Sabtu, 01 Desember 2012

HOS Tjokroaminoto, Pencipta Standar Pergerakan

Dalam sebuah kesempatan di Gang Peneleh VII Surabaya, rumah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII, Sukarno bertanya “Berapa banyak yang diambil Belanda dari Indonesia?” Tjokro menjawab, “De Vereenigde Oost-Indische Campagnie menyedot atau mencuri kira-kira 1.800 gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag.” Lanjut Sukarno muda “Apa yang tinggal dinegeri kita?” “Rakyat tani kita yang mencucurkan keringat mati kelaparan dengan makanan segobang sehari,”sahut Alimin. Musso juga bersuara: “Kita menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa.”

Diskusi tersebut di atas dengan bangga dikisahkan Sukarno kepada Cindy Adams yang kemudian dimuat dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Tentang suasana makan malam yang sering berulang dengan hangat di rumah bapak kos. Tak hanya makan malam, juga sharing pengetahuan antara mereka yang beragam.

Keragaman sebagai sebuah fitrah yang memiliki dua sisi, baik dan buruk, menjadi dominan baik ketika ia diperlakukan baik. Seperti itulah di rumah HOS Tjokroaminoto, selain untuknya sekeluarga (Soeharsikin, istrinya dan empat anak - Oetari, Oetarjo Anwar, Harsono, dan Sujud Ahmad), juga mungkin menjadi rumah kedua bagi Sukarno, Alimin, Musso, Soeharman Kartowisastro, Semaoen, dan lainnya. Tak sekedar rumah sebagai tempat tinggal, rumah Tjokroaminoto juga sebagai “Rumah Ideologi dan Dialog” kata Anhar Gonggong (sejarawan UI).

Rumah Tjokroaminoto merupakan rumah ideologi-dialogis, tempat bertemunya tokoh-tokoh yang mempunyai ideologi yang berbeda. Di rumah itu, berkunjung Semaoen, Alimin, dan Tan Malaka yang berideologi Marxis-Komunis, Sukarno yang kemudian hari menjadi pemimpin utama partai yang berideologi nasionalis, dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo sebagai pendiri Darul Islam/Negara Islam Indonesia lanjut Anhar Gonggong.

HOS Tjokroaminoto, Pencipta Standar Pergerakan

Tjokroaminoto, lahir pada tanggal 16 Agustus 1882 di Jawa Timur. Lingkungan keluarga priyai Madiun tak membuatnya “nyaman”. Merasa tak “nyaman” dengan kemapanan keluarga bangsawan, kemudian ia meretas jalan kesetaraan. Segala atribut feodalisme seperti gelar raden dan laku dodok (berjalan jongkok di depan bangsawan) ia tanggalkan demi sebuah “kemerdekaan diri” dan kesetaraan bangsanya di mata bangsa lain.

Pidatonya di Bandung pada tahun 1916, dengan lantang Tjokro mengatakan “Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan oleh susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai sebuah tempat di mana orang datang dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya, terutama penduduk pribumi tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik yang menyangkut nasibnya sendiri….”

Semangat pemberontakan dan pembebasan nampak jelas pada pidato tersebut di atas. Meski di sisi yang lain Tjokroaminoto sangat fleksibel dengan tetap bergerak di bawah perlindungan pemerintah Belanda. Namun sikap tersebut di ambil sebagai bagian dari strategi agar Sarekat Islam (organisasi yang dipimpinnya setelah Samanhoedi) mampu bertahan dan menjadi besar.

Sarekat Islam-pun akhirnya mampu memberi semangat kebangsaan bagi masyarakat luas. Berbeda dengan Boedi Oetomo yang elitis, Sarekat Islam mampu membuat rakyat jelata merasakan pengalaman pertama ketika hierarki Jawa-Belanda dihilangkan. Para pemimpin Sarekat Islam duduk sama rata dengan pejabat Belanda, kemudian kesempatan itu dipakai untuk menjelaskan bahwa kaum pribumi bukan lagi “seperempat manusia” (julukan kaum pribumi oleh Belanda), tapi sama-sama manusia utuh yang juga memiliki hak yang sama.

Sarekat Islam menjadi besar justru bukan dari pendirinya Samandoedi, tapi dari Tjokroaminoto. Kata Anhar Gonggong, Tjokro malah sempat di anggap Ratu Adil oleh sejumlah kalangan. Dia diterima seakan-akan sebagai penyelamat dalam keadaan kritis.

Program-program Sarekat Islam memang sangat berpihak pada rakyat. Di bawah panji SI, Tjokro mendesain penghapusan kerja paksa dan sistem izin bepergian yang cenderung membatasi gerak-gerik orang. Ia juga mendorong penghapusan peraturan yang mendiskriminasi penerimaan murid di sekolah dan mendorong agar wajib belajar untuk semua penduduk sampai usia belasan tahun. Bahkan Tjokroaminoto menggagas adanya program beasiswa keluar negeri dan mendesak penghapusan peraturan yang menghambat penyebaran Islam.

Keyakinan tentang Islam yang memiliki banyak kandungan nilai sosialisme yang mengkonstruk lahirnya ide-ide memperjuangkan kepentingan rakyat. Menurut Bonnie Triyana (Sejarawan), Tjokroaminoto lewat bukunya Islam dan Sosialisme ingin mengatakan sosialisme bukan milik kaum komunis saja. Sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, bukan sosialisme yang lain melainkan sosialisme yang berdasar kepada asas-asas Islam belaka.

Takashi Shiraishi, Penulis Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat Jawa 1912-1926, dalam sebuah wawancara di Majalah Tempo edisi khusus Tjokroaminoto : Guru Para Pendiri Bangsa mengatakan “Tjokroaminoto adalah generasi pertama pemimpin pergerakan. Figurnya penting karena dialah yang menciptakan standar bagaimana seharusnya seorang pemimpin pergerakan. Tjokro tidak sekedar piawai mengupas gagasan lewat tulisan, tapi juga mampu sebagai “singa podium”. Tentang “singa podium”, darinya Sukarno belajar menghipnotis pendengarnya.

Dengan Sarekat Islam lanjut Takashi Shiraishi, Tjokroaminoto menciptakan standar pergerakan dengan mengekspresikan rasa kesadaran berbangsa dengan mempraktekkan politik gaya baru waktu itu. Penerbitan surat kabar, unjuk rasa, pemogokan, serikat politik, dan partai politik adalah segelintir aktivitas yang dilakoninya. Hasil akhir dari ekspresi politik kontemporer di zaman itu, kemudian berakhir sebagai sebuah negara bernama Indonesia.

Muhammad Arief R H

www.lintas-copas.blogspot.com