Kamis, 13 Desember 2012

Eks Astronot: NASA, Jangan Remehkan 2011 AG5


Asteroid 2011 AGS diperkirakan mendekati bumi pada 5 Februari 2040. (nasa.gov)


Deep Impact pernah ditabrakkan ke Komet Tempel 1 tahun 2005. Tak mempan untuk 2011 AGS.
Dua puluh delapan tahun lagi, tepatnya pada 5 Februari 2040, sebuah asteroid sepanjang 460 kaki atau 140 meter akan melintas dekat Bumi. Asteroid 2011 AG5 itu bisa jadi ancaman bagi umat manusia, meski para ilmuwan mengatakan belum tentu, perbandingannya masih jauh 1:625. Dan, masih ada banyak waktu.

Jawaban para ilmuwan tak memuaskan bagi sebagian orang, termasuk seorang astronot misi Apollo, Russell Schweickart, yang belakangan mendedikasikan diri dalam pengamatan batu angkasa yang berpotensi berbahaya bagi bumi.

Ia menuntut Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mempelajari lebih detail soal Asteroid 2011 AG5. Dalam surat terbuka yang ditujukan pada administrator NASA, Charles Bolden, Schweickart menyoroti apa yang ia anggap sebagai ancaman yang bisa ditimbulkan batu angkasa itu, saat ia masuk ke 'lubang kunci' pada 2023 dan membuatnya mungkin akan bertabrakan dengan bumi pada 2040.

'Lubang kunci" (keyhole) adalah sebuah wilayah kecil di ruang angkasa dekat bumi, di mana objek dekat bumi yang melintas bisa terganggu, oleh gaya gravitasi, yang menempatkannya pada lintasan yang bisa menubruk bumi.

Schweickart mempertanyakan pandangan Bolden, dalam korespondensi sebelumnya, bahwa satelit mirip Deep Impact bisa diluncurkan dalam waktu yang cukup untuk menghalau batu itu menghantam permukaan bumi.

Sebelumnya, satelit Deep Impact pernah ditabrakkan ke Komet Tempel 1 pada 4 Juli 2005.

Meski misi Deep Impact kala itu berhasil, Schweickart berpendapat, analogi yang sama tak bisa digunakan untuk Asteroid 2011 AG5. Ia berpendapat, untuk asteroid tersebut, butuh dua misi, tak hanya satu. Dengan kata lain, mencegat dampak Asteroid 2011 AG5 tantangannya lebih menakutkan ketimbang komet Tempel 1.

"Baik Anda maupun saya, tak mau mempertaruhkan hidup tanpa persiapan yang solid. Dalam hal ini, ada potensi nyawa dipertaruhkan. Dan saya sangat tahu, Anda punya tanggung jawab serius, seperti halnya saya," kata Schweickart dalam surat terbuka kepada Bolden, seperti dimuat SPACE.com, Selasa, 13 Maret 2012.

"Jelasnya, saya meminta dilakukan hal teknis khusus dan misi analisis untuk memastikan, kita benar-benar memahami soal perhitungan waktu," tambah dia.

Dia menambahkan, kemungkinan 2011 AG5 menabrak bumi memang kecil. "Namun, kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dengan cara melakukan persiapan."

Menanggapi surat tersebut, pejabat NASA, Lindley Johnson mengatakan apa yang diungkap Schweickart sejatinya menjadi pertimbangan NASA dalam melihat 2011 AG5.

Johnson mengatakan, pihaknya memerlukan data yang lebih akurat soal kepastian orbit 2011 AG5. Jika sudah didapat, baru misi analisis akan dilakukan. "Kami yakin, memiliki waktu lebih dari cukup waktu untuk melakukan misi analisis dan melakukan respon yang dibutuhkan."

Kekhawatiran Schweickart diamini Clark Chapman, spesialis asteroid dan ilmuwan planet dari Southwest Research Institute di Boulder, Colorado.

Sebelumnya diinformasikan, antara tahun 2013 dan 2016, para astronom baru bisa memonitor 2011 AG5 dari tanah, yang jadi modal untuk membuat penilaian yang lebih rinci.

Namun menurut Chapman, itu tak benar. Kita bisa melihat pergerakannya pada Agustus tahun ini. Yang diperlukan adalah sebuah teleskop berbasis tanah yang besar, atau menggunakan Teleskop Hubble.

Makin banyak informasi tentang 2011 AG5 diperlukan. "Kita tak tahu seberapa besar asteroid itu," kata dia. Makin besar ukurannya, makin berat untuk menjauhkannya dari bumi.

Bagaimana dengan prediksi peluang asteroid itu menabrak bumi menjadi nol? "Pendapat saya, Anda tak bisa mengatakan, 'ayo tunggu saja, kemungkinannya menjadi nol'. Ya, ada kemungkinan peluang jadi nol, tapi saya kira tidak....," tambah dia.

www.lintas-copas.blogspot.com