Selasa, 18 Desember 2012

APOKALIPTISISME ISLAM: ASHABUL KAHFI DAN PERTANDA AKHIR ZAMAN

APOKALIPTISISME ISLAM:

ASHABUL KAHFI DAN PERTANDA AKHIR ZAMAN

Surat ke-18 al-Qur’an yaitu al-Kahfi memuat kisah-kisah penuh hikmah. Telah banyak mufassir mengemukakan fadilah atau keutamaan membaca surat ini apalagi jika disertai perenungan dan pengetahuan. Di situ terdapat beberapa kisah yang diangkat dari peristiwa sejarah dan relevan sebagai bahan renungan, khususnya keterangan ringkas tentang kiamat dan pertanda akhir zaman (apokaliptik. Akhir zaman yang dimaksud ialah periode-periode akhir dari sejarah umat manusia/bangsa ketika peradaban mulai menampakkan puncak krisisnya. Kisah-kish apokaliptik itu terangkum dalam tiga rangka cerita besar.



Pertanda itu antara lain dalam kisah Ya’juj dan Ma’juj, dua kekuatan kembar perusak tatanan alam dan kehidupan di atas bumi, yaitu pada ayat 83. Keduanya dijumpai oleh Dzulkarnain di tempat terbenamnya matahari (maghrib, barat). Tidak sedikit mufassir menjadikannya sebagai rujukan eskatologi apokaliptik Islam. Misalnya Abu al-Hasan al-Nadwi, seorang ulama, ahli sastra dan sufi terkemuka dari Lucknow India, penafsir karya Rumi dan Iqbal yang masyhur.


Dalam bukunya Pertarungan Antara Iman dan Materialisme (1970) al-Nadwi mengatakan antara lain bahwa dalam surat al-Kahfi terkandung kisah yang menakjubkan sebab berkaitan dengan pertanda datangnya akhir zaman.sejarah. Yang dimaksud akhir sejarah ialah periode berakhirnya penindasan terhadap kaum beriman yang pada puncaknya mencetuskan kembangkitan. Pertanda akhir sejarah itu antara lain ialah semakin banyaknya fitnah yang ditujukan kepada orang mukmin dan merajalelanya kejahatan disebabkan filsafat materialisme serta kapitalisme liberal. Kemajuan materialisme dan kapitalisme liberal dewasa ini, menurut al-Nadwi, telah menyebabkan tersebar luasnya kebohongan yang memperdaya dan merusak tatanan kehidupan umat manusia di lapangan sosial, politik, ekonomi, hukum, kebudayaan, dan keagamaan (Dhabyan 1983: 194). Sejumlah ulama lain mengaitkannya dengan kebangkitan Zionisme, dan kini sangat relevan jika dikaitkan dengan bangkitnya Neoliberalisme.


Di dalam surat al-Kahfi dimuat seruan agar kaum beriman (mu`min) membangun benteng pertahanan yang kokoh bagi aqidah dan keyakinannya menghadapi serangan Yajuj dan Ma’juj, kaum pencipta keonaran dan kerusakan di muka bumi. Berdasarkan maklumat al-Qur’an muncul sejumlah hadis yang menghubungkan kisah Ashabul Kahfi dengan kedatangan kembali Isa Almasih dan al-Mahdi pada putaran akhir sejarah. Misalya hadis yang diriwiayatkan oleh Abu al-Rabi’ Sulaiman bin Sab`in dalam Kitab al-Syifa` seperti berikut: “Diriwayatkan bahwa Isa Almasih berumrah sesudah keluarnya Dajjal, Yajuj, dan Ma’juj selama empat puluh tahun dan penolongnya adalah Ashabul Kahfi dan al-Raqim dan mereka melakukan haji bersama-sama sebab belum pernah melakukannya.” Hadis yang lain diriwayatkan oleh Ibn Abbas, “Ashabul Kahfi adalah penolong al-Mahdi atau dia yang mendapat petunjuk Tuhan”.


Penemuan Arkeologis



Dalam ayat 94 Allah s.w.t. berfirman: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Yajuj dan Ma’juj itu ialah orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka aku akan memberi pahala di akhirat kelak kepadamu apabila kau bersedia membuat tembok pelindung antara kaum (yang beriman) dan mereka”. Perlu dicatat bahwa seandainya peristiwa-peristiwa bersejarah seperti penaklukan Iskandar Dzulkarnain atau Alexandre the Great dari Macedonia bukan merupakan peristiwa yang tidak penting dalam kaitannya dengan penyebaran agama Ibrahimiyah yang berlandas tauhid, tentu al-Qur’an tidak akan merekam dan mengabarkannya kepada Rasulullah. Begitu pula dengan dua kisah lain yang berkaitan pesan moralnya dengan kisah Dzulkarnain dan Yajuj dan Ma’juj, yaitu kisah penghuni gua serta kisah pertemuan Nabi Musa a.s. dengan Khaidir.


