Kamis, 06 Desember 2012

Jika Akurat Gunung Padang Ubah Peta Peradaban

Tim Bencana Katastropik Purba menyebut Gunung Padang dari 10.000 SM, dari carbon dating.

Situs megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat (Antara/ Agus Bebeng)

Tim Bencana Katastropik Purba yang melakukan pengeboran di situs megalitikum Gunung Padang, mengungkap hasil penanggalan keberadaan situs berundak Gunung Padang. Berdasarkan carbon dating yang dilakukan, tim menyebut punden berundak ini sudah ada sejak 10.000 Sebelum Masehi.

Hasil ini terbilang mengejutkan. Sebab, dengan penanggalan ini punden berundak di Gunung Padang berpotensi menjadi bangunan tertua di dunia. Sebagai perbandingan, piramid-piramid tua di Mesir diduga berasal dari 2.500 hingga 3.000 SM. Atau bandingkan dengan Stonehenge yang diperkirakan berasal dari 3.500 hingga 5.000 SM.

Arkeolog Ali Akbar kemudian mengatakan, jika hasil carbon dating ini akurat, maka Gunung Padang akan menjadi peninggalan penting dunia.

"Jika itu memang akurat, kita harus siap-siap mengatakan konstelasi peradaban dunia berubah. Bahwa Indonesia memiliki peradaban tua dibandingkan dengan yang lain. Namun dengan catatan, jika itu memang akurat," kata Ali Akbar, saat dihubungi VIVAnews, 6 Maret 2012.

Menurut Ali Akbar, hasil carbon dating dan pengeboran memang perlu dilihat lagi. Arkeolog harus mengetahui berapa kedalaman pengeboran. Selain itu, harus dilihat pula konteks sampel carbon dating dengan konteks budayanya, dalam hal ini dengan batu-batu yang digunakan sebagai bahan bangunan.

"Apakah tanahnya merupakan lapisan budaya atau tidak. Yang menjadi pertanyaan kan kita mencari usia bangunan. Untuk mengetahui itu, di bawah bangunan tersebut ada tanah lagi tidak," ucap Abe, sapaan Ali Akbar.

"Untuk itu Tim Katastropik Purba harus memastikan di kedalaman pengeboran tersebut harus ada struktur bangunannya. Jika tidak, itu bisa dikatakan tanah alami yang sudah ada sebelumnya," lanjut Abe.

Kemudian, Ali pun mempertanyakan laboratorium yang melakukan carbon dating tersebut. "Setahu saya, laborarorium uji karbon di Indonesia belum diakui secara internasional karena belum akurat. Makanya selama ini, dalam penelitian arkeologi, karbon dibawa ke luar negeri untuk pengujian," ucapnya.

VIVAnews

www.lintas-copas.blogspot.com