Rabu, 05 Desember 2012

MALUKU, PUSAT REMPAH-REMPAH DUNIA

MALUKU, PUSAT REMPAH-REMPAH DUNIA



Rempah-rempah adalah biji kering,buah, akar,kulit kayu, atau vegetatif (bukan berasal dari buah/biji seperti batang, akar, ubi, tunas dan daun) yang digunakan sebagai zat tambahan dalam jumlah signifikan/tertentu untuk penguat rasa, warna, atau sebagai pengawet yang membunuh bakteri berbahaya atau menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Rempah-rempah biasanya dibedakan dengan tanaman lain yang digunakan untuk tujuan yang mirip, seperti tanaman obat, sayuran beraroma, dan buah kering.


Rempah-rempah merupakan barang dagangan paling berharga pada zaman prakolonial. Banyak rempah-rempah dulunya digunakan dalam pengobatan, tetapi sekarang peranan ini berkurang.

Jenis rempah yang terkenal adalah cengkeh, pala dan cendana adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.

Perjalanan rempah2 dari daerah asalnya di Maluku sampai menjadi rempah yang dikenal dan digunakan di seluruh dunia bergulir seiring dengan garis sejarah perdagangan rempah-rempah (spice trade).

3000 SM

Rempah-rempah mungkin telah digunakan oleh manusia sejak manusia mulai menggunakan api untuk memasak. Catatan pertama tentang penggunaan rempah-rempah adalah dari bangsa Assyria (bangsa yang tinggal di kawasan Iran, Irak, Turki, dan Suriah) sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Catatan tersebut menyebutkan mitos bahwa dewa-dewa bangsa ini meminum anggur wijen (sesame) pada malam sebelum dunia diciptakan, sementara diketahui bahwa asal wijen adalah dari India Selatan. Dari sini kita mendapatkan dua bukti sejarah yaitu pemakaian dan perdagangan rempah-rempah di jaman purbakala, sekitar 5000 tahun yang lalu.

2400 SM

Bukti selanjutnya berkaitan langsung dengan cengkeh. Dari penemuan arkeologi peradaban Sumeria (peradaban purba di selatan Mesopotamia, tenggara Irak) diketahui cengkeh sangat popular di Syria pada 2400 SM. Ini bukti yang sangat kuat bahwa perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Maluku adalah benar-benar purba.

1500 SM

Bangsa Mesir dan Somalia juga tercatat telah memanfaatkan rempah-rempah, baik untuk kuliner maupun pengobatan, sekitar 1500 SM. Semua bukti-bukti ini menunjukkan bahwa perdagangan antara Timur Tengah dan Cina, Asia Tenggara, India, serta Spice Islands telah dimulai di jaman purbakala. Ini juga merupakan indikasi betapa berharganya rempah-rempah, hingga dicari bangsa lain dengan peluncuran ekspedisi besar-besaran.

950 SM

Pada 950 SM bangsa Nabatean dari utara Arab mulai berekplorasi ke Cina dan India menempuh jalur daratan mengendarai karavan yang ditarik unta dan keledai. Jalur ini disebut Incense Route karena tujuan utamanya adalah mencari incense and rempah-rempah untuk bangsa Yunani. Jalur ini kemudian menjadi sepi setelah bangsa ini beralih ke jalur maritim serta mulai melibatkan bangsa dari selatan Arab. Letak semenanjung Arab yang strategis, di persimpangan antara Eropa, Afrika, dan Asia, ditambah jalur perdagangan melalui darat yang dirintis oleh Arab sebelumnya menjadikan bangsa Arab (utara maupun selatan) penguasa perdagangan rempah-rempah di abad ke-5 SM. Jalur perdagangan yang dirintis bangsa Arab menghubungkan Arab, Baghdad, India, Guangzhou (Cina), dan Spice Islands alias Kepulauan Maluku.

