Selasa, 11 Desember 2012

Memangnya Indonesia Benar-benar Ada?

Sepanjang saya hidup, tak pernah sedetik pun saya kehilangan rasa bangga akan negara saya, Indonesia. Dalam deskripsi yang paling sederhana, saya membanggakan Indonesia sebagai negara yang “paling mudah untuk dikenali di peta dunia”. Dan memang begitu kenyataannya, bukan?


Di peta dunia, area negara kita merupakan area yang sangat visible. Di antara negara-negara lain yang terletak di benua-benua yang kita mungkin tak tahu persis negara apa di mana, Indonesia adalah satu tempat yang tak akan pernah dilewatkan mata setiap orang yang memandang peta dunia.



Namun pikiran saya sedikit terkacaukan ketika saya mengenal seorang “bule” dari Oklahoma, US. Dia seorang sarjana double degree sebuah universitas di US dengan GPA 4,0. Saya lantas mengemukakan kebanggaan kecil ini kepadanya. Dan betapa terkejutnya saya ketika dia menjawab, “No, Indonesia is very hard to point on the map.




Serius?



Pertanyaan, “Kamu merasa kesulitan nggak kalau disuruh nunjukin Indonesia di peta?” lantas saya ajukan ke beberapa teman dan kenalan WNA yang lain. Rata-rata dari mereka memberikan jawaban yang sama.



Kenyataan ini benar-benar membuat saya galau. Bukan galau ala ABG labil yang sok merasa hidupnya paling menderita, tapi galau akan satu pertanyaan besar buat diri saya, “Apa yang mereka lihat saat melihat daerah ini di peta?”





Dan saya pun dihadapkan pada kenyataan bahwa orang-orang asing itu tidak melihat Indonesia dalam peta Asia Tenggara, yang mereka lihat adalah pulau-pulau besar: Sumatra, Java, Borneo, Celebes, dan New Guinea, serta beberapa pulau-pulau kecil lain yang mereka tidak hafal namanya. Yang mereka tau, Indonesia ada di antara pulau-pulau itu.



Lantas, siapa yang pertama kali menciptakan kata “Indonesia?” dan siapa pula yang mendeskripsikan lokasi geografisnya seperti yang sekarang kita kenal?



Terima kasih kepada Internet dan WikiPedia, saya memahami bahwa memang sejak dahulu kala, orang-orang dari luar melihat daerah ini sebagai sebuah kepulauan. Bukan pulau-pulau besar dan kecil yang berdiri sendiri-sendiri. Melalui berbagai kejadian, terciptalah istilah Indonesia untuk menyebut gugusan kepulauan di sebelah tenggara Asia.



Lalu kemudian masuklah peran politik. Nama “Indonesia” secara resmi digunakan untuk menyebut identitas bangsa dalam Sumpah Pemuda 1928. Di kongres itu, berdatanganlah pemuda-pemudi dari berbagai pulau di Indonesia, minus Papua, yang merasa dirinya satu atas dasar persamaan nasib.




Nasib? Nasib apa? Nasib dijajah oleh kolonialisme Belanda selama beratus tahun lamanya dengan nama “Hindia Belanda”. Nah, hal ini menjawab potongan pertanyaan berikutnya: “Mengapa lokasi geografis Negara Republik Indonesia kok ‘nanggung’”? Nggak semua area di Kalimantan, Timor, dan Papua jadi wilayah RI kan? Ternyata penyebabnya adalah karena perbedaan “majikan”. Pulau Kalimantan berbagi daerah dengan sebagian wilayah Malaysia, yang dulu menjadi jajahan Britania. Pulau Timor juga milik Timor Leste, yang dulu dijajah Portugis. Pulau Papua dibelah tengah dan ada negara Papua Nugini di sisi timur, dulu menjadi koloni Britania. Saat proklamasi kemerdekaan, sebenarnya para Founding Fathers kita ingin memasukkan wilayah-wilayah tersebut dalam NKRI, namun mereka mengurungkannya. Sebuah keputusan yang bijak, karena jika dahulu hal itu benar-benar dilaksanakan, musuh kita pada jaman mempertahankan kemerdekaan (1945-1949) tidak cuma Belanda, bukan? Satu musuh saja sudah kepayahan, apalagi tiga? :D



Inilah yang menjadi perenungan saya, saya baru menyadari ternyata kata “Indonesia” itu punya dua arti. pertama, Indonesia sebagai negara, dengan wilayah seperti di atas dan yang punya nama resmi Republic of Indonesia. Kedua, Indonesia sebagai kawasan, yaitu kepulauan besar yang terletak di sebelah tenggara benua Asia. Layaknya arti kata “Skandinavia”, yang berarti wilayah di Eropa Utara yang memiliki koneksi historis-budaya-bahasa dengan tiga negara di dalamnya, yaitu Denmark, Norwegia, dan Swedia.




Tapi, tunggu dulu. benarkah Negara Republik Indonesia ini berdiri karena memang seharusnya pulau-pulau di kawasan ini menyatu dalam satu negara, atau ini semua hanya perebutan kekuasaan wilayah dari penjajah? Bagaimana jika dahulu Belanda hanya menjajah Sumatra dan Borneo, atau hanya Jawa dan Nusa Tenggara? Seperti apa bentuk wilayah Indonesia sekarang? Akankah sama?



Atau bagaimana jika bahkan dahulu kolonialisasi eropa tidak mencapai daerah ini? Bisakah kita berimajinasi (Tanpa khawatir dituduh makar) bahwa jika hal itu yang terjadi, yang ada sekarang adalah negara Jawa, negara Borneo, negara Nusa Tenggara, dan lain sebagainya yang menjaga kerukunan satu sama lain?

Apakah “Indonesia” itu benar-benar ada, dan sudah sebagaimana mestinya?

Beltsazar A K



www.lintas-copas.blogspot.com