Sabtu, 01 Desember 2012

0inShare Share “ Bedug Pendowo “ Di Purworejo Terbesar Di Dunia

13332464701378771626

Bedug Pendowo merupakan Bedug Raksasa kebanggaan masyarakat Purworejo. Bedug ini mempunyai peranan sangat besar dalam penyebaran Islam di Purworejo. Bedug ini juga dicatat sebagai Bedug terbesar di Dunia.

Purworejo adalah sebuah kota kecil di ujung selatan Provinsi Jawa Tengah. Selain mempunyai wisata pantai, Purworejo juga mempunyai wisata religi dan Budaya yang menajubkan yaitu Bedug Raksasa, yang sering di sebut Bedug Pendowo. Bedug ini terletak di dalam Masjid Darul Muttaqien disebelah barat alun-alun kota.

Menurut website resmi Pemerintah Kabupaten Purworejo, menyebutkan bahwa bedug ini merupakan Bedug terbesar di Asia Tenggara, bahkan di Dunia. Ukuran spesifikasinya adalah Panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, diameter belakang 180 cm, diameter depan 194 cm dan bagian yang ditabuh terbuat dari Kulit Banteng.

Bedug ini dibuat sekitar tahun 1843 pada masa pemerintahan Adipati Cokronagoro I, Bupati pertama Purworejo. Beliau memerintahkan Tumenggung Prawironagoro dan Raden Patih Cokronagoro untuk memimpin pembuatan Bedug ini. Dengan dibantu para Arsitek di Kadipaten, Tumenggung Prawironagoro dan Raden patih Cokronagoro segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyelesaikan pembuatan Bedug.

Tumenggung Prawironagoro memilih kayu Jati Glondongan sebagai bahan utama pembuatan Bedug. Kayu Jati ini diambil dari pohon pilihan di desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Berbeda dengan pohon Jati pada umumnya, pohon ini mempunyai keunikan yaitu bercabang lima, sehingga disebut Jati Pendowo ( Pendowo dalam kisah Pewayangan Mahabharata mempunyai anggota sebanyak Lima.Oleh karena itu disebut bahwa Pendowo = lima ).Itulah mengapa bedug ini dinamai sebagai Bedug Pendowo

Menurut masyarakat setempat, pohon Jati pendowo ini dianggap pohon keramat dan tempat bersarang mahluk halus jahat. Masyarakat melarang pohon ini untuk ditebang. Tetapi, atas perintah Bupati Adipati Cokronagoro I yang tidak mempercayai mitos dan tahayul, seorang ulama bernama Kyai Irsyad atau yang sering di panggil Mbah Junus, berhasil menebang pohon itu. Kemudian beliau menyerahkannya kepada Tumenggung Prawironagoro.

Akhirya, Tumenggung Prawironagoro dan Raden Patih Cokronagoro berhasil menyelesaikan pembuatan Bedug ini. Mereka meletakkannya di dalam Masjid Agung Kadipaten yang sekarang benama Masjid Darul Muttaqien. Hingga sekarang, Bedug Pendowo masih terpelihara dan masih berfungsi dengan baik ditabuh saat waktu sholat tiba.

Para pembaca yang budiman, saya sebagai orang Purworejo asli patut berbangga atas peninggalan Bedug Pendowo yang notabene terbesar di dunia. Tetapi ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar itu. Suara Bedug Raksasa ini ketika ditabuh pertanda waktu sholat tiba, diharapkan akan menggetarkan hati para pendengarnya. Kemudian, masyarakat berduyun-duyun datang ke Masjid untuk menunaikan kewajiban mereka, sholat berjama’ah menyembah sang Kholiq. ITU YANG LEBIH UTAMA.

Salam

( RAHARDI WIDODO )

www.lintas-copas.blogspot.com