Rabu, 05 Desember 2012

6 Cara Meningkatkan Kompetensi di Kantor

Karena lalai mencari tahu berapa standar gaji seorang koordinator PR dan marketing di sebuah firma hukum pada awal kariernya, Marisa (40, bukan nama sebenarnya) tidak mampu bernegosiasi mengenai gaji pertamanya. Kesalahan ini ternyata mempengaruhi kariernya pada tahun-tahun berikutnya. "Pada tahap tertentu (tidak dilakukannya negosiasi) telah membatasi jumlah penghasilan saya sekarang," ujar Marisa. "Waktu itu saya tidak berani meminta gaji lebih besar. Padahal saya tahu saya layak mendapatkan lebih."

Kesalahan yang tidak disadari seperti ini, menurut Lois Frankel, PhD, presiden Corporate Coaching International dan penulis Nice Girls Don't Get The Corner Office, ternyata dapat merugikan wanita dalam kariernya. Sebagian alasan mengapa wanita cenderung mengalah, adalah karena wanita menganggap dunia kerja sebagai keluarga. Mereka melihat diri mereka dalam hubungan dengan orang lain, sehingga kurang nyaman mempromosikan keinginan diri mereka karena dirasa merugikan yang lain.

Wanita juga bersedia menerima gaji yang lebih rendah daripada pria karena khawatir dianggap serakah, demikian menurut hasil riset Lisa Barron dari University of California, Irvine. Secara umum, studi tersebut menunjukkan bahwa wanita kurang nyaman mensejajarkan jumlah penghasilan dengan kelayakan diri mereka.

Pada dasarnya, ada lima kesalahan lain yang dilakukan wanita (selain urusan gaji), yang membuat diri mereka kurang kompeten dibandingkan rekan kerja pria. Bila telah menyadarinya, semua kekurangan ini dapat Anda ubah menjadi cara untuk tetap eksis di kantor.

Tingkatkan kemampuan negosiasi
Masih banyak perusahaan yang menetapkan standar gaji yang berbeda antara pria dan wanita. Bila Anda memang sudah mencari tahu berapa gaji untuk jabatan tertentu di beberapa perusahaan dengan level dan reputasi yang sama, jangan ragu untuk bernegosiasi dengan atasan (atau staf pengembangan sumber daya manusia yang mewawancarai Anda). Jika Anda tidak mendapatkan gaji pertama yang fair (sesuai standar), Anda akan kehilangan sekian juta rupiah yang bisa Anda dapatkan sebelum pensiun, demikian menurut Linda Babcock dan Sara Laschever, dua ekonom dari Carnegie Mellon University yang menulis buku Women Don't Ask: Negotiating And The Gender Divide.

Aktif saat meeting
Wanita berbicara 20.000 kata dalam sehari, yang artinya tiga kali lipat dibandingkan pria. Namun, banyak dari kita yang mendadak jadi pendiam saat menghadiri rapat. Kebiasaan seperti ini sangat tidak disarankan. Menurut Lois Frankel, PhD, seorang pelatih karier dan penulis buku-buku untuk wanita karier, dua atau tiga orang pertama yang berbicara saat meeting akan dilihat sebagai orang yang percaya diri dan asertif.

Sampaikan pendapat secara singkat dan jelas
Setelah Anda memberanikan diri untuk urun pendapat saat rapat, cobalah untuk meringkas pernyataan Anda hingga 25 persen. Bila mungkin, anggaplah bahwa Anda akan diinterupsi dalam 30 detik, sehingga Anda mampu menyampaikan informasi yang paling penting saja. Maklum saja, wanita memang cenderung suka berbicara panjang-lebar, yang akhirnya malah membuatnya lupa apa sebenarnya inti pesannya.

Asah jiwa kepemimpinan Anda
Salah satu yang membuat seseorang diangkat menjadi manajer atau CEO adalah kemampuannya memecahkan masalah dan menghadapi bawahan. Seorang pemimpin tahu bagaimana mengangkat sebuah isu dan bagaimana harus memaparkan isu tersebut pada rekan kerjanya. Kemampuan untuk mengukur waktu yang pantas (untuk menyampaikan isu tersebut) adalah yang paling penting. Menggunakan kekuatan kata-kata seperti "kita", dan bukannya "saya", ketika menyampaikan sebuah isu adalah cara yang baik untuk menentramkan kecenderungan orang lain untuk bersikap defensif.

Katakan "tidak" jika Anda memang tidak mampu
Atasan mungkin akan memberikan beban pekerjaan yang cukup tinggi untuk Anda. Namun, Anda harus tahu kapan mengatakan "tidak" pada atasan. Mungkin hal ini terasa kurang pantas, atau merugikan diri sendiri, namun jika Anda diminta untuk melakukan sesuatu yang tak dapat Anda lakukan dalam target waktu, atau Anda merasa tidak nyaman melakukannya, berarti itulah saatnya Anda harus berlalu. Namun coba sampaikan keberatan Anda tersebut dengan kalimat alternatif, sehingga "tidak" bukanlah kata terakhir yang diingat oleh atasan ketika Anda meninggalkan kantor. Dengan demikian pekerjaan tersebut tetap aman di tangan Anda.

Kontrol emosi
Ketika merasa terdesak, namun tidak mampu membela diri, wanita cenderung akan menangis untuk meluapkan perasaannya. Namun jangan lakukan hal ini di kantor. Menangis di hadapan rekan kerja atau atasan dapat merusak reputasi dan karier Anda. Saat itu juga Anda akan dianggap tidak mampu mengendalikan emosi, lemah, tidak dewasa, bahkan manipulatif, demikian menurut riset yang diadakan oleh Penn State University. Tentu ada perkecualian, misalnya jika Anda menerima berita buruk dari teman atau keluarga yang mengalami musibah. Namun, sebisa mungkin minimalkan perasaan ingin menangis ini.
kompas.com

www.lintas-copas.blogspot.com