Kamis, 06 Desember 2012

Makna Sejarah

1. Menjernihkan Pengertian-Pengertian

Sebelum menjabarkan tentang materi makna sejarah, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu kata Makna dan Sejarah.

Sejarah dapat berarti proses historis, yakni rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa silam dan membentuk suatu sejarah serta menjadi bahan ajaran di masa kini. Sejarah dapat pula berarti penulisan sejarah itu sendiri, yakni penulisan kembali peristiwa-peristiwa masa silam agar dapat dikaji oleh orang-orang yang hidup di masa kini.

Makna, memiliki dua arti. Pertama, dapat dikatakan bahwa makna adalah suatu usaha atau perbuatan yang dilakukan untuk tujuan tertentu sehingga perbuatan itu menjadi bermakna. Kedua, kata makna dapat disamakan dengan arti, yakni apa yang terkandung dalam kalimat atau ucapan seseorang.

Disini, istilah makna sejarah di beri empat macam tafsiran:

- Makna sejarah sebagai sebuah pertanyaan mengenai tujuan akhir dalam proses sejarah

- Makna sejarah sebagai arti dari proses sejarah itu sendiri

- Makna sejarah sebagai arti dari tujuan dan manfaat pengkajian sejarah

- Makna sejarah sebagai pertanyaan mengenai arti pengkajian sejarah

Ketiga tafsiran di atas akan coba dijelaskan dalam pembahasan berikutnya, sedangkan tafsiran keempat mengenai arti pengkajian sejarah dianggap tidak membuka perspektif yang menarik sehingga dilewatkan oleh penulis. Karena tidak banyak yang bisa dikatakan mengenai arti dari semua kajian dan telaah sejarah dari buku-buku para sejarawan.

2. Makna dan Tujuan Proses Historis

Para ahli filsafat sejarah spekulatif membanggakan diri bahwa mereka dapat mengungkapkan apa yang merupakan tujuan proses historis, seperti Marx yang mengungkapkan tentang masayarakat tanpa kelas sebagai tujuan akhir dari proses historis yang terjadi pada masa itu di Eropa. Makna sejarah kemudian memiliki arti bahwa sejarah merupakan jalan agar tujuan-tujuan akhir itu dapat tercapai.

Disini timbul gagasan baru, yakni bahwa sejarah adalah sarana yang tidak memiliki kepentingan intrinsik, hanya sebagai alat agar tujuan akhirnya dapat dicapai. Dengan kata lain, bahwa apa yang kita lakukan dan alami hari ini, merupakan sumbangan untuk sebuah hari jauh di masa depan yang mungkin kita sendiri tidak akan melihatnya. Seperti para pejuang yang mati demi tujuan akhir kemerdekaan tercapai.

Pada akhirnya akan timbul pertanyaan, apakah tujuan akhir yang sudah dicapai itu memiliki tujuan lain? Sejarah memiliki tujuan di luar sejarah itu sendiri. Dan pastinya semua proses historis ini akan memiliki batas akhir, entah itu karena bencana yang menghancurkan seluruh umat manusia atau yang lainnya. Alam semesta ini sendiri fana, dan kelak semuanya akan musnah. Jika kita samakan tempat dan tujuan sejarah dengan kondisi alam semesta, maka kesimpulan yang didapat adalah proses sejarah menuju pada kemusnahan total. Dengan proses hsitoris terbukti sebuah kebenaran metahistoris,suatu kebenaran yang terletak diluar sejarah.

Tetapi, jika proses sejarah tidak memiliki makna, maka kita pun dapat memberinya makna. Kita memiliki kewajiban etis untuk menggambarkan hari depan kita, demikian pula kita dapat memberikan makna pada peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia. Pemberian makna ini tergantung pada kemampuan kita, dengan kesadaran penuh terhadap kewajiban etis kita bisa menggambarkan hari depan dan bagaimana kita bisa memberikan makna pada sejarah secara optimal.

3. Makna Proses Historis

Setelah adanya pengakuan bahwa proses sejarah secara intrinsik tidak memiliki makna dan kita dapat memberikannya makna, namun pemberian makna kepada sejarah tidak boleh dilakukan secara otonom. Meski makna sejarah tidak terkandung dalam fakta-fakta yang menyusun sejarah, namun pemberian makna pada sejarah harus didasarkan pada fakta-fakta tersebut.