300 SM

Bangsa Arab dan bangsa Kanaan / Fenisia (sekitar Lebanon di masa sekarang) adalah yang pertama memperkenalkan rempah-rempah dari Asia ke benua Eropa. Bangsa Kanaan / Fenisia adalah pelaut yang tak mengenal kata takut. Mereka menyalurkan komoditas bangsa Arab dan Afrika ke kawasan Mediterania, seperti Yunani, Romawi, Spanyol, Perancis, juga Afrika Utara. Bangsa inilah yang medominasi perdagangan dan memperkenalkan rempah-rempah dari Asia, termasuk cengkeh di kawasan tersebut. Bangsa Fenisia akhirnya jatuh di tangan bangsa Romawi pada 332 SM. Sedangkan untuk mempertahankan dominasinya, bangsa Arab merahasiakan sumber rempah-rempah dari bangsa barat dengan mengarang dongeng yang sangat pelik tentang dimana dan bagaimana mereka mendapatkan rempah-rempah tersebut selama berabad-abad.


600SM – India

Catatan tertulis mengenai cengkeh ditemukan dalam kitab Weda, kitab suci bangsa Aria dari India Utara. Bangsa Aria adalah bangsa yang membangun peradaban Hindu dan Budha dan menyebarkannya ke seluruh penjuru Asia. Kitab Weda ditulis dalam bahasa Sansekerta pada tahun 1700 SM – 800 SM (era Hindu) dan 800 – 350 SM (era Budha). Bangsa Aria telah menggunakan rempah-rempah sejak awal peradabannya, namun perkenalan mereka dengan cengkeh tercatat dalam era Budha. Cengkeh diperkirakan mencapai India melalui Malaysia karena “lavanga” (bahasa Sansekerta untuk cengkeh) berasal dari bahasa Melayu, bunga lavanga. (Catatan: Cengkeh dalam bahasa Bali “wunga lawang” dan dalam bahasa Gayo “bungeu lawang”.) Cengkeh juga muncul dalam cerita epik Ramayana yang ditulis oleh bangsa India antara tahun 350 SM dan 1M.Antara 600 SM – 1400 M para misionaris dan pedagang India menjelajah kawasan Asia untuk menyebarkan ajaran Hindu dan Budha serta memperdagangkan rempah-rempah, salah satu komoditi terpenting saat itu. Penjelajahan mereka meliputi Cina dan seluruh Asia Tenggara, termasuk kepulauan Maluku dimana mereka mendapatkan rempah2.350 SM – Melayu

Tidak hanya India saja yang aktif berdagang rempah-rempah. Sekitar tahun 350SM bangsa Melayu dari semenanjung Malaysia membuka jalur perdagangan Malaka, yakni jalur laut yang routenya mencakup Cina, Malaka, India dan Sri Lanka.206 SM – Cina

Dari Cina tercatat Dinasti Han, 206 BC / SM – 220 AD / M, memanfaatkan keharuman cengkeh sebagai penyegar nafas. Semua yang hendak bertemu dan berinteraksi dengan Kaisar Cina diharuskan mengulum atau mengunyah cengkeh untuk menghindarkan kaisar dari bau nafas tak segar.200 SMBukti linguistik dan arkeologi menunjukkan bahwa penduduk Molluca (kepulauan Maluku) telah memperdagangkan rempah2 sampai ke Cina, India, bahkan Arab nun di barat sana.100 SM

Pedagang Arab membuka jalur perdagangan maritim ke India, Cina, dan seluruh kepulauan Melayu dan berdagang langsung dengan penduduk Maluku.

