Rabu, 26 Desember 2012

Kisah Masjid Huaisheng, MEsjid Tertua di Cina

Mendapat kabar ada sebuah kampung Muslim tertua di Cina, saya bergegas pergi ke Guangta Lu, Guangzhou. Mumpug masih di Guangzhou. Bekal saya cuma tulisan “Huaisheng” dalam aksara Cina yang saya mintakan dari petugas hotel. Pagi itu, pas hari Jumat, saya tentu ingin menikmati suasana religi di masjid ini. Saya bergegas pagi hari dengan naik taksi ke Guangta Lu. Kawasan ini dihuni oleh orang-orang Cina Muslim. Saling sapa dengan “assalamualaikum” menjadi tata krama saya dengan banyak muslim dari berbagai etnik yang datang ke sini.

Guangta Lu tak sulit dijangkau, pagi menjelang sholat Jumat sudah banyak orang terutama turis atau ekspatriat dari Timur Tengah dan beberapa warga Cina Muslim lainnya berkumpul di sini. Rupanya ada pasar “halal” di hari jumat. Kita bisa membeli daging sapi, domba, kambing atau ayam yang diproses secara Islam di sini. Juga ada banyak makanan sate ala Timur Tengah yang juga dijual di kaki lima. Aromanya sedap sekali.

Mengabadikan kehidupan Muslim Cina keturunan Arab di sini ke dalam kamera saya tentu jadi tujuan saya. Muka mereka unik, putih seperti Cina kebanyakan, hidung mancung dan mata agak besar dan memanjang. Dan berikutnya tentu saja masjid Huaisheng yang sudah berumur 1300 tahun. Sebuah catatan mengatakan masjid ini juga termasuk salah satu masjid tertua di dunia.

Alkisah ketika Nabi Muhammad memerintahkan sahabatnya untuk menyebarkan Islam ke muka bumi. “Sebarkan Islam di muka bumi ini, ikuti arah mata angin” kurang lebih begitu dikisahkan. Tersebutlah nama Sa’ad bin Abi Waqas yang mendengar perintah itu. Sa’ad membalikkan badan dan menuju ke Barat. Ketika melakukan perjalanan suci ini Sa’ad masih berusia 17 tahun, ia membawa sebuah misi penyebaran agama Islam ke Persia bersama 17 orang pengikutnya dan sampai ke daratan Cina. Singkat cerita langkahnya terhenti di Guangzhou.

Untuk masuk ke Cina, tentu Sa’ad membawa misi dagang dan misi diplomatik sekaligus. Dan hubungan dagang ke Cina yang pada abad ke 7 masehi ini membuat Sa’ad dan Islam diterima oleh masyarakat Cina. Bahkan Dinasti Tang mempersilakan mendirikan masjid di Huaisheng. Sebuah menara dengan ketinggian 36 meter dibangun di kawasan masjid ini. Menara ini juga memiliki dua fungsi, selain untuk adzan juga untuk mercusuar lalu lintas kapal yang melintas di sungai mutiara.

Bangunan utama sudah 2 kali dibongkar karena kebakaran dan bencana alam yakni tahun 1350-an dan 1650. Pada saat saya berkunjung ke sini belum lama ini masjid juga dalam renovasi, tapi renovasi kali ini dilakukan oleh Unesco sebagai bangunan dunia yang dilindungi.

Shalat Jumat

Saya mengikuti ritual shalat jumat di masjid ini. Yang menarik ada 2 khutbah. Khutbah pertama disampaikan dalam bahasa Cina. Dan khatib berada di tengah-tengah jamaah. Khutbah ini dilakukan sebelum adzan. Setelah Adzan, khatib yang berbeda, naik ke atas mimbar dengan bahasa Arab. Sangat singkat. Lalu diteruskan dengan shalat 2 rekaat, seperti biasa.

Bubaran shalat jumat adalah saat yang menyenangkan ketika banyak makanan dan kuliner cina muslim banyak tersaji di luar masjid. Suasana ramai karena beberapa produk olahan berbahan daging juga dijual ke sini. Rupanya, jumat memang hari di mana umat Islam Guangzhoe ke kawasan Guangta Lu ini untuk berbelanja kebutuhan mereka.

Ingatan saya kembali ke Sa’ad bin Abi Waqas, seorang pejuang, petualang dan diplomat ulung yang diutus oleh Khalifah Ustman untuk menyebar agama Islam di daratan Cina. Begitu besar pengorbanan dan visinya hingga Islam masih eksis di Cina. Salam kemualiaan untuk Sa’ad bin Abi Waqas. Assalamualaikum Huangsheng.

Apni jaya Putra

www.lintas-copas.blogspot.com