Selasa, 27 November 2012

Revolusi yang Memakan Anak Sendiri, Tan Malaka

Pria itu, yang tangis pertamanya bergaung di Pandan Gadang, pada 2 Juni 1897, kelak bertumbuh menjadi tokoh yang revolusioner. Dialah Ibrahim Datuk Tan Malaka, anak tertua dari keluarga Simabur. Sebagai datuk, gelar tertinggi, dia membawahi kelaurga Simabur, Piliang dan Chaniago.

Riwayat hidup pria ini, yang membujang sampai akhir hayatnya, memang sarat warna, getaran, dan ayunan. Cerita hidupnya menjurus ke mitos, terutama di tempat kelahirannya, ranah Minangkabau sana. Setiap orang tua dengan bangga akan menceritakan ke anak-anaknya tentang kehebatan pria ini, yang konon bisa menghilang di satu tempat dan tiba-tiba muncul di tempat lain yang terpaut ratusan kilometer dalam sekedipan mata.

Dia memang misterius. Ada 13 alamat rahasia dan paling tidak tujuh nama samaran. Dalam pelariannya, di Manila dia adalah Elias Fuentes atau Estahislau Rivera, di Pilippina Selatan dia adalah Hasan Gozali, di Burma dia menjadi Oong Soong Lee, di Singapura menjadi Tan Ho Seng, dan saat kembali ke Indonesia dia bersalin wujud menjadi Ilyas Husein. Dia juga berbicara dalam beragam bahasa, Melayu, Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Tagalog, Tionghoa. Dan di Minangkabau sana, dia dijuluki si badung dari Pandan Gadang.

Dan dia memang pria hebat, terutama bukan karena apa yang dilakukannya terhadap republik ini, tetapi karena konsistensinya dan komitmennya yang sekeras karang. Jalan perjuangan yang dipilihnya itu, jalan revolusi, meskipun dia tahu berujung di kesunyian dan kesendirian, tetapi itulah yang diyakini, dipilih, dan dijalani dengan hati yang keras. Seorang gadis yang mencintainya, Paramita Rahayu Abdurrachman mengatakan: “Tan kelewat besar buat saya, dia hidup tidak normal”. Maka berakhirlah romantisme itu.

Dia adalah manusia pertama yang mencetuskan ide keindonesiaan, pada tahun 1925, tiga tahun sebelum sumpah pemuda, dan dituangkannya dalam karyanya yang fenomenal, Naar de Republiek Indonesia. Di situ dia menekankan betapa pentingnya persatuan dan betapa berbahayanya perpecahan. Meski tidak dicatatkan dalam sejarah, tapi tak layak pula kita melupakannya. Lalu dia memilih jalan revolusioner untuk mewujudkan idenya, kemerdekaan harus 100 persen, tanpa kompromi dengan siapapun. Bagi Tan Malaka, merdeka membawa kita ke dalam dua arah. Pertama bebas dari ketakutan dan penjajahan, dan kedua tidak menebar terror terhadap siapapun. Pemikiran yang sangat elok.

Idenya ini, konsep keindonesiaan, adalah gila dan berbahaya. Maka Belanda mengejarnya, Jepang mengejarnya, ke mana saja dan di mana saja. Tan menghindar, berkelit, sambil terus berpropaganda tentang keindonesiaan.

Dari sejarah Yunan sampai penjajahan Jepang, bangsa Indonesia tidak mempunyai riwayat kesejarahan selain perbudakan, katanya. Dan di dalam perbudakan, mitoslah yang berkembang, ratu adil, satria piningit dan lain-lain. Solusinya dirangkum di dalam karyanya, menjadi warisannya yang paling otentik, MADILOG. Di situ, di Madilog itu, dia mencoba mengubah mental budaya pasif menjadi kelas sosial baru yang berlandaskan sains dan bebas dari alam pikiran mistis. Yang pertama harus diubah adalah pikiran, katanya di dalam Madilog. Jadi MADILOG itu adalah tentang cara berpikir, bukan tentang cara bertindak. Dan itu semua ditulisnya dalam suasana kemiskinan, penderitaan, dan kesepian yang sangat ekstrem. Bagai mana tidak?, saat itu dia tinggal di sepetak kandang ayam di Rawajati Timur, Kalibata. Tetapi dari sinilah muncul puncak kualitas orisinil pemikiran terbaik dari Tan Malaka, sang pria mitos itu.

Seperti apa Indonesia yang diimpikannya?, sejak awal dia sudah tegas bahwa eks Hindia Belanda harus menjadi Republik Indonesia. Gagasan yang kemudian digunakan Sukarno. Dalam gagasannya, republik tidak menganut trias politika, tetapi republik adalah sebuah negara efisien yang dikelola oleh sebuah organisasi. Dia tidak percaya Parlemen, itu tak lebih dari sekedar warung tempat orang-orang adu kuat suara, berisik, menipu, dan berbual, yang harus diongkosi negara dengan biaya tinggi. Wabah trias Politika sama sekali tidak menyentuh Tan Malaka. Kita, yang hidup di zaman ini, akan mengatakan bahwa itu adalah bangunan negara yang tidak demokratis. Tetapi dengarkanlah penjelasannya. Jika karena ketiadaan badan legislatip menyebabkan negara tidak demokratis, maka partai politik, organisasi kemasyarakatan, ASEAN, dan PBB adalah lembaga yang tidak demokratis, katanya.

Dan inilah titik persimpangan itu. Dari sinilah dia mulai menempuh jalan yang berbeda dengan para rekan sejawatnya, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Sudirman, dan lainnya. Tetapi dia memang pria yang teguh, dan konsisten. Dia percayai jalan yang ditempuhnya, lalu dijalaninya dengan segenap rasa dan raga. Dari kontribusinya terhadap perjuangan kemerdekaan sewajarnya dia memperoleh jabatan terhormat di republik yang digagasnya itu. Tetapi tidak, dia tidak seperti itu, kualitasnya jauh di atas itu. Meskipun jalan yang dipilihnya menjadi jalan kesunyian, ketersingkiran, dan pengorbanan, tetapi itulah pilihannya. Maka republik yang digagasnya itupun mencaci-maki, dan tragisnya membunuh dia.

Dari dalam kubur suaraku akan terdengar lebih keras dari pada di atas bumi, katanya. Dan diapun tewas, 16 April 1949, ada yang menyebut 21 Februari 1949, oleh peluru dari republik yang digagasnya itu. Bahkan tanggal kematiannya, dan juga makamnya, tetaplah misterius, semisterius orangnya.

Revolusi memakan anaknya sendiri.

Jonny Hutahaean



www.lintas-copas.blogspot.com