Minggu, 23 Desember 2012

Diapun Gugur Sebagai Bunga Bangsa (Tjut Nyak Meutia 1870-1910)

1329998154368053047



Terlahir di Perlak-Aceh bagian timur pada tahun 1870, Tjut Nyak Meutia adalah seorang perempuan pejuang yang sangat gigih dan pantang tunduk kepada kolonial. Berjuang terus menerus membela bangsa tanpa pamrih sampai tiga timah panas dari serdadu Belanda menghantam tubuhnya, roboh dan gugur sebagai pahlawan bangsa. Nama besarnya di abadikan sebagai nama jalan, nama group kesenian sampai nama restoran di seantaro negeri ini.

Dinobatkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional dengan SK presiden Republik Indonesia no. 107 thn 1964, pada tanggal 02-05-1964. Penghargaan yang sangat pantas beliau dapat atas jasa-jasa nya dalam mengusir penjajah di bumi pertiwi ini. Dia seorang perempuan digaris depan yang siap dengan pedang ditangan rencong di pinggang, tanpa ragu tanpa rasa takut, gagah dan suara lantang memimpin pasukannya mengusir si penjajah anak bangsa.

Membaca artikel-artikel tentang riwayat hidup beliau, membuat mata sembab, air bening mengalir di pipi tanpa terasa, rasa haru dan sedih bercampur baur. Dikisahkan Tjut Nyak Meutia dewasa menikah dengan seorang pejuang yang sangat gigih, pejuang yang sangat dicintainya yaitu Teuku Muhammad yang juga dikenal dengan nama Tengku Chik di Tunong. Walaupun sedari kecil beliau sudah ditunangkan dengan pilihan orang tuanya Tgk Syam Syarif, namun Tjut tetap memilih pemuda pujaan hatinya. Perang terhadap pendudukan Belanda terus berkobar seakan tidak pernah berhenti. Cut Nyak Meutia bersama suaminya Teuku Cik Tunon langsung memimpin perang di daerah Pasai. Perang yang berlangsung sekitar tahun 1900-an itu telah banyak memakan korban baik dari pihak pejuang kemerdekaan maupun dari pihak Belanda. Tapi apa hendak dikata, Tuhan berkehendak lain, di suatu hari bulan mei 1905 suaminya Teuku Cik di Tunong tertangkap oleh pasukan belanda dan kemudian dia dihukum tembak.

Beberapa lama kemudian Tjut Nyak Meutia menikah lagi dengan Pang Nanggro. Pria ini adalah pria yang ditunjuk oleh mendiang suaminya untuk menikah apa bila ia sudah mangkat nantinya. Bersama suaminya Pang Nanggro beliau tetap meneruskan perjuangan mengusir penjajah sambil bergerilya di hutan rimba daerah pasai. Tekat pantang menyerah tetap terpatri dilubuk hatinya sampai ajal menjemput. Pada sebuah pertempuran yang sangat dahsyat di Paya Cicem bulan september 1910 suami kedua beliau Pang Nanggro menemui ajal dihentak peluru pasukan Belanda. Sedang Tjut Nyak Meutia sendiri bisa lolos dari kepungan. Setelah kematian Pang Nanggro banyak anggota pasukan beliau menyerahkan diri kepada Belanda, oleh sebab itu kekuatan pasukan pun semakin hari semakin melemah.

Dikisahkan di ujung hayat, dalam hutan belantara Pasai beliau hidup berpindah-pindah bersama anaknya bernama Raja Sabil yang baru berumu 11 tahun waktu itu. Dan akhirnya tempat persembunyian beliau diketahui oleh Belanda, dan dalam sebuah penyergapan yang sangat rapi tgl 24 oktober 1910 dia ditemukan. Tjut Nyak Meutia tetap melawan dengan sebilah rencong ditangan dan akhirnya satu peluru serdadu Belanda menembus kepalanya dan dua peluru lain bersarang dada nya. DIA PUN GUGUR SEBAGAI BUNGA BANGSA.

Teuku Nas.



www.lintas-copas.blogspot.com