Ahli sejarah banyak yang mencatat peran Dzulkarnain dalam menutup babakan gelap dalam sejarah Asia, ketika dia berhasil menghancurkan Dinasti Achimened dan membangun peradaban baru yang penuh pencerahan pada abad ke-3 SM. Karena kehadirannya menutup zaman gelap itulah banyak karya sastra lahir diilhami oleh riwayat hidupnya sebagai penakluk dunia untuk menyebarkan keadilan dan risalah agama tauhid ke berbagai belahan dunia yang luas. Tetapi tak kurang pentingnya versi lain yang menyebutkan bahwa yang dimaksud al-Quran itu sebagai Iskandar Zulkarnen adalah Cyrus Agung, maharaja Persia abad ke-5 SM si penakluk Babylonia-nya Nebukadnezar. Dan kemudian tampil sebagai pelindung agama monotheis. Hikayat berkaitan dengan tokoh ini bisa ditemui dalam kesusastraan Arab, Persia, Turki Usmani, Melayu, Urdu, Shindi, Bengali, Jawa, Uyghur, dan lain sebagainya.


Pada abad ke-6 M hikayat berkenaan dengan tokoh ini telah muncul dalam karangan penulis Kristen Timur di Syria dan Persia. Pada abad ke-7 dan 8 M banyak pula penulis Muslim menggubahnya menjadi hikayat. Di antara penulis Muslim awal yang menggubah hikayat Iskandar Dzulkarnain ialah Ibn al-Mas’ud, al-Ya`qubi, Ibn `Athir, al-Tabari, al-Tha`labi, dan masih banyak lagi. Versi Arabnya yang terkenal ialah ialah karanga Mubasyir (1503 M). Dalam sastra Persia versi yang awal tampak dalam karangan Firdawsi (abad ke-10 M), penulis yang masyhur dengan eposnyaShah-namah. Kemudian pada abad ke-12 dan 13 M muncul dalam karangan dua penulis Persia yang masyhur yaitu Nizami dan Mirkhwand. Tetapi dari semuanya karangan Nizami Iskandar-namah (Kitab Iskandar) yang terkenal. Sedangkan dalam sastra Melayu versi paling awal ditulis pada abad abad-ke15 M di Samudra Pasai dan Malaka berdasarkan sumber Persia. Dari versi Melayu inilah Hikayat Iskandar Dzulkarnain disadur ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Aceh, Madura, Sasak, Minangkabau, dan lain-lain.


Menurut sumber sejarah Persia, Iskandar Dzulkarnain atau Alexandre the Great menggerakkan tentaranya dari Macedonia melalui Asia Kecil (Turki sekarang) ke arah timur pada tahun 334 – 327 SM dengan maksud menghancurkan tirani di Asia. Tiran terbesar di Asia ketika itu ialah Khusraw Darius, penguasa kemaharajaan Persia. Dengan serangkaiannya penaklukannya atas wilayah yang luas di Asia Barat, Tengah dan Selatan, Darius dipercaya menimbulkan banyak kerusakan dan kesengsaraan bagi penduduk Asia. Pasukan Dzulkarnain berulang kali bertemu muka dan terlibat pertempuran dengan pasukan Darius, tetapi selalu gagal untuk menangkap raja yang perkasa itu. Pada tahun 331 SM sekali pasukannya terlibat peperangan sengit dengan pasukan Darius dan berhasil mengalahkannya. Tetapi dia gagal menangkap khusraw yang zalim ini. Setelah memperoleh kemenangan telak Dzulkarnain dinobatkan sebagai Maharaja Asia. Dia mengirim surat kepada para gubernur Macedonia dan Yunani bahwa Asia telah dibebaskan dari tirani dan dia sendiri berhasil menyebarkan agama tauhid yang dipeluknya selama berada di Asia.


Pada tahun 330 SM dia mengepung Babylon, Susa, dan kota-kota lain di wilayah barat dan utara kemaharajaan Persia. Ibukota Perspolis direbut. Dia terus memburu Darius yang berhasil melarikan diri dari istananya. Dua tahun kemudian baru dia dapat menangkap Darius, tetapi khusraw Persia itu telah dijumpai tak bernyawa. Dzulkarnain merasa kasihan pada nasib raja ini, lalu menguburkan Darius denga upacara kebesaran. Sejak itu Dzulkarnain lebih suka memakai jubah Persia dibanding pakaian Yunani. Pada tahun 327 SM, tepat musim semi, Dzulkarnain mengerahkan tentara Makedonia dan Persia ke India dengan maksud menyebarkan agama.


