meneruskan jejak nenek moyang sebagai pelaut artinya masih ada sejarah yang tersimpan untuk kita ceritakan kepada anak cucu kita dan desa yang sangat sejuk akan angin lautnya dan bebas polusi, asap dari kendaraan besar menjadi ciri khas masyarakat bahari yang akan selalu di pertahankan dan di lanjutkan oleh anak cucu mereka.

Tetapi selain menyimpan kebanggaan di hati juga menyimkan kesedihan yang mendalam di mana masyarakat bahari minim akan pendidikan dan kurang akan pengetahuan dan teknologi ini di sebabkan mereka kurang adanya kesadaran diri tentang bagaimana sebenarnya pentingnya pendidikan dan faktor yang lain adalah mereka mudah merasa puas akan pendapatan hari ini sehingga kelebihan atau potensi-potensi yang dimiliki susah untuk di aplikasikan, inilah sebenarnya peran dari mahasiswa secara umum dan peran pemerintah secara khusus untuk memberikan penyuluhan dan wawasan tentang bagaimana pentingnya akan pendidikan. Yakin saja kalau masyarakat bahari sadar akan pendidikan dan bakat atau potensi diri bisa di kembangkan akan membawa perubahan yang sangat besar dan perekonomian bisa semakin meningkat, sehingga kita tidak ketinggalan dengan negara tetangga dan potensi hasil laut yang berlimpah ini bisa di manfaatkan secara maksimal.

Potensi hasil laut di indonesia khususnya di sulawesi selatan sangatlah melimpah sangat sayang kalau seandainya kita tidak bisa memanfaatkan secara maksimal, masyarakat pauterek adalah salah satu dari sekian ratus daerah di indonesia yang masih kental akan kehidupan baharinya sehingga bagaimanapun mata pencaharian mereka susah untuk di rubah karena potensi itu sudah menjadi tradisi turun-temurun untuk tetap mencerminkan negeri ini sebagai negeri bahari, kalau seandainya di tinjau lebih dalam pemerintah tidak harus merubah adat yang sudah kental tersebut tapi pemerintah harus memikirkan bagaimana masyarakat bahari bisa mengembangkan dan bisa meningkatkan dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Kehidupan masyarakat pauterek adalah salah satu gambaran masih adanya masyarakat yang mempertahankan tradisi nenek moyang bangsa indonesia dengan tidak meniggalkan tradisi-tradisi kehidupan masyarakat bahari dengan tetap menjaga kelestarian laut dan memanfaatkan sumber daya laut, masyarakat pauterek walaupun hidup sederhana dan jauh dari kehidupan masyarakat modern mereka tetap menjunjung tinggi sifat solidaritas dan kekerabatan yang erat, saling berbagi dengan tetangga sekitar yang membutuhkan karena mereka berfikir tetangga adalah kerabat paling dekat kalau kita kesusahan pasti tetangga yang pertama membantu. Inilah seharusnya sifat masyarakat bahari yang harus kita contoh dan harus kita pertahankan supaya makna “bhineka tunggal ika” selalu melekat di hati bangsa indonesia untuk selalu bersatu dan menanamkan sifat solidaritas agar perdamaian selalu tercapai dan tidak ada kecemburuan-kecemburuan sosial dalam masyarakat karena sadarlah manusia adalah makhluk sosial dan saling membutuhkan satu sama lain.

Dwi Arianto Rukmana

www.lintas-copas.blogspot.com