Segala jerih payah para sejarawan dalam menyusun fakta-fakta sejarah dan menuliskannya ulang sehingga bisa dibaca oleh kita, disertai dengan penafsiran terhadap sejarah itu sendiri merupakan pemberian makna sejarah oleh para sejawaran.

4. Makna Pengkajian Sejarah

sejak zaman antik hingga abad ke-18, orang mengira bahwa sejarah dapat digunakan sebagai pembelajaran. Sejarah mengajarkan sesuatu kepada kita, dan para sejarawan harus bisa menunjukkan ajaran-ajaran apa saja yang bisa kita petik dari sejarah. Kita tidak bisa belajar dari masa depan, karena kita belum mengetahuinya, dan kita pun tak bisa belajar dari masa sekarang yang sedang kita jalani, karena kita belum mampu untuk mencerna peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa ini. Maka satu-satunya yang bisa dipelajari adalah masa silam, bahkan pengetahuan-pengetahuan alam yang ada sekarang ini berdasarkan penelitian-penelitian pada masa sebelumnya.

Pengkajian sejarah dapat mengajarkan kita bagaimana bertindak dalam menghadapi situasi tertentu, inilah latar belakang munculnya istilah “historia magistra” (Sejarah adalah guru kehidupan). Pendapat ini dibela oleh Nicollo Machiavelli, ia menulis dalam bukunya tentang Livius, bahwa dengan membanding-bandingkan berbagai peristiwa dari masa silam serta masa yang baru saja lewat, maka kita dapat menimba ajaran-ajaran praktis.

Namun kemudian, muncul kesangsian mengenai apakah mungkin kita belajar dari masa silam sedangkan setiap kurun waktu dalam sejarah memiliki ke’khas’an dan logikanya sendiri sehingga tak dapat dibandingkan antara satu dan yang lainnya.

Meskipun kita sudah mempercayai kemampuan para sejarawan dalam memberikan makna pada proses historis, dalam hal ini termasuk pula manfaat dari ajaran-ajaran di masa silam. Namun, ada faedahnya bila kita melihat masa kini sebagai sebuah tahap dalam suatu perkembangan historis yang panjang. Kita tidak akan sepenuhnya memahami apa yang terjadi hari ini tanpa mengetahui latar belakang sejarah mengenai sebab musabab terjadinya peristiwa tersbut. Sebagai contoh, peristiwa kerusuhan Mei 1998 dan demo mahasiswa untuk menggulingkan kekuasaan Soeharto. Kita tidak bisa melihat begitu saja peristiwa tersebut dan mengambil kesimpulan dari kejadian pada masa itu saja, namun kita juga harus bisa menilik latar belakang terjadinya peristiwa tersebut di tahun atau masa sebelumnya. Disinilah wawasan sejarah berperan dalam mempengaruhi pendapat dan penglihatan kita terhadap sebuah masalah yang terjadi. H. Lubbe, seorang sejarawan dan filsuf dari Swiss mengatakan bahwa ini adalah kegunaan sosial utama dari pengkajian sejarah.

Di sisi lain, pengkajian sejarah ternyata juga mengandung bahaya. Nietszche menekankan, bahaya-bahaya yang terkandung dalam sejarah. Ia khawatir bahwa perhatian kita terhadap sejarah akan melumpuhkan kemampuan kita dalam bertindak, karena setiap tindakan merupakan penolakan dari masa silam. Keeterpesonaan kita terhadap sejarah membuat orisinalitas dan kemampuan bertindak menjadi lumpuh.

Namun, nampaknya kekhawatiran Nietszche ini terlalu besar. Karena semenjak Orang-orang di Eropa Barat menyadari latar belakang historis mereka, kemampuan mereka dalam bertindak sama sekali tidak dilumpuhkan. Justru sebaliknya, mereka bertindak dalam kesadaran akan sebuah amanat sejarah. Maka dari itu, kiita tak perlu lagi menyangsikan kegunaan pengetahuan historis. Pengkajian sejarah, kesadaran historis modern, termasuk faktor-faktor penting yang menentukan proses historis. Di tengah bahaya pengkajian sejarah, kajian ini juga mengandung harapan yang bermanfaat bagi masa depan.

el.fietrynotes

www.lintas-copas.blogspot.com