Kamis, 13 Desember 2012

Islam Indonesia dan Dasar-dasar Politik Belanda Terhadap Islam

Politik Islam Pemerintahan Hindia Belanda yang dimaksudkan di sini adalah kebijaksanaan pemerintahan Hindia Belanda dalam mengelola masalah-masalah Islam di Indonesia pada masa kolonial. Kedatangan Islam di Nusantara membuat pengaruh besar terhadap kehidupan sosial. Politik dan Ekonomi. Peduduk lokal yang awalnya menganut agama Hindu Budha berbondong-bondong menganut agama islam karena diajaran Islam tidak ada kasta-kasta yang memilah-milah kesempatan umatnya, karena semua dihadapan Allah itu sama kecuali ketakwaannya. Tidak hanya kaum pedagang dan golongan rendah saja yang menganut islam, namun kaum menengah atas bahkan para Aristokrat dan petinggi kerajaan ikut memeluk islam, dengan tujuan untuk membendung pengaruh barat yang juga membawa ajaran agama kristen serta menjegah bangsa-bangsa barat untuk memonopoli perdagangan di Nusantara yang sebelumnya banyak pedagang dari Arab.Sejak didirikannya VOC bangsa Belanda selalu ingin ikut campur dalam urusan Kerajaan. Mereka ingin memonopoli perdagangan di Indonesia dengan memanfaatkan situasi intern suatu kerajaan.

Islam bukan saja sebuah agama namun beda tipis dengan sebuah politik. Menganut Islam berarti memerangi penguasa-penguasi kristen dan bangsa asing. Namun terkadang kekuasaan membuat seseorang lupa diri, meskipun banyak kaum ningrat memeluk islam, tpi mereka tetep bekerja sama dengan belanda untuk menindas para petani. Para kaum ini sangat berhati-hati dalm menyembintukan identitas keagamaanya. mereka juga disebut sebagai islam sekuler.

Pada sekitar abad 19, orang-orang belanda mengirimkan misionarisnya untuk berdakwah di Indonesia. Misionaris-misionaris ini dibatu dana dari negara belanda. Meskipun dapat dukungan penuh dari pemerintahan namun agama ini hanya berkembang sejara pelan-pelan dan wilayahnya hanya di Daerah-daerah yang belum terjamah oleh agama islam. Bagi Belanda Islam adalah ancaman, karena itu Belanda melarang Haji pada umat islam. Namun mengakibatkan banyak sekali pemberontakan-pemberontakan dikalangan umat islam.

Kemudia Belanda mengirim Sosok Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) ahli bahasa Arsb dan Islam. Bagi Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yang berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding. Namun, penelitian terbaru menunjukkan peran Snouck sebagai orientalis ternyata hanya kedok untuk menyusup dalam kekuatan rakyat Aceh. Dia dinilai memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik.
Haris Haryadi

www.lintas-copas.blogspot.com