Sabtu, 01 Desember 2012

Klimaks Bantahan Piramida Jawa Barat


google.com

Gunung Sadahurip yang diduga terdapat bangunan Piramida di Desa Sukahurip, Pangatikan, Garut, Jabar.


Bantahan tentang keberadaan piramida di dalam Gunung Padang dan Gunung Sadahurip Jawa Barat "mencapai titik klimaks" di Gedung Pusat Arkeologi Nasional Jakarta.

Pada Kamis (29/3/2012) sejumlah arkeolog, geolog, vulkanolog, astronom, bahkan speleolog (ahli gua) serta berbagai pakar disiplin ilmu lain bertemu Pusat Arkeologi Nasional untuk berdiskusi sekaligus mempertanyakan metode dan hasil penelitian Tim Peneliti Bencana Katastropik Purba yang dilansir pada akhir 2011.

Tim Katastropik yang beranggotakan Danny Hilman dan Andang Bachtiar itu menduga, terdapat bangunan menyerupai piramida di dalam Gunung Padang dan Gunung Sadahurip. Dugaan tersebut berdasarkan hasil penelitian mereka dengan mengebor dan melakukan pemetaan geolistrik ke dalam gunung.

Pada awal Maret 2012, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arif, yang membawahi Tim Katastropik kemudian menggalang dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk melanjutkan penelitian dengan tujuan menelusuri peristiwa alam yang mampu melenyapkan peradaban manusia.

Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Daud Aris Tanudirjo, mengatakan, terlalu awal untuk menyatakan keberadaan piramida di dalam Gunung Padang.

"Tapi, kalau bangunan kuno yaitu punden berundak di atas gunung itu memang benar," kata Daud.

Daud meragukan pemakaian bor dalam proses penelitian Tim Katastropik karena hasil penelitian arkeologis dengan metode penggalian pun terkadang masih meleset. "Sampel karbon dari tanah yang diambil dengan dibor, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diteliti. Tapi, apakah karbon itu terkait betul dengan bangunannya atau tidak? Itu belum diketahui," kata Daud.

Bantahan Daud diperkuat oleh pakar geologi gunung api Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Sutikno Bronto, yang menjelaskan bahwa Gunung Padang merupakan salah satu leher lava gunung api purba dengan struktur kekar kolom.

"Struktur kekar kolom itu sudah roboh dan berserakan, kemudian ditata oleh manusia masa lalu sebagai punden berundak untuk lokasi pemujaan," kata Sutikno.

Sutikno menambahkan, bentuk batuan beku berstruktur kolom dan pelat dari terobosan semi-gunung api pada Gunung Padang dapat menyerupai piramida terpendam.

"Sebaiknya informasi tentang adanya bangunan piramida cukup sebagai cerita fiksi penambah daya tarik wisata alam," kata Sutikno.

Terkait bangunan punden berundak yang disebutkan Daud dan Sutikno, Peneliti Senior Pusat Arkeologi Nasional, Truman Simanjutak, mengatakan, situs itu sudah lama dikenal sebagai bangunan megalitik yang diperkirakan ada sekitar 500 tahun Sebelum Masehi atau Masa Perundagian.

"Balok-balok batu prismatik itu memang disusun manusia. Jadi, (balok batu) itu diambil dari bawah dan dibawa ke atas untuk dibangun tempat-tempat persembahan," kata Truman.

Truman mengatakan, proses pembentukan batu kekar kolom di Gunung Padang memang alamiah, sedangkan bukti campur tangan manusia pada Situs Gunung Putri dapat diketahui dari adanya pengunci pada batu agar struktur bangunan tetap kokoh.

"Ya mungkin sudah ada kota di sekitar (situs) itu karena ada ribuan balok batu. Untuk membawa balok ke atas (gunung) dan membangunnya, tentunya dibutuhkan banyak orang. Artinya, sudah ada masyarakat dengan populasi padat di sekitar itu," kata Truman.

Sementara Danny Hilman, yang juga hadir dalam diskusi di Pusat Arkeologi Nasional itu, enggan memberi tanggapan tentang batahan terhadap temuan penelitian Tim Katastropik.

"Iya itu... kan moderator bilang seperti itu," jawab Denny ketika ditanya apakah akan ada penelitian lanjutan di Gunung Padang.

Meskipun penelitian Tim Katastropik mendapat banyak bantahan, anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Yunus Satrio Atmojo, mengatakan, pernyataan piramida di Gunung Padang oleh Andi Arif di sejumlah media massa nasional merupakan pernyataan hipotesis yang memerlukan penelitian lanjutan.

"Kami juga ingin sampaikan kepada publik agar tidak terburu-buru mengaitkan Indonesia dengan Mesir. Semua yang diinformasikan kepada publik harus bisa diverifikasi," kata Yunus.

Penelitian arkeologi, menurut Yunus, memang memerlukan dukungan disiplin ilmu lain seperti geologi.

"Para geolog membicarakan temuan ribuan tahun lalu, sedangkan arkeolog bicaranya ratusan tahun. Arkeolog melihat benda-benda temuan yang (pernah) dipakai ( manusia), kalau tidak ada sisanya baru disepakati kemungkinan struktur geologi," kata Yunus.

Di sisi lain, perdebatan para ilmuwan tentang keberadaan piramida di bawah Situs Gunung Padang yang muncul di media massa justru berkontribusi positif terhadap pariwisata Cianjur.

"Sebelum muncul pemberitaan tentang Situs Gunung Padang, jumlah pengunjung yang tercatat sekitar dua hingga tiga ribu orang dalam sebulan," kata Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Cianjur, Imam Haris.

Imam mengatakan, peningkatan pengunjung terjadi pada Februari hingga Maret 2012 dengan rata-rata kunjungan hingga 3.000 orang setiap minggunya.

ANT / Kcm

www.lintas-copas.blogspot.com