Bangsa Eropa Menemukan Jalan ke Asia

Era Romawi

Bisnis perdagangan rempah-rempah yang didominasi oleh bangsa Arab selama 600 tahun sangatlah ‘basah’. Bangsa barat, dalam hal ini Romawi, sangat penasaran akan asal rempah-rempah ini dan bertekad mematahkan monopoli bangsa Arab. Pada 332 SM, Alexander The Great menaklukan Mesir (yang juga merupakan titik transit penting dari Spice Route, menghubungkan Kerala dengan Afrika Utara dan Mediterania) dan menetapkan Alexandria sebagai pelabuhan untuk perluasan spice trade ke Eropa via Mediterania (Yunani dan Romawi) dan titik penarikan pajak ekspor bagi bangsa Arab yang hendak berdagang melalui Alexandria.


Alexandria menjadi semakin makmur dengan pemasukan bea cukai dari perdagangan rempah-rempah ini. Kota yang sebelumnya hanyalah sebuah kota tua ini kini berkembang menjadi pusat kekuatan angkatan laut dan militer, sedemikian kuatnya hingga pada 150 SM kawasan laut Mediterania disebut “Mare Nostrum” (Our Sea).


Pada era yang sama, 146SM, bangsa Yunani jatuh dan banyak orang Yunani yang menjadi budak dan pelayan bangsa Romawi. Bangsa Yunani dikenal sebagai bangsa yang menggunakan banyak rempah-rempah dalam masakannya. Dengan banyaknya jurumasak Yunani yang dibawa ke Romawi sebagai budak, gaya kuliner Yunani pun mulai diadaptasi oleh bangsa Romawi dan hal ini menjadikan bangsa Romawi konsumen rempah-rempah yang sangat besar. Pada 80 SM Alexandria resmi diserahkan oleh Yunani ke tangan Romawi dan menjadi pusat perdagangan international terbesar dan pasar utama perdagangan rempah-rempah yang dikontrol oleh bangsa Arab, khususnya Nabataeans dari Arab utara yang bersekutu dengan Roma. Namun, beberapa tua-tua bangsa Romawi mulai mengkhawatirkan akan tingginya kebutuhan mereka akan rempah-rempah dan arus emas Romawi yang mengalir deras ke Asia karenanya. Salah satu tua-tua itu adalah Pliny the Elder, yang bertekad untuk menemukan kebenaran tentang sumber rempah-rempah daripada percaya dengan dongeng yang diciptakan oleh bangsa Arab.


Dari catatan sejarah diketahui bahwa Yunani (sekitar 116 SM) berhasil berlayar dengan dukungan ‘trade winds’ mencapai Kerala, India. Ini berdampak terbukanya perdagangan rempah-rempah bangsa Mesir dengan India (sangat kecil dibandingkan dengan perdagangan bangsa Arab). Namun, ketika Romawi mengambil alih Alexandria, jalur perdagangan dan pengetahuan tentang ‘trade winds’ ini seakan hilang.


Bangsa Romawi akhirnya menyerang Arab pada tahun 24 SM. Tetapi serangan ini tidak berhasil dan malah mempermalukan Romawi, yang semakin bertekad untuk mematahkan monopoli Arab. Pengetahuan tentang perdagangan rempah-rempah akhirnya lambat laun terkumpul dan pada tahun 40 M seorang pedagang Yunani bernama Hippalus mengungkap rahasia ‘East Indian trade winds’, rahasia yang berhasil dikubur oleh bangsa Arab selama hampir satu milenium. Ternyata, monsoon yang berperan dalam pertumbuhan lada di India berbalik arah di pertengahan tahun sehingga perjalanan dari Laut Merah (pantai Mesir) ke India dan sebaliknya dapat dicapai dalam waktu jauh lebih singkat dan aman dari yang selama ini bangsa Romawi bayangkan. Sejak itu hubungan perdagangan Romawi langsung dengan India tumbuh subur dan monopoli Arab terpatahkan.



Perniagaan telah membuat kaum muslim mengalami masa kejayaan …. namun zaman keemasan itu telah berlalu karena mereka kurang adaptif dan mulai tergiur mengemplangkan firman Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual-beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

[Al Baqarah (2) : 282



www.lintas-copas.blogspot.com