Jumat, 14 Desember 2012

Kenangan terhadap Pemerintahan Islam DI/TII di Tondongkura

13317500551571441095

Penulis bersama Haji Puang Tompo. (foto : ist).

Masyarakat Desa Tondongkura yang umumnya menganut Islam adalah masyarakat yang agamis (taat agama) dan dari gambaran kegiatan keislaman yang tercipta, nampak potret masyarakatnya merindukan suasana kondisi sosial dan pemerintahan yang islami. Ternyata setelah saya telusuri, hal tersebut disebabkan karena mereka memiliki kenangan yang sangat kuat terhadap Pemerintahan Islam ala Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (DI / TII) pimpinan Kahar Muzakkar. “Mungkin inilah yang menyebabkan Azis Kahar Muzakkar menang mutlak waktu pemilihan anggota DPD disini tanpa sosialisasi dan kampanye”, ujar Abdul Munir,S.Pd.I, Kades Tondongkura saat ini.


“Asal mendengar kata Kahar Muzakkar saja, mereka mau mati”, demikian ungkap Haji Puang Tompo, Tokoh masyarakat Tondongkura kepada penulis di rumahnya di Tondongkura, Rabu (14/3). “Hal ini terbukti waktu pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Tahun 2009 lalu, sewaktu mereka mendengar ada calon anggota DPD bernama Azis Kahar Muzakkar dan itu adalah anaknya Kahar Muzakkar, maka Azis Kahar Muzakkar menang mutlak disini padahal tidak pernah ada sosialisasi dan kampanye”, tambahnya. Kenangan yang sama pernah pula diungkapkan pula Maega, salah seorang warga Kampung Bonto Manai kepada Penulis, Kamis pekan lalu (8/3).




“Apa yang sebenarnya menyebabkan masyarakat begitu fanatik terhadap Kahar Muzakkar, bukankah pasukannya seringkali dicap sebagai “gerombolan ?”, tanya saya. “Bagaimana mereka tidak mau mati demi Kahar, sewaktu DI / TII berkuasa disini, semuanya aman. Tidak ada pencuri, semua tanaman jadi, semua ternak berkembang biak dengan baik. Mungkin inilah yang dirasakan masyarakat sebagai berkah tanah dari pemerintahan Islam. Itu cap “gerombolan” adalah sebutan Pemerintah dan TNI terhadap pasukan Kahar, tapi cap tersebut tidak mempengaruhi masyarakat disini yang pernah merasakan langsung masa kekuasaan DI / TII”, ungkap H. Puang Tompo yang juga mantan Kades Tondongkura (1966 – 1974).



Kahar Muzakkar sendiri, menurut H. Puang Tompo (70 tahun), tidak pernah tinggal di Tondongkura, hanya pernah tinggal (bermarkas) di Bilango, Lanne (tetangga Tondongkura), namun anggota pasukannya banyak tersebar di Tondongkura dan sistem pemerintahan yang mewarnainya juga sudah sistem pemerintahan Islam ala DI / TII. Komandan Batalyonnya berkedudukan di Paku-paku, suatu daerah perbatasan antara Tondongkura (Pangkep) dengan Tondong Bua (Bone).


Pada masa kekuasaan DI / TII di Tondongkura dari Tahun 1953 sampai Tahun 1962, pemerintah dan masyarakat dilarang menggunakan nama dan gelar kebangsawanan (karaeng). Kepala Pemerintahan diberi nama Imam Sub, seperti Imam Sub Punnai Dg Makkelo (Kepala Kampung Tondongkura 1953 – 1954), Imam Sub Abdul Rahman Dg Sisila (Kepala Kampung Tondongkura 1955 – 1959) dan Imam Sub Sau Dg Masiga (Kepala Kampung Tondongkura 1960 – 1962). Sebutan Kepala Kampung saat itu setingkat Kepala Desa di masa sekarang.

M.Farid W K

www.lintas-copas.blogspot.com