Senin, 24 Desember 2012

Kerkhoff Belanda di Indonesia, Jalan Indonesia di Belanda

13301087991100835641www.jkma-aceh.org
Pemerintah Belanda memberi penghormatan kepada orang Indonesia yang membantu Belanda saat melawan Jerman dalam perang dunia ke dua (PD 2) -sekitar Mei 1940- 2945 dengan pemberian sebuah jalan di kota Amsterdam yang ditulis dengan nama “Irawan Sujono Straat” (jalan Irawan Sujono).



Irawan yang memiliki nama lengkap Irawan Soejono adalah anak dari salah satu anggota kabinet Belanda -satu-satunya berdarah Indonesia) pada masa itu (Ario Sujono). Ia ditembak mati oleh pasukan Nazi Jerman pada Januari 1945.


Jumlah “petempur” Indonesia untuk Belanda saat itu diperkirakan sebanyak 40 - 50 orang. Mereka berprofesi sebagai pelaut, pembantu, pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berada di Belanda saat itu. Sekitar 5 orang ikut tewas tertembak Jerman, sisanya tewas dalam tahanan Nazi Jerman.

Jika pemerintah Belanda memberi penghargaan seperti itu terhadap orang Indonesia, bagaimana cara pemerintah Indonesia memberi penghargaan terhadap petempur Belanda yang membela Indonesia dalam berbagai arena pertempuran baik melawan Jepang, NICA dan Belanda sendiri?


Jawabannya tentu tidak ada, sebab yang ada hanyalah penghargaan pemerintah Indonesia terhadap serdadu (tentara militer) Belanda yang tewas di Indonesia dengan memberi sebuah tempat khusus untuk bersemayamnya para tentara Belanda yang tewas tersebut.

Di Indonesia banyak terdapat komplek pemakaman tentara negara asing yang berperang melawan Indonsia, misalnya di Ambon kita kenal komplek tentara Australia (sekutu) pada lahan seluas 4 Ha, yang berlokasi di Tantui Kapaha sekitar 3 kilometer dari kota Ambon, tempat bersemayamnya 2300 tentara sekutu dari enam negara yang tewas dalam PD-1 dan PD-2.

Di Menteng Pulo, Jakarta juga terdapat Ereveld (Taman Kehormatan) Menteng Pulo. Di tempat itulah 4.270 tentara KNIL dimakamkan. Menurut catatan, di pulau Jawa saja (dari Jakarta sampai Surabaya) terdapat 7 lokasi pemakaman tentara Belanda. Selain di Menteng Pulo, masih ada tempat lainnya seperti di Ancol; Pandu (Bandung); Leuwigajah (Bandung); Cimahi (Bandung); Candi (Semarang); Kalibanteng (Semarang) dan di Kembang Kuning (Surabaya). Dari seluruh lokasi tersebut diperkirakan terdapat 24 ribu serdadu Belanda bersemayam di dalamnya.

13301071201592249400

Pemakaman Belanda di Sintang. http://www.kalimantan-news.com


Selain itu, ada juga beberapa lokasi lainnya di seluruh tanah air seperti yang terdapat di Makassar, Papua, Balikpapan dan di Sintang (Kalbar), hanya saja lokasi di beberapa tempat pemakaman tentara Belanda tidak terawat dengan baik.

Lokasi pemakaman di Sintang sangat tidak terawat dengan baik, padahal petinggi militer Belanda yang tewas di Sintang adalah komandan Tentara Belanda di Sintang, yaitu Kapten (kapitein) GJ.Timmer. Selain itu juga ada JW.Stoll yang merupakan Asisten Residen Sintang yang tewas pada 17 Februari 1874 dimakamkan pada lokasi pemakaman yang berada di Tanjung Puri tak jauh dari kota Sintang.

Pemakaman Belanda di Aceh.

Salah satu lokasi kuburan atau pemakaman tentara asing terutama Belanda yang paling menarik dan terawat dengan baik adalah yang berada di kota Banda Aceh. Lokasi pemakaman untuk tentara Belanda dikenal dengan sebutan “Poetjoet Kerkhoff”. Kerkhoff itu sendiri berasal dari bahasa Belanda. Kerkhoff banyak pengertiannya, ada yang mengartikan kuburan, ada juga yang mengartikan tempat berisitirahat dan ada yang mengartikan halaman Gereja.

Di komplek ini awalnya terdapat 2200 tentara Belanda yang tewas sejak zaman VOC sampai perang Kemerdekaan. Akan tetapi karena tergerus oleh perkembangan zaman, cuaca dan alam (termasuk bencana alam Tsunami (pada ahir 2005 lalu) jumlah makam tentara Belanda yang bersemayam di sini hanya tersisa 1984 makam saja.


Beberapa petinggi Belanda yang dimakamkan di sini antara lain adalah, Mayor Jenderal J.H.R Kohler yang tewas pada 14 April 1873. Kemudian ada juga Letnan kolonel JJ Roeps dari kesatuan elit, Order of Dutch Lion (Kesatuan Singa Belanda) serta ribuan lainnya dari kalangan “anak negeri” atau Marsose.

lokasi pemakaman ini telah menjadi tujuan wisata menarik bagi pelancong domestik dan luar negeri, terutama dari Belanda yang ingin mengenang kembali korban dan arwah leluhur mereka. Tak heran komplek pemakaman ini mendapat perhatian pemerintah Belanda berupa bantuan perawatan yang lumayan untuk merawatnya sehingga menjadi situs budaya yang masih kekal abadi hingga sampai saat ini meskipun telah berusia lebih dari 350 tahun lamanya.

Lihat saja tulisan besar yang terpampang di pintu gerbang komplek tersebut ” Aan Onze Kameraden Gevallen Op het Veld Eer” (Untuk sahabat kita yang gugur di medan perang). Meskipun ada sedikit keanehan pada makam Kohler yang terdapat gambar seekor ular yang menggigit ekornya sendiri namun komplek itu melambangkan banyak hal positif, antara lain adalah sebuah refleksi penghargaan kepada mantan musuh dalam peperangan dan seabagai representasi perlawanan anti penjajahan di tanah air.

Bandingkan dengan lokasi pemakaman yang berada di Sintang (Kalbar) sesuai dengan gambar di atas, apakah pemerintah Indonesia tidak memberi perhatian ataukah pemerintah Belanda sendiri yang menganak tirikan ke dua “pahlawan” tentara mereka?


Jika anda punya waktu yang luang saat berkunjung ke Banda Aceh, silahkan kunjungi lokasi pemakaman yang jauh dari kesan angker dan menyeramkan. Lokasinya malah terletak di tengah kota Banda Aceh dan nikmati sentuhan ketenangan ketika kita berada di dalam areal yang rapi, indah dan asri tersebut. Paling tidak kita akan mengenal sejarah kolonial Belanda saat melakukan pendaratan pertama di Aceh pada masa silam….

abang geutanyoe

www.lintas-copas.blogspot.com