Dalam Hikayat Iskandar Dzulkarnain versi Melayu dikisahkan antara lain sebagai berikut: “Setelah Darya (Darius) menaklukan Babylonm dan menjadi penguasa di situ, baginda menuntut kerajaan Romawi membayar upeti. Raja Iskandar menolak tuntutan itu, lantas meletauslah peperangan antara kedua negeri itu. Setelah memperoleh beberapa kemenangan dalam pertempuran yang menentukan, Iskandar menjadi sombong dan baginda dirasuk iblis untuk mengerjakan berbagai pekerjaan yang dilarang oleh agama. Kemudian Tuhan mengutus Khaidir untuk memberi petunjuk. Setelah itu Iskandar menjadi raja yang beriman kepada Allah. Dia kemudian memulai perjuangannya untuk menyebarkan agama tauhid. Banyak negeri ditaklukkan di timur maupun barat. Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, banyak hal-hal menakjubkan dia saksikan. Akhirnya dia kembali ke Persia dan kawin dengan putrid Nuraini.”



Kembali ke surat al-Kahfi, yang artinya Gua karena mengisahkan para penghuni gua atauashabul kahfi. Dalam surat ini kita temui kisah-kisah lain di samping kisah Dzulkarnain serta Yajuj dan Ma’juj, yang saling berkaitan pesan moralnya satu dengan yang lain, termasuk dengan kisah Dzulkarnain. Kisah-kisah ini mengundang lahirnya tafsir spiritual atau sufistik yang lazim disebut ta’wil, sejenis hermeneutika Islam atau penafsiran yang mendalam atas makna suatu ayat atau kisah-kisah dalam al-Qur’an yang tidak dapat ditafsir secara harfiah dan rasional. Bahkan juga memberi ilham bagi lahirnya karya sastra, yang dalam tradisi Islam tidak sedikit merupakan ungkapan yang lahir dari penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadis, serta peristiwa-peristiwa sejarah. Penafsiran itu kemudian diolah dan ditransformasikan ke dalam ungkapan estetik sastra, termasuk Hikayat Iskandar Dzulkarnain, Hiikayat Yusuf dan Zulaikha, serta Hikayat Nabi Musa a.s.


Kisah-kisah yang mengandung pesan apokaliptik atau menyingkap pertanda tersembunyi mengenai datangnya akhir zaman yang didahului dengan munculnya perubahan dan kerusakan besar itu ialah: (1) Kisah penghuni gua (ashabul kahfi) yang bangun kembali dari tidurnya yang lama yaitu 309 tahun; (2) Kisah kehidupan seorang kafir dan seorang mukmin; (3) Perjumpaan Nabi Musa a.s. dengan Khaidir di tempat bertemunya dua lautan; (4) Kisah pertemuan Duzlkarnain dengan Yajuj dan Ma’juj, serta kunjungan Dzulknain ke dua negeri, pertama negeri yang penduduknya amat miskin dam melarat setelah dirusak oleh kekuatan jahat, yaitu para pengikut Yajuj dan Ma’juj; dan satunya lagi negeri yang penduduknya jahil alias bodoh tidak mengenal budaya baca dan tulis, juga disebabkan ulah sang perusak yang sama. Bahwa episode-episode dalam Hikayat Iskandar Dulkarnain (versi Persia dan Melayu) merujuk kepada surat al-Kahfi dapat dilihat antara lain pada bagian yang mengisahkan perjalanan Dzulkarnain bersama jurumasaknya untuk mencari air hayat (ma` al-hayat), yang merupakan lambang makrifat. Di pantai tempat bertemunya dua lautan (bahrayn) dia bertemu Nabi Khaidir a.s.


Tidak sedikit sarjana memandang kisah-kisah dalam surat al-Kahfi sebagai fiksi yang tidak perlu diberi perhatian sehubungan dengan hikmah dan relevansi pesan moralnya dalam zaman yang dikuasai oleh peradaban materialistik, positivistik, hedonistik dan nihilistik seperti sekarang. Tetapi penemuan arkeologis do desa al-Raqim, Yordania, pada tahun 1963 oleh arkeolog Yordan terkenal Muhammad Taisir Dhabijan dan kawan-kawannya membuktikan bahwa kisah tersebut bukan fiksi apalagi dongeng.



Penemuan itu sekaligus meningkatkan siginifikansi kisah tersebut dan mengukuhkan keyakinan bahwa apa yang dipandang tidak masuk akal bukan tidak mungkin tidak terjadi sejauh Tuhan menghendaki, termasuk membangkitkan kembali orang telah lama tidur, mati suri atau tersembunyi bagi penampakan indera dan pemikiran manusia. Misalnya kemunculan Imam Mahdi dan kehadiran kembali Isa Almasih, atau sosok semacam itu sebagai bukti pertolongan Tuhan kepada oang beriman yang teraniaya dan tertindas. Penyair idealis Jerman abad ke-19 M Fridriech Hoelderlin, sebagai contoh menulis dalam puisinya “Patmos”: “Yang dekat Tuhan/ Namun sukar dipaham/Jika bencana besar datang/Akan muncul mereka yang akan membimbing menuju keselamatan!”


