Sabtu, 29 Desember 2012

Arkeolog Pertanyakan Pengeboran Gunung Padang


Pengeboran di situs Gunung Padang (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

Tim Bencana Katastropik Purba pernah menyebut dugaan usia situs sekitar 10.000 SM.
Tim Bencana Katastropik Purba beberapa waktu lalu telah melakukan penanggalan uji karbon (carbon dating) dari hasil pengeboran di situs Megalitik Gunung Purba, Jawa Barat. Temuan sementara menyebut bahwa usia situs itu mencapai puluhan ribu tahun sebelum masehi.

Namun, metode pengeboran ini dipertanyakan oleh pakar arkeologi. Ahli arkeologi mempertanyakan hasil carbon dating dan berpendapat bahwa usia situs Gunung Padang hanya ribuan tahun saja.

"Kami ingin lihat pengeboran sudah benar atau belum. Karena sejak bumi muncul, karbon itu sudah ada," ujar Soeroso, arkeolog Universitas Gajah Mada saat ditemui dalam Rembug Nasional Situs Gunung Padang di Pusat Arkeologi Nasional, Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis, 29 Maret 2012.

Sementara arkeolog lain juga menyoroti metode pengeboran. "Pengeboran harus benar-benar pada lapisan tanah yang paling bawah, bagaimana posisi pengambilan karbon juga penting diperhatikan," ujar Sutikno Bronto dari Pusat Survei Geologi Kementerian ESDM.

Ia mengatakan secara teoritis, pengeboran harus tersingkap secara jelas pada lapisan tanah yang paling bawah.

Sutikno mengatakan bahwa lapisan tanah di Gunung Purba telah terjadi longsoran sehingga jika pengambilan karbon pada lapisan tanah paling bawah bisa jadi susah. "Untuk itu perlu pengujian alat geofisika dan bornya," sambungnya.

Ia juga mengingatkan selain pengeboran, perlu juga mempertimbangkan kehidupan di sekitar situs untuk melihat apakah terdapat petunjuk kehidupan di masa silam, yang nantinya dapat membantu mengungkap misteri situs ini.

"Paling tidak radius 5 km dari situs juga perlu diteliti," kata jebolan jurusan arkeologi UGM ini.

Ia juga menyayangkan publikasi tim katastropik yang terlalu dini. Karena menurutnya riset ini masih dalam batasan akademik belum final. "Publik akhirnya mengembangkan persepsi sendiri atas temuan itu," katanya.

Ia mengatakan banyak arkeologi yang menolak temuan Tim Katastropik yang menganggap situs Gunung Padang adalah sebuah piramida. "Banyak yang menolak, tapi biar jelas dan yakin, mari teliti bersama," katanya.

Adapun penelitian Tim Bencana Katastropik Purba dilakukan dengan menggunakan survei geologi, georadar, geolistrik, geomagnet, hingga pengeboran. Dari hasil pengeboran, terlihat bahwa situs Gunung Padang merupakan bangunan hasil buatan manusia, dengan teknologi yang terbilang maju.

vivanews

www.lintas-copas.blogspot.com