Sabtu, 08 Desember 2012

Ilmuwan Akui Sulit Buktikan "Partikel Tuhan"

Dua akselerator partikel masih meneliti Higgs Boson. Keduanya hanya mengatakan: hampir.

Simulasi partikel Higgs boson (livescience.com)

Para ilmuwan nyaris menemukan bukti keberadaan partikel Higgs boson, sebuah partikel yang paling kecil. Bertahun-tahun diteliti, partikel itu memang susah ditemukan, bahkan nyaris pun tidak. Itu sebabnya partikel ini juga kerap disebut sebagai "partikel Tuhan."

Si "partikel Tuhan" itu adalah partikel hipotesis yang mengisi massa menjadi materi. Partikel itu dianggap sangat penting, sebab dianggap bisa melengkapi bahkan menyempurnakan teori alam semesta yang diperkenalkan Albert Einstein.

Dengan menganalisa data dari sekitar 500 triliun sub atom, partikel bertabrakan yang didesain untuk meniru kondisi sebenarnya setelah terjadi peristiwa Big Bang (saat alam semesta terbentuk), ilmuwan Fermilab di Chicago memproduksi sekitar 1.000 partikel Higgs selama lebih dari satu dekade.

"Sayangnya, petunjuk dari 1000 partikel ini belum cukup signifikan untuk menyimpulkan tentang keberadaan Higgs boson," kata Rob Roser, fisikawan Fermilab, saat menjelaskan penemuan partikel tersebut dalam konferensi di La Thuille, Italia.

Roser mengatakan bahwa gambaran ilmuwan mengenai partikel Higgs yang berumur pendek, yang segera hancur menjadi partikel lain, masih belum jelas.

Kemungkinan bahwa apa yang dideteksi para ahli fisika itu adalah sebuah Higgs boson masih sangat kecil. Perbandingannya sekitar 1:250. Perbandingan tersebut dekat dengan 1 :740, sebuah perbandingan fisika yang telah membuktikan keberadaan partikel sub atom.

Pencarian Higgs boson dinilai penting sepanjang sejarah manusia dan masa depan alam semesta. Sebab partikel itu kemungkinan menunjukkan keberadaan sebuah medan tak tampak, yang menyerap seluruh alam semesta. Medan tak tampak itu kemudian disebut sebagai Medan Higgs.

Medan Higgs diusulkan sebagai fakta oleh ilmuwan Inggris, Peter Higgs pada 1960, sebagai cara untuk mengukur perolehan massa setelah alam semesta diciptakan selama Big Bang berlangsung.

Berdasarkan teori tersebut, Higgs boson merupakan perantara yang kemungkinan membuat bintang, planet, dan kehidupan menjadi mungkin, dengan memberi massa untuk sejumlah partikel dasar. Ini juga dasar yang menyebut Higgs boson disebut "Partikel Tuhan".

Penemuan Higgs juga kemungkinan melengkapi Model Standar Fisika ala Einstein. Jika hal ini tidak ada, para ilmuwan harus mencari di tempat lain bagaimana partikel memperoleh massa dan mengapa partikel tidak sekedar lepas tanpa tujuan melalui alam semesta.

Berat partikel Higgs yang ditemukan di Fermilab serupa dengan yang dideteksi di akselerator partikel bertenaga, The Large Hadron Collider, di pusat riset CERN yang terdapat di Swiss.

CERN yang merupakan Organisasi Riset Nuklir Eropa hampir berhasil membuktikan Higgs boson. CERN pun berharap "Partikel Tuhan" ini bisa dibuktikan sebelum akselerator ini ditutup di akhir tahun 2012 untuk perbaikan.

Sebelum lab milik Fermilab, Tevatron, ditutup pada September 2011, para ilmuwan mendorong sejumlah collider (elemen penubruk) untuk menghasilkan tabrakan sub-atom sebanyak mungkin.

Kedua lingkaran akselerator tersebut beroperasi secara berbeda. Akselerator Fermilab yang berukuran 6,3 km ini menembakkan proton pada antiproton. Sedangkan akselerator CERN sepanjang 27 km menciptakan tabrakan di antara dua tembakan proton.

Fisikawan Gregario Bernardi dalam keterangan Fermilab kemudian membuat analogi penelitian partikel dari dua akselerator ini dengan dua orang yang mengambil gambar seorang anak kecil di sebuah taman dari tempat yang berbeda.

"Satu gambar mungkin menunjukkan seorang anak kecil yang terhalang pohon. Kedua gambar mungkin menunjukkan anak kecil, namun hanya satu yang secara jelas mengambil fitur anak tersebut. Anda butuh kombinasi kedua sudut pandang untuk mendapatkan gambar yang jelas mengenai siapa yang difoto di taman itu," katanya.

Ahli fisika dari seluruh dunia bekerja di kedua laboratorium. Dan sekitar ratusan orang masih menganalisa data di Fermilab untuk menganalisa data dari percobaan-percobaan yang dilakukan.

"Kami telah menggunakan banyak data dari Fermilab. Kami akan mengerjakan lebih banyak percobaan untuk mendapatkan jawaban akhir pada Juni, " kata Roser. |
Reuters

www.lintas-copas.blogspot.com