Kamis, 08 November 2012

Sadahurip: Wisata Alam dan Kebebasan Berfikir


GUNUNG SADAHURIP/IST


“Manusia tidak dipenjara oleh takdir, melainkan dipenjarakan oleh pikirannya sendiri”- Franklin Delano Roosevelt (1882-1945).


Mamat, Ade dan teman-temannya dengan sigap dan cekatan mengikuti perjalanan kami komunitas Geotrek Indonesia menaiki Gunung Sadahurip.


Sepanjang perjalanan, Mamat yang berusia 8 tahun dengan gembira bercerita tentang hiruk pikuk para tamu yang mendatangi Gunung Sadahurip. Mamat dengan cekatan menawarkan sebagai porter kami untuk membawa tas. Mamat mengatakan sudah biasa menjadi porter sejak Gunung Sadahurip diberitakan ada Piramida di dalamnya, bahkan sebagai pengantar logistik orang-orang yang bermalam di Gunung Sadahurip.




Perdebatan dan kontroversi Gunung Sadahurip yang diduga di dalamnya ada Piramida membawa Komunitas Geotrek Indonesia berkunjung ke Desa Cisapar di kaki Gunung Sadahurip yang Indah. Komunitas Geotrek Indonesia bukan berniat mencari Piramid atau menambah sengit perdebatan, namun kami berminat piknik dan mendiskusikan apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana hal ini menjadi polemik yang belum selesai.


Perjalanan yang ditempuh dua jam cukup melelahkan kami. Sampai di desa Cisapar kaki gunung Sadahurip kami disambut oleh tatapan ramah penduduk desa yang sudah terbiasa dengan kedatangan para pengujung yang penasaran tentang Piramida.


Setelah makan siang, narasumber kami yang biasa disebut Kepala Sekolah Bapak Awang H Satyana (geolog BP Migas) mulai membentangkan poster lengkap tentang struktur Gunung Sadahurip, penelitian geolistrik dan radar serta gambar tentang tipe-tipe arsitektur Piramida di seluruh dunia. Sebuah penjelasan yang multidisiplin dari Bapak Awang H Satyana.


Hal yang menarik dalam kuliah pengantar di kaki gunung Sadahurip adalah bagaimana penjelasan Pak Awang menghipnotis penduduk desa untuk berkumpul dari mulai ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak diam membisu, tanpa kita ajak dan dengan serius mendengarkan materi yang diberikan Bapak Kepala Sekolah. Pak Awang menjelaskan aspek geologi, sejarah dan kearifan lokal dengan bahasa awam dan mudah dimengeriti oleh penduduk desa.


Salah seorang penduduk desa membisikan kepada temannya “Oh kitau nya cara neangan piramid teh…Kudu digali heula jeung cang tangtu aya nya…. Oh kitu nya eusina gunung teh” (Oh begitu ya cara mencari piramida itu…harus digali terlebih dahulu dan itu juga belum tentu ada…oh begitu ya isi gunung itu)



Sebuah pencerahan bagi kami peserta dan penduduk desa yang sering kali bingung dengan kedatangan para pengunjung. Lalu apa yang didapatkan komunitas dari perjalanan ke Sadahurip, tentu akan saya sampaikan mungkin hanya sebagian materi saja karena sangat banyak ilmu yang kami dapatkan dari Bapak Awang.


Pertama mungkinkah ada budaya piramida di Indonesia? Jawabnya “mungkin dan ada” tetapi kita tidak harus berpikir dengan kerangka Piramida Mesir, karena menurut sejarah budaya Piramida Mesir adalah adalah salah satu bentuk dari model Piramida yang muncul hanya pada satu masa periode pemerintahan Firaaun. Jadi dalam gambar yang di bawa Pak Awang sangat banyak tipe Piramida.


Di luar Mesir, piramida pun ditemukan di berbagai negara dengan masa dan bentuk yang berbeda. Misalnya piramida Ziggurat di Persia, piramida Indian Maya di Amerika tengah, Piramida Nsude di Nigeria, Piramida El Castillo-Chichen Itza di Mexico, Nubian di Sudan dan Piramida Hellinikon di Yunani. Bentuk Piramida ini bermacam-manam tetapi menunjukkan kesamaan yang khas, yaitu memusat di puncaknya seperti gunung.


Di Indonesia sendiri budaya Piramida dikenal dengan modal punden berundak. Punden berundak adalah suatu variasi step piramid. Contoh step pramid adalah Situs Gunung Padang.


Ketika kami sampai di puncak kami merasakan sebuah suasana psikologis yang berbeda Gunung Sadahurip dikeliling banyak gunung, seperti Gunung Galungung, Talaga Bodas, Rakutak, Gunung Guntur, Gunung Sadakeling. Gunung Sadahurip bagai sebuah pusat “kosmologi”.


Di puncak Sadahurip, Pak Awang membahas filosofi ilmu, membahas banyak fakta dan interpretasi gunung Sadahurip agar kita tidak terjebak dalam polemik yang melelahkan dan saling menyerang. Kontroversi Sadahurip: dogma dalam sains, perdebatan dan kebebasan berpikir.


Menurut Pak Awang, antara yang pro bahwa Sadahurip adalah piramida dan yang pro gunung api mereka memiliki fakta-fakta sendiri yang bisa diinterpretasikan masing-masing. Namun penelitian Geolistrik yang dilakukan pro piramida dapat menjawab dua hal piramida atau vulkanik semua belum selesai. Ada beberapa fakta Sadahurip yang disampaikan Pak Awang.


Pertama, Sadahurip merupakan bukit setinggi 1493 mdpl.


Kedua, ia berbentuk piramida.


Ketiga, beberapa batuan yang tersingkap didindingnya atau yang bertebaran di sekitarnya menunjukan disusun oleh batuan andesit.


Keempat, secara geologi regional Sadahurip merupakan jalur dominan gunung api di Jawa Barat.


Kelima, tidak dilaporkan keberadaan kawah di puncak atau dindingnya.


Fakta-fakta tersebut merupakan faktor penyulit untuk segera ditafsirkan Sadahurip piramida atau gunung berapi tidak bisa diselesaikan dengan cepat. Pembelajaran yang paling berharga dari materi yang diberikan dari Pak Awang adalah:


“Kebenaran yang telah menjadi mutlak dan menutup semua pintu terhadap kemungkinan lain adalah sebuah dogma. Sains berkembang tidak melalui dogma, sebab ketika dogma mengemuka selesailah sains. Sains berkembang melalui jalan perdebatan. Dari sejarah sains kita melihat bahwa apa yang telah dianggap benar dan telah menjadi teori, ternyata dapat gugur di kemudian hari sekalipun perubahan itu memakan waktu cukup lama puluhan bahkan ratusan tahun. Biarlah perdebatan berjalan fakta tak dapat merubah apa pun yang dipikirkan orang, metode penelitian bisa membantu tetapi bisa juga mengelabui. Marilah kita berpikir bebas tanpa terbelenggu dogma”. (penggalan kutipan materi filosofi ilmu dari Awang H Satyana).


Ummy Latifah

Salam Geotrek Indonesia!



www.lintas-copas.blogspot.com