Ciri dan keadaan gua yang ditemukan di desa al-Raqim itu sesuai benar dengan yang diuraikan dalam al-Qur’an. Taisir Dhabiyan sendiri memaklumkan dan menguraikan penemuan lokasi gua itu sendiri dalam bukunya Penemuan Besar Abad ke-20: Kisah Ashabul Kahfi (terj. Masruch Nasuha. Semarang: Toha Putra, 1983). Tulang rangka manusia yang ditemukan berjumlah tujuh seperti diberitakan dalam al-Qur’an, ditambah satu sebuah kerangka seekor anjing piaraan penghuni gua tersebut. Dalam ayat 9-12 surat al-Kahfi (Q 18:9-14) dikemukakan lebih kurang sebagai berikut:


“Atau kalian mengira para penghuni gua dan dusun al-raqim itu termasuk pertanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lantas berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, limpahkan rahmat atas kami dari-Mu dan sempurnakan petunjuk-Mu yang lurus berkaitan dengan urusan kami ini.’ Kemudian Kami tutup telinga mereka selama beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar diketahui yang mana di antara kedua golongan yang ada (yaitu penghuni gua itu yang beriman dan lawannya pengikut Decius, raja Romawi si penyembah berhala) yang lebih tepat menghitung berapa lama mereka sebenarnya tinggal dalam gua itu.”


Bahwa pemuda beriman itu sedang dikejar-kejar oleh tentara raja kafir yang akan membasmi agama mereka dengan merusak aqidahnya, dan kemudian setelah bangun tidurnya yang lama maka penduduk di situ mendirikan sebuah bangunan sebagai peringatan, dipaparkan dalam ayat 20-22. Dalam ayat inilah pesan moral kisah ini kita jumpai dalam kaitannya dengan kewajiban mempersiapkan diri menghadapi datangnya hari kiamat, berita yang juga dikemukakan dalam surat yang sama (ayat 47-8).


Dalam ayat 20-21 diutarakan sebagai berikut: “Sesungguhnya jika mereka (orang kafir) dapat mengetahui tempatmu (bersembunyi) niscaya mereka itu akan melempar batu ke atasmu, atau memaksamu kembali kepada kepercayaan mereka (menyembah berhala), dannjika demikian maka pastilah kamu akan mengalami kerugian selama-lamanya./ Dan demikian pula Kami mempertemukan orang-orang dengan mereka (penghuni gua), agar orang-orang itu mengetahui bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatanganhari kiamat tidak bisa diragukan. Ketika orang-orang itu berselisih tentang pekerjaan (dan kegiatan) mereka, sekelompok orang berseru ‘Dirikanlah sebuah banguan di atas gua, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang siapa mereka itu sebenarnya.’ Orang-orang yang berwewenang atas urusan itu kemudian berkata, “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”


Dalam ayat berikutnya (Q 18:22) dipaparkan perselisihan yang timbul berkenaan dengan jumlah penghuni gua itu, lebih kurang terjemahannya sebagai berikut: “Kelak (akan ada yang) mengatakan (bilangan mereka): ‘Adalah lima orang, yang keenam anjing mereka’ sebagai dugaan terhadap hal yang gaib; (dan orang yang lain lagi) mengatakan: ‘tujuh orang, yang ke delapan anjing mereka’. Katakanlah: Tuhanku lebih mengetahui bilangan mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit orang.’ Karena itu jangan kamu bertikai mengenai mereka, kecuali secara formal dan jangan kamu menangan perihal mereka kepada siapa pun di antara mereka.” Berapa lama mereka tinggal dalam gua al-Raqim? Q 18:25 menjawab: “Dan mereka tinggal dalam gua itu tiga ratus sembilan tahun lamanya.”


Al-Qur’an memberi tahu pula bahwa pada hari kebangkitan setelah yaum al-qiyama kelak manusia akan dibangkitkan secara rohani maupun jasmani. Tidak mustahil bahwa terdapat orang-orang terpilih yang akan dibangkitkan dari mati suri dan persembunyiannya yang lama oleh Yang Maha Kuasa seperti Ashabul Kahfi itu kelak menjelang akhir zaman. Itulah dasar kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi dan turunnya kembali Isa Almasih dalam eskatologi apokaliptik Islam. Baik pengikut Sunni maupun Syiah, dengan bersandar pada sebilangan Hadis sahih masing-masing, meyakini hal itu. Perbedaan tentang siapa Imam Mahdi adalah perkara yang bersifat furu’ dan tidak perlu menimbulkan pertikaian khilafiya. Yang tidak diragukan adalah relevansi dari kisah-kisah yang terdapat dalam surat al-Kahfi.



