Sabtu, 08 Desember 2012

Gadget dan teknologi modern digunakan untuk menguak piramida dan situs purbakala.

Dulu, para arkeolog sering menemui kesulitan dalam memetakan situs purba atau benda prasejarah yang terkubur di perut bumi. Kini pekerjaan menjadi lebih mudah. Itu berkat gadget dan teknologi canggih, seperti pencitraan satelit, pemetaan laser udara, robot, dan alat pemindai tubuh.


Bahkan, dari luar angkasa sekalipun, para arkeolog mampu menemukan piramida yang terkubur, membuat peta 3D dari reruntuhan Maya kuno, atau menemukan bukti penyakit jantung pada mumi berusia 3.000 tahun.



Menurut David Hurst Tho kurator di American Museum of Natural History, New York, jika menggali bagian dari situs, kemungkinan rusak sangat besar. “Teknologi memungkinkan kita mengetahui lebih banyak sebelum kita masuk ke situs itu, seperti ahli bedah yang menggunakan CT scan dan MRI,“ katanya.


Sarah Parcak, Egyptologist di Universitas Alabama, pernah menggunakan pencitraan satelit untuk mengintip kondisi 10 meter di bawah gurun di Mesir.


Hasilnya, mereka menemukan 17 piramida dan lebih dari 1.000 makam. Satelit juga mengungkap adanya jalan kota dan rumah yang terkubur di Tanis, kota Mesir kuno.


Tak hanya itu, citra satelit yang biasa digunakan Google Earth pun ternyata sangat membantu. Contohnya, banyak situs Mesir kuno yang terkubur lumpur dan pasir. Ketika hujan, tanah dan lumpur itu berubah warna dalam foto satelit.


Magnetometer dapat membedakan logam yang terkubur, batu, dan bahan lain berdasarkan perbedaan medan magnet bumi.


Survei resistivitas tanah mendeteksi obyek berdasarkan perubahan dalam kecepatan arus listrik. Teknik ini membantu ketika dilakukan penggalian di situs budaya yang sensitif, seperti misi Spanyol di Pulau St Catherine di lepas pantai Georgia atau di lepas pantai Georgia atau permukiman Pueblo Indian di New Mexico.


Setelah benda atau tulang muncul, para arkeolog dapat mengembalikan mereka ke laboratorium untuk dilakukan analisis forensik, yang terkesan seperti agen CSI. Computed tomography (CT) scanner, yang biasa digunakan di kedokteran, telah mengungkap arteri yang tersumbat pada mumi putri Mesir kuno berusia 3.500 tahun. Melalui analisis isotop pada tulang, dapat diungkap apa yang mereka makan, termasuk apakah mereka merupakan kelompok pemburu.


Sebuah forensik zat kimia yang mirip berdasarkan radiasi isotop lokasi geografis yang berbeda dapat menguak di mana manusia awalnya dibesarkan. Arkeolog menggunakannya untuk mengidentifikasi asal-usul puluhan prajurit yang ditemukan di sebuah kuburan massal sekitar 375 tahun lalu di Jerman.


Sementara itu, robot Djedi, yang beroda nilon, dirancang khusus untuk tidak merusak piramida ketika mengeksplorasi lubang menuju makam raja-raja dan ratu Mesir. Robot ini dipakai menelusuri gua dan bangkai kapal di bawah air.


Teknik laser digunakan untuk memetakan reruntuhan peradaban Maya melalui metode Light Detection and Ranging atau LIDAR. Metode ini menjadi standar tetap bagi arkeologi dalam beberapa tahun terakhir.


Beberapa dekade silam, arkeolog dipandang sebagai ahli yang berkutat dengan peradaban masa lalu. Dengan teknologi modern, pandangan itu berubah. Namun tetap saja teknologi tidak akan menghilangkan kebutuhan utama melakukan penggalian.


“Memang sangat baik menggunakan pencitraan satelit. Tapi, di lapangan, Anda tetap harus menggali dan mengeksplorasi. Ini akan tetap berlangsung dalam arkeologi,“ kata Parcak.



Perkakas Penguak Masa Lalu


Berikut ini alat-alat bantu yang digunakan para arkeolog di mancanegara:


1. ROBOT PENJELAJAH


Robot ini mampu merangkak ke dalam poros Piramida Agung Giza di Mesir. Arkeolog berharap robot cerdas tersebut lebih fleksibel di masa depan. Carnegie Mellon University sedang mengembangkan robot ular yang dapat menyelusup ke dalam gua buatan manusia dengan potongan kapal kuno di Hurghada, Mesir.


