Jumat, 14 Desember 2012

Gunadharma Membangun Borobudur Belajar dari Gunung Padang Cianjur ?

Situs megalitikum Gunung Padang, Campaka, Cianjur, Jawa Barat, diperkirakan dibangun sebagai tempat ibadah manusia pada zamannya pada tahun sekitar 10. 000 SM atau 6. 700 tahun lalu. Gunadharma membangun candi Borobudur, kemungkinan belajar dari Gunung Padang.

Hal itu, terungkap ketika berlangsung ekspose, dan diskusi hasil penelitian Gunung Padang oleh Tim Bencana Katastropik Purba di Pendopo Kabupaten Cianjur, belum lama ini. Menghadirkan nara sumber, Andi Arief Ketua Tim Khusus Staf Khusus bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), Drs. Lutfy Yondri, M. Hum, Dr. Danny Hilman, Budi Bramanto dari Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan Institut Teknoligi (PPP -ITB) Bandung.

Menurut Andi Arief yang merupakan staf khusus Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) itu, menyatakan, berdasarkan hasil penelitian tim peneliti Gunung Padang, memperoleh angka lompatan yang sangat jauh di dunia,”Penelitinan berdasarkan metode sendiri, tidak ada kaitan dengan pendapat Santos. Tetapi, kalau sekadar untuk referensi, silakan,” ujarnya.

Drs. Lutfy Yondri, dari Tim SKP BSB, mengemukakan, karena usia Gunung Padang sangat tua, dan dibangun jauh sebelum dibangunnya candi Borobdur, kemungkinan Gunadharma, ketika membangun candi Borobudur belajar dari Gunung Padang. Hal senada diungkapkan oleh Budi Bramanto dari PPP – ITB, ketika menyampaikan paparannya tentang potensi wisata yang dimiliki Gunung Padang.

Berdasarkan hasil pengeboran, kata Danny Hilman, membuktikan Gunung Padang, bukan sekadar situs dari zaman megalitikum. Pada kedalaman 20-an meter, Tim SKP BSB, menemukan, apa yang selama ini diduga sebagai anomali geologis, berupa bangunan atau benda buatan manusia. Bangunan tersebut, diperkirakan berbentuk mengerucut ke atas.

Disebutkan, bangunan Gunung Padang, diperkirakan berusia 6. 700 tahun itu, adalah punden berundak yang lebih mirip Machu Pichu di Peru, Amerika Selatan. Dalam dunia arkeologi bentuk seperti ini pun kerap disebut piramida,”Jadi kata piramida mewakili bentuk bangunan yang mengerucut ke atas,” kata Lutfy Yondri.

Sedangkan Budi Bramanto dari PPP – ITB, secara panjang lebar memaparkan tentang potensi wisata Gunung Padang dengan menyodorkan wisata jalur kereta api dari Bandung ke Gunung Padang,”Sepanjang perjalanan wisata kereta api, banyak pesona alam dan bernilai sejarah megalitikum, terutama di jalur yang dilalui kereta api seperti Gua Pawon, Bandung Barat, yang dapat dijadikan wisata penuh cerita menarik,” paparnya.

Sejak dilakukan penelitian terhadap Gunung Padang awal Februari 2012, tingkat kunjungan ke Gunung Padang terus mengalami peningkatan, sehari rata-rata mencapai 400 hingga 600 orang,”Banyak masyarakat yang ingin mengetahui tentang misteri Gunung Padang,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, Drs. H. Himam Haris.

Gunung Padang sendiri, mulai terkuak dan dilakukan penelitian, sejak tahun 1979, namun penelitian itu, sempat terhenti. Namun sekarang mencuat kembali terkait dengan rencana Pemprov Jabar, PT. KAI (Kereta Api Indonesia), dan Pemkab Cianjur yang merencanakan membangun jalur wisata kereta api Bandung – Cianjur. Kemudian diikuti dengan penelitian tentang keberadaan situs megalitikum Gunung Padang.

Ekspose dan diskusi hasil penelitians khusus megalitikum Gunung Padang, dihadiri sejarawan Jawa Barat, Prof. Dr. Nani Lubis, Bupati Cianjur, Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, Kepala Dinas Parisisata dan Kenudayaan Kabupaten Cianjur, Drs. H. Himam Haris, unsur Muspida Kabupaten Cianjur, para kepala Dibaleka (Dinas Bagian Lembaga Kantor) yang ada di lingkungan Pemkab Cianjur, dan lainnya.

Luph

www.lintas-copas.blogspot.com