Seperti kisah Iskandar Dzulkarnain, kisah penghuni gua ini memang terjadi dalam sejarah. Sumber sejarah Kristen dan Islam menyebutkan bahwa pemuda Ashabul Kahfi memang pernah hidup pada zaman ketika kekaisaranmByzantium (Romawi Timur) menguasai negeri Arab pada awal tersebarnya agama Kristen. Sumber Islam menyebutkan bahwa pemuda itu hidup pada masa pemerintahan kaisar Taryanus (98-117 M). Raja ini memerintah denga kejam dan memaksa rakyat ikut menyembah berhala. Mereka yang menolak akan dikejar dan dibunuh. Pada masa itu pengikut Nabi Isa a.s. menyebarkan agama secara sembuyi-sembunyi. Tidak sedikit di antara mereka terpaksa membangun rumah di gua-gua untuk bersembunyi. Di antara orang Nasrani itu terdapat pemuda yang gigih dan militan mempertahankan keimanannya. Mereka bersembunyi di gua al-Raqim, Yordania sekarang. Selama 309 tahun Tuhan menidurkan mereka. Ketika mereka dibangunkan dari tidur, pemerintahan sudah berada di tangan raja yang saleh dan beriman, Theodosius (408-450 M). Kaisar ini hidup sebelum kaisar Justianus yang menetapkan doktrin trinitas sebagai ajaran resmi agama Kristen atau Katholik. Sedangkan pemuda Ashabul Kahfi diperkirakan pemeluk agama Kristen Timur atau Nestoria yang tidak mengakui ketuhanan Isa Almasih.


Mengenai kaisar Taryanus sendiri, dia berasal dari Rumania dan pada tahun 106 M menaklukkan Yordania Timur. Di Amman dia mendirikan sebuah gedung megah yang bisa memuat 60.000 orang dengan monument besar. Bangunan ini penuh dengan arca yang berfungsi sebagai berhala sesembahan raja yang zalim itu. Dalam gua al-Raqim ditemukan pula beberapa kepingan mata uang yang digunakan pada zaman pemerintahannya.


Patung-patung Sumeria di Museum New York.




APOKALIPTISISME ISLAM:


ASHABUL KAHFI DAN PERTANDA AKHIR ZAMAN (2)


Abdul Hadi W.M.



Relavansi kisah-kisah dalam surat al-Kahfi dapat dilihat melalui pengaruhnya yang mendalam terhadap pemikiran keagamaan dan kebudayaan orang Islam, serta banyaknya karya besar dalam kesusastraan yang lahir diilhami oleh pesan moral dan tema dari kisah-kisah dalam surat al-Kahfi. Selain kisah Iskandar Dzulkarnain atau Iskandar-namah (Nizami), juga lahir berbagai versi Hikayat Nabi Musa dan Khaidir darinya dalam kesusastraan Arab, Persia, dan Melayu. Beberapa kitab eskatologi Melayu yang menjadi bacaan luas di Indonesia dan Malaysia, juga lahir diilhami antara lain oleh surat al-Kahfi. Misalnya Kitab Akhbar al-Ahirat fi Ahwal al-Qiyamah (karangan ulama sastrawan Aceh abad ke-17 M Nuruddin al-Raniri), Kitab Seribu Masalah (yang ditulis pada zaman Sultanah Safiatuddin Tajul Alam di Aceh Darusssalam pada akhir abad ke-17 M) dan Kitab al-Qaulul Mukhtasar (karagan Syekh Arsyad al-Banjari pada awal abad ke-19 M di Banjarmasin). Kitab yang terakhir ini memuat pasal yang menarik, “Risalah Turunnya Imam Mahdi”.


Surat al-Kahfi dimulai dengan penjelasan bahwa kitab suci al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk (al-huda, dari mana perkataan al-mahdi, yang diberi petunjuk berasal), yaitu petunjuk menuju jalan lurus dalam keimanan, dan peringatan akan siksaan pedih (neraka jahanam) yang diperoleh oleh mereka yang mengingkari petunjuk-Nya. Datangnya akhir zaman dipaparkan berupa rusaknya tatanan kosmik (bergeraknya gunung-gunung) dan tatanan kehidupan manusia di bidang moral, hukum, politik, sosial, ekonomi, keagamaan, spiritualitas, dan kebudayaan. Dalam surat al-Naml 82, akhir zaman ditandai dengan munculnya sejenis ‘binatang melata’ (dabba) dari bumi (dabbatam min al-ardh) yang akan mnyebarkan keyakinan bahwa sejak dahulu manusia mengingkari Sang Khaliq. Dabba atau binatang melata itu menurut banyak mufassir adalah tamsil bagi segolongan manusia yang bertabiat seperti binatang, yang muncul menampakkan diri setelah bersembunyi lama.



Tidak sedikit pula mufassir mengaitkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang isinya lebih kurang sebagai berikut: “Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga engkau semua akan memerangi kaum Yahudi (zionis) sampai batu-batu mengenai orang-orang sekaumnya bersembunyi…” Atau dengan hadis yang diriwayatkan Ibn Majah, “Maka apabila Dajal sudah terbunuh, maka hancurlah barisan zinois Yahudi, yaitu saling beradu senjata dengan sesamanya demi membela Dajal dan bilangan mereka sebanyak tujuh puluh ribu.” Bilangan pengikut utama Dajal sebanyak tujuh puluh ribu itu dipaparkan juga dalam Kitab Seribu Masalah versi Melayu. Angka persisnya memang tidak bisa dipastikan, namun penyebutan tujuh puluh ribu hanya sebagai perkiraan tentang jumlahnya yang begitu besar.


