Kamis, 08 November 2012

Riset: Benua-benua Besar Akan Bergabung Lagi


Foto terakhir bumi tahun 2010 (NOAA/NASA GOES Project)
Mereka terakhir kali menyatu pada 300 juta tahun silam, disebut sebagai Pangaea.
Tim ilmuwan di Universitas Yale, AS, baru-baru ini melontarkan prediksi yang cukup mencengangkan. Mereka memperkirakan bahwa benua-benua di muka bumi akan bergabung lagi dalam kurun 50-200 juta tahun mendatang.

Amerika dan Eurasia diprediksi akan bertubrukan di Kutub Utara. Afrika dan Australia pada akhinya akan bergabung juga dengan "Benua Super" itu. Tim ilmuwan pun yakin benua-benua itu terakhir kali sempat menyatu pada 300 juta tahun silam, yang wilayahnya disebut sebagai Pangaea.

Menurut laman BBC, kajian tim ilmuwan Yale atas reuni benua-benua itu diungkapkan dalam jurnal ilmiah Nature.

Bagi mereka, penggabungan kembali benua-benua besar itu bukan tidak mungkin terjadi. Daratan pada dasarnya bergerak secara konstan saat terjadi aktivitas tektonik di suatu bagian permukaan Bumi.

Aktivitas ini membentuk daerah-daerah seperti Mid-Atlantic Ridge--yang menjadi lokasi Islandia--dan wilayah-wilayah seperti yang terlihat di lepas pantai Jepang, dimana satu daratan kecil (pelat) bersinggungan dengan yang lain.

Para peneliti geologi itu yakin bahwa, dalam kurun miliaran tahun, pergesaran pelat-pelat itu secara berkala juga menggerakkan benua-benua dalam waktu bersamaan. Inilah yang memunculkan hipotesis atas terbentuknya sejumlah benua super bernama Nuna 1,8 miliar tahun lalu, Rodinia satu miliar tahun lalu, dan Pangaea 300 juta tahun lalu.

Tim peneliti pun sudah menyiapkan nama baru bila benua-benua besar kembali bersatu, yaitu Amasia. Ini berdasarkan perkiraan bakal bertemunya Amerika dan Asia.

Mereka selanjutnya meneliti lebih lanjut kapan dan di mana reuni antarbenua itu terbentuk dengan merujuk pada gejala-gejala pertemuan sebelumnya. "Kami cukup familiar dengan konsep Pangaea, namun belum ada data yang cukup meyakinkan untuk menduga bagaimana benua super itu terbentuk," kata Ross Mitchell, peneliti dari Universitas Yale.

Mengomentari hasil riset mereka, ahli geologi dari Open University, David Rothery, mengatakan penelitian itu dapat memberi pemahaman yang lebih luas kepada publik akan sejarah planet Bumi.

Renne R.A Kawilarang vivanews

www.lintas-copas.blogspot.com