Senin, 12 November 2012

Universitas Alam Semesta (Sufi)

Sang Sufi nan Laduni Syekh Ali al-Khowwash adalah termasuk salah satu waliyullah paling tenar dari daerah Burullus di Profinsi Kafr Syekh. Di sekitar pesisir Burullus terdapat banyak kelompok para wali yang disebut al-Syurofa’ al-Amiriyyah.


A


l-Maqrizi mengatakan : “Mereka berasal dari suku Quraisy dari Bani Adiy dan Ka’ab, sebagian dari mereka ada yang memegang dinas rahasia raja-raja Turki (Usmaniyyah) di Kairo dan Damaskus selama kira-kira seratus tahun”.


Lahir untuk zuhud Syekh Ali al-Khowwash tumbuh dalam keluarga miskin yang menyebabkan ia harus menekuni pekerjaan rendahan agar bisa makan pada hari itu. mula-mula ia keliling menjual sabun dan korma. Setelah pindah ke Kairo beliau membuka toko minyak untuk beberapa tahun. Untuk selanjutnya beliau membuat keranjang, karena inilah beliau disebut dengan al-Khowwash (pembuat keranjang) sampai beliau meninggal. Beliau sama sekali tidak memakan makanan para penguasa yang dhalim maupun kroninya. Beliau tidak menggunakan uang para penguasa untuk kepentingan dirinya dan keluarga. Beliau menerima untuk kemudian memberikannya pada para janda, orang tua dan orang yang tidak mampu bekerja.

Diceritakan suatu ketika mata beliau bengkak agak parah, tapi beliau tetap saja membuat keranjang, lalu datanglah seorang kaya dengan memberi uang kepadanya, sambil mengatakan: “Wahai tuanku belanjakanlah uang ini, istirahatlah sampai kedua mata tuan sembuh”, Ali al-Khowwash menjawab: “Demi Allah saya dalam kedaan semacam ini (sakit), saya merasa tidak nyaman dengan penghasilan saya, apalagi dari penghasilan orang lain”.

Bahkan dalam kekurangan, Syekh Ali al-Khowwash sangat dermawan dan rendah hati. Setiap hari jumat beliau selalu berkhidmah untuk masjid-masjid, bersedekah pada orang-orang fakir dan yang membutuhkan dengan tanpa memperhitungkan berapa yang ia keluarkan dan bagaimana ia nanti makan. Ia juga mewajibkan dirinya mengerjakan hal-hal yang terkait dengan sentral pengatur air yaitu membersihkan dan mensucikannya. Hal ini sebelum datang musim banjir.


Syekh as-Sya’rani, murid kesayangan wali agung ini bercerita :”Syekh Ali al-Khawwas menyapu masjid, membersihkan kamar kecil. Beliau juga menyapu sentral pengatur air (sungai nil di pulau Raudhah) setiap tahunnya. Pada hari itu beliau banyak membagikan rezeki pada fakir miskin. Beliau membagi-bagikan gula dan manisan pada setiap petugas penjaga sentral pengatur air dan orang-orang sekitarnya. Setelah itu beliau turun, melepas tutup kepala dan berwudhu dengan air tersebut sambil menangis dan meratap bagaikan pohon bambu yang di ombang-ambingkan angin. Sebentar kemudian beliau naik untuk sholat dua rakaat. Beliau memerintahkan para muridnya untuk turun ke bawah membersihkan tangga sentral pengatur air, sedangkan beliau sendiri mengangkat tanah liat yang ada di bawah tangga itu dengan tanpa mau dibantu.


Beliau mempunyai satu jubah dan satu peci kecil. setahun sekali beliau mencucinya. “Semua ini untuk menghemat sabun untuk orang miskin”, papar beliau suatu ketika tentang jubah dan pecinya itu.


Keilmuan Al-Khowwas Ali al-Khowwas bukanlah orang yang mengenyam bangku sekolah. Dia bahkan tidak bisa baca tulis. Sufi agung ini rupanya seorang yang buta huruf. Kendati demikian para ulama heran dan takjub dengan kealiman beliau. Syekh kita ini sangat mahir dalam mengupas Alquran dan Hadis. Ulasan beliau bisa disaksikan dalam kitab karangan muridnya Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’roni. “Banyak sekali kami menulis dalam kitab al-jawahir wa al-duror semua jawaban beliau, yang mana para ulama’ besar kesulitan menjwabnya, sehingga membuat kagum para ulama seperti Syekh Syihabuddin al-Futuhi al-Hambali, Syihabuddin bin al-Syalabi al-Hanafi, Syekh Nasiruddin al-Laqoni al-Maliki, Syekh Syihabuddin al-Romli as-Syafi’iy”, demikian cerita Syekh Sya’roni tentang gurunya itu.


Lebih jatuh Syekh al-Futuhi mengatakan: “Saya telah bergelut dengat ilmu selama 70 tahun, tidak terlintas dalam hatiku,- bukan pertanyaan juga bukan jawaban- sesuatu masalah seperti yang ada dalam kitab al-jawahir wa al-duror“.