Pada tahu 1939, dalam ceramahnya pada Kongres Internasional tentang Islam di Brussel, Belgia, Louis Massignon mengingatkan arti penting kisah Ashabul Kahfi bagi kebangkitan umat Islam dari tidurya. Maklum ketika konferensi sedang berlangsung sebagian besar negeri kaum Muslim berada dalam cengkraman kolonialisme dan imperialisme Barat. Jumlah tujuh penghuni gua itu pun dapat dikaitkan dengan bilangan tujuh kaum Muslimin berdasarkan rumpun bangsa: Muslim Maghribi (Maroko, Tunisia, Libya), Muslim Afrika, Muslim Arab, Muslim Turk termasuk yang tinggal di Turki, Asia Tengah dan Cina, Muslim Parsi termasuk yang tinggal di Asia Tengah dan Afghanistan, Muslim Indo-Pakistan, Muslim Melayu di Asia Tenggara terutama Indonesia dan Malaysia.


Ceramahnya itu sendiri diberi judul “The Seven Sleepers” (lihat jurnal Islamic Culture Vol. XV, no.3, Heyderabad, Deccan India, July 1941). Sarjana Perancis yang mashyur itu mengatakan bahwa kisah Ashabul Kahfi telah lama menjadi semacam ekstologi politik di kalangan umat Islam berbagai madzab dan sempalan-sempalannya. Ini disebabkan, selain pentingnya pesan moral dari kisah-kisahnya, juga karena perumpamaan yang terdapat di dalamnya mampu membangkitkan kesadaran religius, kultural, dan politik umat Islam. Terlebih apabila pertanda datangnya akhir zaman sebagaimana diisyaratkan dalam al-Qur’an dan hadis mulai menyingkap kebenarannya.


Pesan sosial dan moral surat al-Kahfi itu memiliki kekuatan tersendiri dalam membangunkan kesadaran dan tanggung jawab generasi muda Islam dari berbagai madzab, gerakan, organisasi, dan perkumpulan yang tampaknya berbeda-beda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu membebaskan umat Islam dari perbudakan dan penjajahan kaum lain. Yang lebih ditakutkan ialah kebangkitan kaum terpelajarnya yang bersenjatakan kalam. Apalagi jika kondisi sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan sedemikian buruknya seperti sekarang ini. Dari segala penjuru Islam mendapat fitnah keji dan selalu dikaitkan dengan terorisme dan label-label lain yang menakutkan seperti poros kejahatan (axis of evil), agama fasis (fascisme Islam), musuh demokrasi, anti multikulturalisme dan kebebasan beragama.



Kisah pertama tentang penghuni gua itu sendiri seperti telah diuraikan. Kisah ini telah sejak abad ke-6 M dikenal luas di kalangan penganut agama Yahudi dan Nasrani. Bagi orang Nasrani abad ke-6 M merupakan berakhirnya zaman kegelapan dan datangnya zaman baru penuh pencerahan. Agama yang semula dianut oleh budak-budak tentara Romawi itu akhirnya diterima oleh bangsa Romawi dan tersebar luas di Eropa. Kekuasaan raja sekular berpindah ke tangan Gereja. Itu merupakan bukti kemahakuasaan Tuhan. Seabad kemudian, pada akhir abad ke-6 M, agama Islam lahir di jazirah Arab. Pada awal abad ke-7 M dua superpower yang bertarung lama ketika itu yaitu kekisaran Romawi dan kemaharajaan Persia sudah diambang kehancuran. Tidak lama kemudian wilayah kekuasaan mereka jatuh ke tangan kaum Muslimin. Bagi orang Islam, abad ke-7 M merupakan akhir zaman gelap dan datangnya zaman baru. Sebelum kejadian itu jadi kenyataan, Tuhan berfirman bahwa “Tidak lama setelah kekalahan tentara Romawi di negeri terdekat, dan kemenangannya kembali atas Persia, kaum Muslimin akan mendapat kemenngan.” (urah al-Rum).


Demikianlah ke dalam kisah penghuni gua itu al-Qur’an menambah dengan pesan moral keagamaan yang luas. Termasuk pentingnya meyakini hal-hal ajaib yang disingkap Tuhan untuk menolong kaum beriman yang tertindas. Melalui kisah ini dinyatakan bahwa dalam periode-periode sejarah yang menentukan, Tuhan tidak segan-segan memperlihatkan campur tangan-Nya secara langsung dalam peristiwa kemanusiaan.