2. LIDAR


Light Detection and Ranging atau LIDAR merupakan teknologi yang mengubah arkeologi dalam lima tahun terakhir. Ditempatkan di pesawat terbang, jutaan laser menembus kanopi hutan lebar untuk memetakan gambar 3D. Teknologi ini dapat mengukur perbedaan ketinggian tanaman dan mengungkap fitur yang terkubur dalam bangunan.


3. PENCITRAAN SATELIT


Untuk menggali harta karun (lebih tepat disebut benda cagar budaya, ed.), para arkeolog kini dibantu gambar visual yang disusun Google Earth atau citra radar NASA (Lembaga Aeronautika Amerika Serikat).


Citra satelit inframerah telah mengungkap adanya piramida, jalan, dan istana serta sungai di bawah Gurun Sahara. Citra radar mampu mendeteksi fitur terkubur sekecil 0,4 meter dan sedalam 10 meter.


4. RADAR, MAGNETOMETER, DAN UJI RESISTIVITAS TANAH


Sebelum melakukan penggalian, arkeologmendapat informasi tentang bagian bawah permukaan dengan beragam teknologi. Instrumen tersebut menciptakan gambar 3D. Radar penembus tanah menggambarkan bahan apa yang terkubur. Magnetometer mendeteksi artefak terkubur. Instrumen resistivitas menangkap fitur terkubur berdasarkan perubahan mendadak dalam arus listrik seperti berjalan melalui kelembapan tanah.


5. ISOTOP GEOKIMIA


Sisa tulang mengungkap pemilik tengkorak pada abad pertengahan yang ternyata menderita penyakit kusta. Tulang dapat memberi tahu banyak kehidupan manusia masa lalu ketika arkeolog menerapkan analisis kimia yang tepat. Radio isotop dapat mengungkap diet masyarakat kuno.


6. TES DNA DAN PEMINDAI


Pengujian dengan pemindai dan tes DNA mengungkap hal tak terduga. Putri Mesir di Thebes pada 3.500 tahun lalu ternyata memiliki pembuluh darah yang tersumbat di jantung. Tim arkeolog lain mengekstrak DNA kerangka wanita di sebuah biara Florence di Italia. Tulang itu milik Lisa Gherardini Del Giocondo, seorang wanita yang, menurut sejarawan, menjadi model bagi Leonardo da Vinci untuk Mona Lisa.


7. PERANGKAT GPS


GPS atau Global Positioning System telah menjadi alat standar bagi arkeolog yang ingin menentukan artefak, bangunan, atau fitur di suatu situs penggalian. Alat ini menghasilkan informasi berupa keletakan suatu objek dalam besaran derajat Lintang dan Bujur. Hal ini memungkinkan arkeolog dari Australia, Selandia Baru, dan Turki memulai survei Perang Dunia I di medan perang Gallipoli di Turki.


8. RADIOKARBON DATING


Teknologi ini dipelopori Willard Libby yang memperoleh Hadiah Nobel pada 1960 dalam bidang kimia.


Metode ini memungkinkan arkeolog mengetahui usia artefak biologis.


Metode penanggalan mencari jejak Carbon 14, yang merupakan bentuk karbon yang tidak stabil, yang meluruh dengan setengah jumlahnya setiap 5.730 tahun.


9 ARKEOLOGI DIGITAL


Arkeolog David Hurst Thomas, dalam tesis doktornya pada 1971, menulis sebuah program yang mewakili simulasi komputer yang mampu memprediksi deposito artefak dari Shoshone Indian di Nevada. Banyak yang berubah sejak Thomas menulis simulasi komputer pada kartu yang disimpan informasi digital untuk komputer awal. Kini arkeolog membawa laptop atau tablet ke lapangan pada saat penggalian.


10. DETEKTOR LOGAM


Tidak ada yang mengalahkan detektor logam untuk mencari peluru dan sabuk bawah tanah dari sebuah medan perang tua. Teknologi ini pertama kali digunakan pada Perang Dunia II. Kini detektor logam lebih canggih dan dapat mengidentifikasi obyek yang terkubur sebelum sekop dimasukkan ke dalam tanah.

UNTUNG WIDYANTO | INNOVATIONNEWSDAILY.COM/Tempo

www.lintas-copas.blogspot.com