Tentang keilmuan, beliau mempunyai pendapat yang berbeda dengan kebanyakan ulama’. “Seseorang tidak bisa dikatakan berilmu kalau ilmunya itu didapatkan dari orang lain. Orang yang berilmu adalah orang yang tidak pernah mengambil ilmu dari orang lain. Ilmunya asli, langsung dari Allah. Orang yang mendapatkan ilmu dari orang lain hakikatnya hanyalah menceritakan pendapat orang tersebut. Namun orang itu akan tetap mendapatkan pahala, yaitu pahala orang yang membawa dan menyebarkan ilmu bukan pahala orang alim. Dan Allah tidak menyia-nyiakan pahalanya orang yang berbuat kebaikan”.



Ilmu Syekh Ali al-Khowwas tidak terfokuskan pada ilmu syariat saja, tetapi beliau juga mahir dalam ilmu kedokteran, beliau bisa menyembuhkan penyakit lepra, lumpuh dan penyakit yang sukar lainnya, setiap apa yang disarankan untuk dijadikan obat sangat manjur hasilnya.

Ali al-Khowwas dan tasawuf Dalam masalah tasawwuf sufi agung yang buta huruf ini juga mempunyai komentar menarik : “Seseorang tidak akan sampai pada jajaran ahli Thariqat kecuali dia alim dalam ilmu syariat, mujmal mubayyannya, nasikh mansukhnya, khos dan ammahnya. Orang yang tidak mengetahui salah satu dari hal-hal tersebut dia gugur dari jajaran para tokoh thariqat”. Mendengar pernyataan semacam itu murid kesayangannya, Sya’roni bertanya: “Kalau begitu para syekh sekarang jatuh dari derajat ini, sebab mereka buta dalam masalah syari’at ?, beliau menjawab: “itu memang benar, mereka mengarahkan manusia pada sebagian jalan agama saja. Padahal mutashawwif adalah orang meskipun sendirian, dia mampu memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat baik masalah syari’at maupun hakikat”.

Kecerdasan tokoh satu ini menyangkut juga dalam masalah al-kholwah. Dalam hal ini beliau mengatakan : “Menyendiri, menyepi dengan Allah SWT saja yang dalam dunia sufi terkenal dengan nama sebutan al-kholwah tidak mungkin dilakukan kecuali oleh wali al-Qutb al-Ghouts pada setiap masa. Ketika badannya berpisah dengan nur-nya dan berpindah ke alam akhirat, Allah SWT mengganti sang wali tersebut dengan wali lainnya. Allah SWT sama sekali tidak menyendiri dengan dua orang dalam satu masa.

Agaknya pendapat ini selarasa dengan yang terjadi pada diri Syekh Abdul Qadir Jailani yang terkenal dengan munajatnya “Anta wahidun fis sama’ wa ana wahidun fi-al ardh (Engkau sendirian berkuasa di langit-Mu Ya Allah, dan aku sendirian di bumi tanpa penolong selain-Mu Ya Allah).

”Hasbunallah wani’mal wakil (cukuplah Allah sebagai penolong kami).” Surat Ali Imron ayat 173


Dalam hubungan murid dengan guru (sykeh-mursyid) beliau mengutarakan: “Seharusnya para murid itu mengutarakan penyakit hatinya pada gurunya. Kalau dia mempunyai hati yang jelek, gurunya akan menunjukkan jalan kesembuhannya. Kalau dia tidak melakukan hal itu karena malu, ada kemungkinan dia mati dengan penyakitnya itu”. Beliau juga mengatakan: “Kalau kalian ditanya tentang guru kalian, jawablah: “kami adalah pembantunya” dan jangan menjawab “kami adalah temannya(shohib)” karena kedudukan suhbah (pertemanan ) itu sangat tinggi”.


Beliau mempunya banyak perkataan yang belum diucapkan oleh siapapun. Suatu ketika ia berbicara tentang epistem manusia. ” al-Idrok (Ilmu pengetahuan) adalah sifat akal. Pendengaran, penglihatan, perasaan dan penciuman, kesenangan dan marah adalah sifat nafsu. Mengingat, senang, pasrah, dan sabar adalah sifatnya ruh. Fitrah, cahaya, hidayah, keyakinan adalah sifat rahasia (as-sir). Akal, nafsu, ruh, sir, semua itu adalah sifat manusia”.


Masjid Ali al-Khowwash Masjid Ali al-Khowwash, asalnya adalah Zawiyyah-nya Syekh Barakat al-Khoyyat,yang didirikan oleh muridnya yaitu Syekh Ramadlan, di depan Bab al-Futuh, tapi ketika Syekh Ali al-Khowwas di semayamkan di situ, maka masjid tadi menjadi terkenal dengan sebutan masjid al-Khowwash.

Beliau bukanlah seorang s1,s2, s3, professor dan lain-lain dan beliau tidaklah mengenyam bangku sekolah dan buta huruf,


Inilah yang kita disebut dengan Lulusan Universitas Alam Semesta.
Muhammad Reza



www.lintas-copas.blogspot.com