Kisah kedua, mengenai dua orang lelaki yang memperoleh keberuntungan berbeda. Yang satu kaya raya, sombong, egosentris, suka pamer kekayaan, dan gemar mengejek agama dan orang beriman. Yang seorang lagi miskin, namun sabar, berbudi baik dan beriman. Ia selalu menjadi bahan ejekan si kaya kafir, bahkan tak jarang menganggap kaum beriman dan berpegang pada aqidah itu merupakan ancaman terhadap kebebasan beragama. Kisah ketiga, penuh pesan esoterik dan mengandung paradoks. Di dalamnya tidak seidkit pula pelajaran bisa dipetik. Yaitu pengembaraan Nabi Musa bersama seorang murid atau pembantunya untuk mencari ilmu kerohanian atau ilmu yang diturunkan langsung dari Tuhan (`ilm al-laduni). Dalam perjalanan itu dia berjumpa Nabi Khaidir, tokoh mitis yang menguasai ilmu ketuhanan.


Kisah keempat, munculnya Yajuj dan Ma’juj yang dijumpai oleh Dzulkarnain di ufuk perjalanannya di kawasan tempat terbenamnya matahari. Dzulkarnain diperintah oleh Tuhan membangun tembok besar untuk menghentikan petualangan dua kekuatan perusak dunia itu. Kisah ini dijadikan rujukan utama eskatologi apokaliptik Islam.


Dalam kisah Nabi Musa a.s. dan Khaidir ada tiga peristiwa penting yang dijadikan pelajaran selama kita dapat memberinya iktibar dengan baik, menggunakan pengetahuan kita tentang hakekat ajaran Islam, khususnya konsep Tauhid, dan ditopang pula dengan pengetahuan kita mengenai sejarah.


Pertama, kejadian ketika Khaidir melubangi sebuah perahu nelayan dengan maksud agar perahu tersebut tidak dirampas oleh raja yang tamak dan zalim yang sedang memerintah di negeri itu. Raja ini gemar merampas kekayaan dan milik rakyat.


Kedua, kisah Khaidir membunuh seorang pemuda fasik, yang sedang berupaya menjadikan kedua orang tuanya murtad. Padahal orang tuanya adalah orang beriman yang dipuji oleh masyarakat. Kisah ini berhubungan dengan persoalan degenerasi dan demoralisasi yang sedang melanda suatu masyarakat. Ketika Nabi Musa a.s. bertanya mengapa Khaidir membunuh pemuda tersebut, Khaidir mengatakan bahwa kelak Tuhan akan menggantinya dengan anak yang saleh dan beriman.


Ketiga, kisah tentang Khaidir yang mendirikan tembok atau dinding sebuah yang sudah runtuh. Pekerjaan itu dilakukan untuk menyelamatkan harta milik dua anak yatim piatu yang oleh orang tuanya disimpan di bawah tembok itu. Jika tembok itu runtuh, jejak harta yang disimpan itu akan lenyap. Nabi Musa heran mengapa Khaidir melakukan hal itu tanpa mengutip bayaran. Sedangkan pada zaman itu materialisme sedang merajalela. Teladan ini dewasa ini akan relevan. Di banyak Negara, termasuk negeri kaum Muslimin, dewasa ini sumber-sumber energi dan tambang, serta hasil bumi, dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing. Penduduk pribumi lantas menjadi yatim piatu seperti dalam kisah Khaidir tersebut.



Telah dikemukakan tentang cermah Louis Massignon pada tahun 1939. Sarjana Perancis itu mengingatkan bahwa kisah Ashabul Kahfi telah lama menjadi semacam eskatologi politik di kalangan orang Islam. Selain pesan moralnya, semangat yang dikandung kisah tersebut mampu membangkitkan kesadaran dan tanggungjawab generasi muda Islam, khususnya kaum terpelajarnya yang kecewa dengan keadaan sosaial, ekonomi dan politik di Negara mereka yang buruk, dan pada saat yang sama mereka kehilanan jati diri sebab tercerabut dari akar budaya, akar agama, dan akar sejarah masyarakatnya. Arab Springs yang masih berlanjut adalah salah satu contoh actual. Pengamat di Barat mengira bahwa Revolusi Melati yang terjadi di Mesir semata-mata didorong oleh keinginan membangun masyarakat yang bebas dari penguasa otoriter, suatu masyarakat demoratis yg menjung tinggi HAM. Aalam kenyataan, pendukung revolusi damai di Mesir itu mendambakan juga jati diri mereka yang hilang sebagai bangsa dan umat beragama.


Bukan hanya di kalangan orang Islam kisah Ashabul Kahfi atau Penghuni Gua dengan pesannya itu jadi pembahasan dan mengilhami karya sastra. Tidak sedikit pengarang Kristen berulang kali menggubah kisah tujuh penghuni gua al-Raqim mnjadi karangan yg kaya dengan pesan moral dan gambaran apokaliptik dunia sekarang. Contoh terbaik ialah Karamazov Brothers, novel karangan Dostoyevski yang ditulis pada 1881 hanya kurang dari tiga decade meletusnya Revolusi Bolshewik di Rusia dan pecahnya Perang Dunia I.


Dalam novel itu dikemukakan bahwa Anti-Christ (Dajjal) akan muncul apabila umat manusia benar-benar dikuasai oleh peradaban materialistis dan hedonistis. Ini diisyaratkan misalnya melalui ucapan tokoh novel itu Pendeta Zosima.


“Lihatlah keadaan dunia dan mereka yang menempatkan diri di atas umat Tuhan, tidaklah Tuhan dan kebenaran ilahi telah mereka selewengkan? Mereka memiliki ilmu pengetahuan, tetapi dalam ilmu mereka tiada apa pun selain perkara kebendaan. Alam kerohanian, diri tertinggi dan wujud kemanusiaan, mereka ingkari dan tolak secara terang-terangan dan dlenyapkan dengan perasaan kemenanagan bahkan dengan kebencian. Dunia telah mengumumkan diri bebas merdeka, tetapi apa yang kita saksikan dalam kebebasan itu? Tiada sesuatu apa pun selain perbudakan oleh benda-benda dan penghancuran diri”.


Menurut Dostoyevski hasil perkembangan dunia seperti itu ialah pemencilan dan bunuh diri spiritual (spiritual suicide) di kalangan orang kaya dan kecemburuan social/ekonomi serta kriminalitas di kalangan orang miskin. Pendek kata memberi ruang seluas-luasnya bagi bersimaharajaleanya kejahatan dalam segala bidang kehidupan. Manusia jauh lebih mementingkan dunia dan kekayaan material sehingga rasa kemanusiaa dan tanggung jawab sosialnya semakin kecil. Novel Dostoyevski itu mengungkapkan masalah eksistensial manusia modern, terutama yang berkaitan dengan ateisme, materialisme, anarkisme, dan kewujudan Tuhan. Di situ diceritakan 4 orang bersaudara putra Karamazov yang membunuh ayahnya yang kaya dengan motif berbeda-beda. Yang tertua Dmitri untuk merampok kekayaan ayahnya agar dapat bersenang-senang dengan kekasihnya yang juga adalah istri piaraan ayahnya. Yang nomor dua Ivan Karamazov menginginkan uang untuk membantu gerakan social dan revolusioner. Yang nomor ketiga Ilyusha tidak senang karena ayahnya terlalu jauh menympang dari jalan agama. Yang keempat Semrdyakov, adalah anak haram, yang ingin ayahnya mati karena tidak diakui sebagai anaknya. Alur cerita novel ini saja sudah menunjukkan bahwa yang digambarkan adalah proses demoralisasi masyarakat modern yang tenggelam dalam materialisme.


Di dalam sastra Islam tema apokaliptik berkaitan dengan pesan moral kisah Ashabul Kahfi dapat dikemukakan antara lain sajak panjang Parlemen Setan Muhammad Iqbal, Ahlul Kahfi Taufiq el-Hakim, drama puitik Tragedi al-Hallaj Salah Abdul Sabur, drama Ozone Arifien C. Noer. Dalam karangan ini tak akan diulas, karena memerlukan ruang bih luas untuk membahas karya-karya tersebut. Tetapi secara tematik karangan-karangan tersebut membahas masalah kehancuran dunia menjelang akhir sejarah. Sastrawan Mesir selain Taufiq el-Hakim dan Salah Abdul Sabur yang membahas tema ini ialah Thaha Husein. Dia menghubungkan kisah Ashabul Kahfi dengan keperluan umat Islam mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan, seni, sastra, dan filsafat agar dapat menangkir dampak buruk peradaban dan kebudayaan masyarakat industri kapitalis yang hampa nilai moral dan kerohanian.



Jika kita kembali ke kisah Ashabul Kahfi akan tampak pentingnya kisah tersebut dalam masyarakat Islam. Pada suatu masa pernah baik di kalangan Sunni maupun Syiah, pembacaan surat al-Kahfi dipandang sebagai bagian penting dari ibadah. Beberapa hadis juga membicarakan tanda-tanda datagnya Dajjal, antara lain semakin maraknya fitnah yang ditujukan kepada umat Islam serta perampokan atas kekayaan alam di negeri mereka yang berlimpah. Beberapa kelompok Syiah memandang kisah ini mengandung renungan politik. Kalangan Syiah Imam Tujuh atau Ismailiyah menyebutkan bahwa 7 penghuni gua al-Raqim itu adalah 7 imam mereka yang tersembunyi. Di kalangan orang Sunni tertentu 7 penghuni gua itu digambaran 7 Wali Abdal yang merupakan para pembaru (mujaddid) pemikiran keagamaan yang akan dating. Salah seorang di antaranya yang telah dating ialah Bayazid al-Bisthami, sufi dari Persia abad ke-9 M.

Tamat.
Alexandre the Great menyerbu Persepolis atauParsgadae ibukota kemaharajaan Persia.

Abdul Hadi W. M.




www.lintas-copas.blogspot.com